KAPANLAGI NETWORK
MORE
  • FIND US ON

Petaka e-KTP, dari Kelapa Gading sampai Amerika

Minggu, 13 Agustus 2017 05:06 Reporter : Randy Ferdi Firdaus
Novel Baswedan. ©2017 merdeka.com/istimewa

Merdeka.com - Gila, mungkin satu kata itu yang mencerminkan korupsi yang terjadi di pengadaan proyek e-KTP di DPR dan Kemendagri. Sejumlah anggota DPR sudah diperiksa KPK, bahkan ada yang telah ditetapkan sebagai tersangka.

Selain merugikan negara Rp 2,3 triliun menurut KPK, patgulipat dalam penganggaran proyek e-KTP ini juga melibatkan sejumlah petinggi partai. Misalnya, Ketua Fraksi Golkar (saat itu) Setya Novanto yang sekarang jadi ketua umum Golkar dan Ketua Fraksi Partai Demokrat Anas Urbaningrum yang kini berada di balik jeruji besi Lapas Sukamiskin.

Persoalan bertambah pelik, ketika salah satu saksi kunci skandal mega korupsi proyek e-KTP, Johannes Marliem tewas di kediamannya di Los Angeles, Amerika Serikat, Kamis (10/8) dini hari waktu setempat. Johannes pernah diperiksa KPK untuk mendalami kasus e-KTP di Singapura dan Amerika beberapa waktu lalu.

Marliem dikabarkan tewas bunuh diri. Petaka ini tak lama setelah dirinya mengaku punya data 500 Giga Bite tentang korupsi e-KTP yang dimuat harian nasional Indonesia beberapa waktu lalu.

johannes marliem ©2017 twitter.com




Marliem adalah penyedia produk automated finger print identification system (AFIS) merek L-1 untuk proyek e-KTP, seperti yang disebutkan dalam dakwaan Sugiharto dan Irman.

Polisi Amerika belum merilis secara pasti penyebab kematian Marliem. Begitu juga KPK, belum tahu penyebab kematian Marliem, ditembak atau bunuh diri seperti yang diberitakan belakangan ini.

"Dari informasi yang diterima KBRI Washington DC dari otoritas keamanan AS, jenazah yang ditemukan meninggal adalah Johannes Marliem, kata Juru bicara Kementerian Luar Negeri Armanatha Nasir saat dihubungi merdeka.com, Sabtu (12/8).

"Johannes Marliem ditemukan tewas dini hari 10 Agustus 2017 di Los Angeles," ujar dia.

Musibah yang menimpa orang-orang yang terlibat dalam korupsi e-KTP bukan hanya terjadi pada Marliem. Penyidik utama KPK, Novel Baswedan juga mendapat teror dari orang yang belum diketahui siapa pelakunya.

Wajah Novel disiram air keras pada pertengahan April 2017 lalu. Gilanya lagi, Novel disiram usai ibadah salat Subuh di masjid dekat rumahnya kawasan Kelapa Gading, Jakarta. Hingga kini, kasusnya masih gelap. Meskipun Presiden Joko Widodo sudah menginstruksikan Kapolri Jenderal Tito Karnavian untuk mengungkap dalang penyiraman Novel.

Novel Baswedan usai operasi mata di Singapura ©2017 Merdeka.com


Gilanya lagi, Novel merasa tak yakin bahwa kasus penyiramannya ini bisa diungkap oleh polisi. Novel mengungkap, ada keterlibatan jenderal polisi di dalam kasusnya. Menurut dia, ada dua kubu di Polri yang ingin melindungi dan mencelakainya.

"Kalau ditangani dengan serius tetapi setelah tiga bulan saya yakin Polri enggak berani ungkap perkara ini," kata Novel saat wawancara khusus dengan Najwa Shihab dalam acara Mata Najwa di Metro TV seperti dikutip merdeka.com, Rabu (26/7).

Sejumlah pihak telah mendesak agar kasus penyiraman Novel ini dibentuk tim pencari fakta. Sayang, wacana ini tak mendapatkan tanggapan serius dari Presiden Jokowi.

Jangan sampai jatuh korban ketiga dari kasus korupsi e-KTP. [rnd]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.