Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Polisi bersiaga meski padepokan Dimas Kanjeng di Samarinda ditutup

Polisi bersiaga meski padepokan Dimas Kanjeng di Samarinda ditutup Padepokan Dimas Kanjeng di Samarinda. ©2016 Merdeka.com/Nur Aditya

Merdeka.com - Pemkot Samarinda menutup sementara padepokan Taat Pribadi Majelis Ta'lim Daarul Ukhuwah, di Jalan Ir Sutami RT 22, Kelurahan Karang Asam Ulu, Kecamatan Sungai Kunjang, Samarinda, Kalimantan Timur. Kepolisian meningkatkan pengawasan berlapis pascapenutupan.

Sekira pukul 15.00 WITA sore ini, merdeka.com kembali menyambangi padepokan. Sebuah mobil X-Trail bernomor polisi KT 999 NU dan sepeda motor metik Honda Beat yang sebelumnya terparkir di teras padepokan, sudah tidak terlihat lagi. Kini hanya terlihat motor Honda Scoopy bernomor polisi KT 2382 IG di teras padepokan. Tidak ada satupun orang yang terlihat di padepokan.

Tertera tulisan di kertas karton terpasang di dinding padepokan berisi 'Berdasarkan kesepakatan bersama maka Majelis Ta'lim Daarul Ukhuwah, untuk sementara aktivitasnya dihentikan/ditutup sementara. Demi menjaga keamanan lingkungan. Demikian pemberitahuan ini disampaikan. Untuk menjadi perhatian dan dilaksanakan sebagaimana mestinya'. Sembilan orang bertandatangan mulai dari Kesbangpol Kota Samarinda hingga tokoh masyarakat setempat.

"Ya, pascapenutupan, tentu kita tingkatkan pengawasan. Baik dari Bhabinkamtibmas, maupun dari aparat Polsekta Sungai Kunjang," kata Kapolresta Samarinda Kombes Pol Setyobudi Dwiputro, kepada merdeka.com, Kamis (6/10) sore.

"Kita lakukan pengawasan berlapis lah, juga dari Sabhara Polres. Tentunya untuk memberi rasa aman warga setempat, di sekitar padepokan," ujar dia.

Pengawasan berlapis cukup beralasan. Sebab penutupan padepokan oleh Pemkot yang dilakukan pagi tadi, bikin warga setempat sedikit khawatir, para pengikut padepokan Taat Pribadi itu, akan mendatangi padepokan setelah membaca pemberitaan terkait penutupan padepokan.

"Ada kekhawatiran dari warga, kalau pengikut padepokan nanti pada datang ke sini, untuk memastikan penutupan ini," kata Ketua RT 22 Neneng, saat berbincang bersama merdeka.com

Neneng menerangkan, padepokan yang juga rumah milik Sumaryono yang diberi gelar Sultan Agung oleh Dimas Kanjeng Taat Pribadi itu, memang dijaga bergantian oleh penjaganya.

"Terkadang melihat ke rumah saya, terlihat agak sinis. Mungkin karena dari RT proaktif berbicara ke wartawan, ke tetangga, kepada kepolisian, Camat dan Lurah," ujarnya.

"Serba salah, kalau bertindak cepat salah. Kalau diam saja, dikira membiarkan, mendukung. Khawatir juga kalau ada aksi warga sekitar kan? Yang pasti, warga sekitar padepokan ini sudah benar melaporkan ke saya sebagai ketua RT, tidak langsung mendatangi padepokan," tambahnya.

Para pengikut padepokan, diperkirakan akan mengetahui informasi penutupan padepokan ini, Jumat (7/10) besok, melalui pemberitaan media lokal.

"Ini tetap dalam pantauan Bhabinkamtibmas. Karena besok mungkin baru banyak yang tahu, setelah baca berita, dan aktivitas pengajian tiap malam Rabu tidak ada lagi," ungkapnya.

"Ada beberapa orang yang datang ke depan padepokan, sambil melihat ke dalam padepokan, setelah muncul berita-berita tentang padepokan ini," pungkasnya. (mdk/cob)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP