Polda Metro Jaya menjawab kabar keterlibatan polisi di kasus peggerebekan industri rumahan (clandestine laboratory) narkotika golongan I jenis Zenith berskala besar di wilayah Mijen, Semarang, Jawa Tengah. Polisi nakal itu berpangkat Bharaka (Bhayangkara Kepala) berinisial P.
Demikian dikatakan Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto. "Benar dan masih didalami peran sertanya, mohon waktu ya," katanya dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (14/4).
Budi juga menambahkan dalam pengungkapan industri narkoba rumahan (clandestine laboratory) itu, dua orang telah ditangkap dan delapan orang lainnya berstatus daftar pencarian orang (DPO).
Jenis narkotika yang diproduksi oleh industri rumahan tersebut adalah golongan I jenis Zenith berskala besar dari fasilitas tersembunyi (clandestine laboratory) di Kecamatan Mijen, Semarang, Jawa Tengah. Budi menjelaskan penangkapan bermula dari laporan masyarakat mengenai adanya peredaran obat berbahaya di wilayah Jakarta Barat.
"Melalui serangkaian penyelidikan dan pengintaian, petugas mula-mula mengamankan seorang pria berinisial P di kawasan Penjaringan, Jakarta Utara, dengan barang bukti 120.000 butir Zenith," katanya dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.
Berangkat dari keterangan awal P diduga berperan sebagai kurir di bawah kendali tersangka utama berinisial D yang mengoperasikan pabrik dari luar kota. Tim gabungan kemudian bergerak cepat menuju Semarang, Jawa Tengah, untuk melakukan pengejaran.
Advertisement
Pada Kamis (9/4), petugas berhasil meringkus tersangka D di kediamannya serta menemukan sebuah gudang yang diubah menjadi laboratorium produksi narkotika.
"Di lokasi tersebut, polisi menyita 186.000 butir tablet Zenith siap edar serta 1,83 ton bahan baku prekursor yang siap dicetak menjadi jutaan butir obat terlarang," kata Budi.
Advertisement
Budi menambahkan bahwa fokus utama dalam pengungkapan ini bukanlah nilai materiil, melainkan dampak keselamatan publik.
"Keberhasilan menggagalkan peredaran lebih dari 4,3 juta butir Zenith ini secara langsung telah menyelamatkan sedikitnya 4,3 juta jiwa anak bangsa dari risiko kerusakan saraf permanen hingga kematian," katanya. Seperti dikutip Antara.