Advertisement
Hasilnya, sejumlah dokumen kembali berhasil dibawa penyidik.
Advertisement
Kedatangan penyidik untuk megambil sejumlah data pelengkap agar kematian ibu dan anak yang menjadi kerangka terkuak. Tim terdiri dari Asosiasi Psikologi Forensik Indonesia (APSIFOR), Inafis dan Jatanras.
Advertisement
Namun tidak dijelaskan detil dokumen tersebut.
"Ada beberapa dokumen yang tentunya oleh ahli psikologi diharapkan bisa membantu dalam mempelajari pola kehidupan korban dan bisa menggali motif-motifnya," kata Kasubdit Jatanras Polda Metro Jaya, AKBP Samian, Kamis (14/9).
merdeka.com
Advertisement
Advertisement
Diharapkan segera bisa diketahui penyebab kematian Grace (64) dan David (38).
"Ya kita kembali lagi untuk melaksanakan olah TKP lanjutan. Hari ini kita datang ke TKP bersamaan dengan tim dari Apsifor dan Inafis serta Jatanras. Kita melakukan olah TKP lanjutan untuk mencari bukti-bukti tambahan, untuk membuat terang perkara, karena kita melakukan penyelidikan secara scientific crime investigation yang melibatkan interprofesi. Diharapkan kita bisa mengumpulkan alat bukti sebanyak-banyaknya yang bisa membuat terang perkara ini," ujarnya.
Selain membawa dokumen, penyidik juga membongkar satu ruangan di rumah tersebut. Pembongkaran dilakukan karena ruangan tersebut dalam kondisi terkunci dan tidak ditemukan kunci untuk membukanya.
Advertisement
merdeka.com
"Kebetulan ada satu tempat yang memang terkunci dan kuncinya juga tidak ditemukan sehingga nanti kita coba menggunakan ahli yang bisa buka, sudah kita buka. Di situ hanya terdapat barang-barang rumah tangga saja," tukasnya.
Sejauh ini sudah 15 saksi yang diperiksa. Saksi baru adalah dari pihak sekolah David.
"Saksi sekarang sudah diklarifikasi 15. Saksi nambah satu itu dari sekolahan. Dari sekolahan anaknya yang bernama David," bebernya.
Mengenai hasil sidik jari, saat ini sudah keluar. Namun Samian tidak menjelaskan mengenai hasilnya.
"Iya sudah (keluar hasil). Nanti dari ahli finger print labfor akan menejelaskan," pungkasnya.
Advertisement