Petani gagal panen akibat banjir, harga beras diprediksi terus naik
Merdeka.com - Intensitas hujan yang tinggi akhir-akhir ini membuat sejumlah sungai di Kabupaten Sukoharjo meluap. Akibatnya ratusan petak sawah tergenangi air. Kondisi tersebut membuat tanaman padi membusuk hingga tak sedikit petani yang mengalami gagal panen.
Para petani saat ini tak mempunyai stok gabah yang cukup bahkan nyaris tidak ada. Kondisi tersebut memicu kenaikan harga gabah dan beras cukup signifikan.
"Hujan dan banjir membuat sawah kami kebanjiran. Saya sempat tidak menggiling padi, saya terpaksa berhenti. Karena memang mencari gabah sangat sulit," ujar Marjono, pemilik penggilingan padi Desa Parangjoro, Grogol, Senin (18/12).
Dia menjelaskan, saat kondisi normal, untuk mencari 5 sampai 6 ton gabah sangat mudah. Namun untuk kondisi sekarang, 2 ton saja sudah kesulitan.
Selain terbatasnya stok gabah, harga juga semakin naik. Dari harga semula sekitar Rp 5 ribu per kilogram, kini harga gabah basah mencapai Rp 5.300 dan gabah kering mencapai Rp 5.600 per kilogramnya.
"Ini otomatis ikut mendongkrak harga beras dengan rata-rata kenaikan harga mencapai Rp 500," katanya.
Lebih lanjut, ia mengatakan, para petani memprediksi tren kenaikan harga beras akan terus bertambah hingga awal tahun 2018 mendatang. Selain saat ini belum kembali memulai tanam, permintaan kebutuhan bahan pokok menjelang Natal dan Tahun Baru juga meningkat, sehingga dipastikan harga akan terus naik.
"Harga gabah dan beras akan terus naik, karena memang stok yang sangat terbatas dan petani belum berani tanam kembali karena cuaca kurang bagus. Apalagi menjelang perayaan hari besar dan akhir tahun seperti ini, biasanya permintaan semakin meningkat," kata dia.
(mdk/lia)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya