Periode Januari hingga Mei, 78 Orang Meninggal Dunia Akibat DBD

Jumat, 26 Juni 2020 01:33 Reporter : Aksara Bebey
Periode Januari hingga Mei, 78 Orang Meninggal Dunia Akibat DBD Nyamuk Aedes Aegypti. ©REUTERS/Paulo Whitaker

Merdeka.com - Sepanjang Januari hingga Mei 2020, Pemerintah Provinsi Jawa Barat mencatat ada 78 orang meninggal dunia akibat demam berdarah dengue (DBD). Jumlah itu berasal dari ribuan kasus yang terjadi di sejumlah kabupaten kota.

Berdasarkan data yang berhasil dihimpun, peningkatan kasus DBD di Jawa Barat berlangsung dinamis. Pada Januari, terdapat 2.213 kasus DBD dengan 20 orang yang meninggal. Pada Februari terdapat 2.479 kasus dengan 18 orang meninggal dunia.

Lalu, pada Maret terdapat 2.942 kasus DBD dengan 23 orang meninggal dunia. Selanjutnya, pada April terdapat 888 kasus dengan angka meninggal dunia sebanyak 10 orang. Sedangkan bulan Mei ada 7 orang yang meninggal dunia dari total 759 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Barat, Berli Hamdani mengatakan hal ini perlu diwaspadai oleh semua pihak. Terlebih, pada saat pandemi Covid-19 yang terjadi, ada kesulitan untuk melakukan fogging.

"Pada saat pandemi seperti sekarang kan masyarakat sering tinggal di rumah. (fogging) Tentu berbahaya karena yang disemprotkan dengan asap tersebut adalah insektisida," ujar dia, Kamis (25/6).

Salah satu yang bisa dilakukan adalah melakukan pencegahan dengan menjaga kebersihan lingkungan, terutama tempat yang berpotensi sebagai tempat berkembangbiak nyamuk.

"Karena teridentifikasi ada cara penularan melalui transovarial. Sehingga nyamuk tersebut begitu dewasa tidak perlu lagi menggigit penderita positif DBD," ujarnya.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung Rosye Arosdiani Rodye menyebut, dari angka yang meninggal secara total, sembilan orang di antaranya adalah warga Kota Bandung.

Ia mengakui ada kesulitan tersendiri dalam melakukan fogging. Kebijakan itu tidak bisa asal dilakukan. Semuanya harus sesuai regulasi dan landasan epidemiologis. “Jangan tidak ada kasus tapi dilakukan fogging, yang terjadi itu zat kimia sebetulnya. Itu bahayanya melakukan fogging jika tidak tepat sasaran," katanya. [rhm]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini