Pesta Adat Lom Plai Kaltim 2026, Kokohkan Tradisi Dayak Wehea di Tengah Modernisasi
Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) berkomitmen melestarikan budaya melalui Pesta Adat Lom Plai 2026, sebuah perayaan sakral yang mengukuhkan identitas Dayak Wehea di tengah gempuran modernisasi.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) terus menunjukkan komitmen kuat dalam memperkuat pelestarian nilai-nilai tradisi yang telah mengakar dalam masyarakat. Hal ini diwujudkan melalui penyelenggaraan rangkaian Pesta Adat Lom Plai 2026 di Desa Nehas Liah Bing, Kabupaten Kutai Timur. Perayaan ini menjadi simbol keteguhan masyarakat Dayak Wehea dalam menjaga identitas budayanya.
Pesta adat tahunan ini bukan sekadar perayaan syukur atas hasil panen melimpah, tetapi juga sebuah manifestasi nyata dari warisan leluhur. Kegiatan ini menjadi daya tarik wisata budaya unggulan yang berhasil masuk dalam kalender Karisma Event Nusantara (KEN) 2026. Kehadiran Pesta Adat Lom Plai diharapkan dapat menarik perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara.
Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kaltim, Ririn Sari Dewi, menegaskan bahwa acara ini sangat penting untuk pelestarian budaya. Ririn menyatakan bahwa Pesta Adat Lom Plai merupakan cerminan keteguhan masyarakat Dayak Wehea dalam mempertahankan tradisi. Prosesi ini berlangsung mulai bulan Maret hingga April 2026 dengan berbagai ritual sakral.
Manifestasi Budaya Dayak Wehea yang Mengakar
Pesta Adat Lom Plai menjadi perwujudan nyata dari nilai-nilai luhur dan identitas budaya masyarakat Dayak Wehea. Perayaan ini melampaui sekadar ungkapan syukur atas panen, namun juga berfungsi sebagai benteng pelestarian di tengah arus modernisasi yang kian pesat. Masyarakat Dayak Wehea secara turun-temurun menjaga tradisi ini.
Ririn Sari Dewi menjelaskan, "Pesta adat Lom Plai bukan sekadar perayaan syukur atas hasil panen, melainkan manifestasi nyata dari keteguhan masyarakat Dayak Wehea dalam menjaga identitas budaya di tengah arus modernisasi." Pernyataan ini menegaskan betapa pentingnya acara tersebut bagi komunitas adat. Melalui Lom Plai, generasi muda diajak untuk memahami dan menghargai akar budaya mereka.
Keunikan Pesta Adat Lom Plai menjadikannya salah satu daya tarik wisata budaya unggulan Kaltim. Acara ini telah diakui dan masuk dalam kalender Karisma Event Nusantara (KEN) 2026. Pengakuan ini diharapkan dapat meningkatkan promosi dan kunjungan wisatawan ke Kalimantan Timur.
Rangkaian Sakral Pesta Adat Lom Plai
Rangkaian Pesta Adat Lom Plai diawali dengan prosesi sakral yang penuh makna, dimulai pada 23 Maret 2026. Ritual pertama adalah Ngesea Egung, yaitu pemukulan gong sebagai tanda dimulainya seluruh rangkaian upacara adat. Prosesi ini menandai dimulainya serangkaian kegiatan yang akan berlangsung selama lebih dari satu bulan.
Setelah Ngesea Egung, masyarakat adat melaksanakan Laq Pesyai dengan berbondong-bondong menuju hulu Sungai Wehea. Mereka mengumpulkan buah hutan dan rotan yang akan digunakan sebagai perlengkapan upacara. Kegiatan ini mencerminkan hubungan erat masyarakat dengan alam dan kearifan lokal mereka.
Prosesi kemudian berlanjut dengan ritual Naq Pesyai Duq Min dan Wet Min. Ritual ini melambangkan pembuatan batas wilayah hulu serta hilir kampung menggunakan anyaman rotan. Batas-batas ini memiliki makna spiritual dan sosial yang mendalam bagi komunitas Dayak Wehea.
Keunikan budaya Wehea juga terlihat pada ritual Ngelwung Pan, di mana para perempuan adat melakukan ritual spiritual secara tertutup. Ritual ini dilaksanakan di bawah rumah keturunan Hepui, menunjukkan peran penting perempuan dalam menjaga tradisi spiritual. Semua ritual ini dijalankan dengan penuh kekhusyukan dan penghormatan terhadap leluhur.
Puncak Perayaan dan Harapan Pelestarian Budaya
Memasuki bulan April, warga adat mulai membangun pondok darurat di pinggir sungai dalam tradisi Naq Jengea. Persiapan ini dilakukan menjelang hari puncak perayaan Pesta Adat Lom Plai. Pembangunan pondok ini merupakan bagian tak terpisahkan dari seluruh rangkaian acara.
Puncak perayaan yang dikenal sebagai Bob Jengea, dimeriahkan dengan berbagai atraksi budaya yang memukau. Acara ini meliputi pawai budaya yang meriah, penampilan tari Hudoq yang mistis, hingga atraksi perang-perangan di atas sungai yang disebut Seksiang. Kemeriahan ini menarik perhatian banyak pengunjung.
Seluruh rangkaian upacara adat akan ditutup dengan ritual pembersihan kampung, Embos Epaq Plai, pada 29 April 2026. Ritual ini bertujuan untuk mengusir hal buruk dan memohon keberkahan untuk musim tanam mendatang. Penutupan ini menjadi simbol harapan akan masa depan yang lebih baik.
Ririn Sari Dewi berharap kolaborasi antara pemangku adat dan pemerintah daerah dapat terus menjaga keberlanjutan tradisi ini. "Kami berharap kolaborasi antara pemangku adat dan pemerintah daerah dapat terus menjaga keberlanjutan tradisi ini sebagai warisan intelektual bangsa," kata Ririn. Hal ini menunjukkan pentingnya sinergi untuk melestarikan warisan budaya yang tak ternilai.
Sumber: AntaraNews