Gedung Negara Grahadi di Surabaya, salah satu bangunan bersejarah dan cagar budaya, menjadi korban amukan massa dalam aksi demonstrasi ricuh pada Sabtu malam (30/8). Gedung ikonik itu hangus terbakar setelah dilempar bom molotov oleh kelompok massa yang tak terkendali.
Padahal, sebelum kerusuhan pecah, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama Pangdam V/Brawijaya sempat menemui massa untuk meredakan ketegangan. Namun upaya itu gagal menghentikan aksi anarkis yang berujung pada pembakaran Grahadi.
“Iya tentu itu bagian dari cagar budaya, kita semua prihatin bahwa bagian barat Gedung Grahadi ternyata dilempari molotov juga,” kata Khofifah di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (1/9).
Advertisement
Banyak Pelaku Masih Anak-Anak
Khofifah menyebut sejumlah orang yang ditahan terkait insiden itu masih berusia 15–16 tahun. Kapolda Jawa Timur pun memutuskan menyerahkan mereka kembali kepada pihak keluarga.
Hal ini diperkuat pernyataan Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak dalam unggahan di Instagram resminya mengaku telah menemui orangtua pelaku kerusuhan. Ia mengungkap lebih dari 50 pelaku kerusuhan ternyata anak di bawah umur.
“Ternyata 50 lebih adalah anak di bawah umur, dan mereka saat didalami tidak punya motif politik sama sekali, hanya ikut-ikutan,” tulis Emil dalam unggahan Instagramnya.
Menurut Emil, anak-anak itu sebenarnya tidak memiliki kemampuan teknis untuk merakit bom molotov. Ia menilai mereka hanya dimanfaatkan oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab.
“Bahaya sekali anak-anak ini berada di luar dalam situasi yang bisa berhadapan dengan api, lemparan batu, dan kemudian diperalat oleh orang yang kemudian memperenjatai mereka,” katanya.
Ia pun menegaskan, aktor intelektual yang memanfaatkan anak-anak harus diproses hukum.
“Orang tua anak-anak ini merasa sangat sedih dan kecewa, namun saya berharap mereka tetap tegar dan tidak menyerah untuk mendidik dan membina anak-anak mereka,” tambah Emil.
Advertisement
Dikembalikan dengan Pendampingan
Kapolrestabes Surabaya memastikan anak-anak yang ditangkap dikembalikan dalam kondisi selamat kepada orang tua masing-masing.
Proses ini turut dikawal Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3AK), Karo Kesra, dan Karo Hukum untuk memastikan ada pembinaan berkelanjutan.
“Kita bukan sedang bersikap lembek kepada anak-anak ini, namun kita juga tetap membina, mendidik, dan menjadikan mereka generasi yang lebih baik bagi masa depan bangsa,” tegas Emil.
Sebagai catatan, kantor Wakil Gubernur Jawa Timur yang berada di kompleks Gedung Negara Grahadi turut hangus terbakar dalam kerusuhan tersebut.