Perayaan HUT Berlian PGI Diisi dengan Ziarah ke Makam 6 Tokoh Oikumenis dan Penginjil di Minahasa.
Bupati Minahasa, Robby Dondokambey bersama Sekretaris Daerah Kabupaten Minahasa, Dr Lynda D Watania, turut serta dalam ziarah ini.
Rangkaian acara dalam rangka memperingati HUT ke-75 Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) dilaksanakan di Sulut dengan mengadakan ziarah oikumenis ke sejumlah makam pada siang hari Senin (7/4/2025). Kegiatan ziarah ini mencakup makam tokoh-tokoh penting seperti Prof Dr Tuty Angganietje Sinsuw-Gundong, Pdt Prof Dr Wilhelmus Absalom Roeroe, Pdt Agustina Lumentut, Johann Friedrich Riedel, Johann Gotlieb Schwarz, dan Ds Wilhelm Johannes Rumambi.
Ziarah Oikumenis ini dibagi menjadi dua tim. Tim pertama mengunjungi makam Alm. Prof Sinsuw Gundong dan Alm. Johan Friedrich Riedel yang terletak di rute Bitung-Tondano. Sedangkan tim kedua menziarahi makam Alm. Prof Roeroe, Alm. Pdt Agustina Lumentut, dan Alm. Johan Gotlieb Schwarz yang berada di rute Tomohon-Langowan. Setelah itu, kedua tim akan berkumpul untuk mengunjungi makam Ds. WJ Rumambi. Bupati Minahasa, Robby Dondokambey bersama Sekretaris Daerah Kabupaten Minahasa, Dr Lynda D Watania, turut serta dalam ziarah ini bersama MPH PGI dan panitia HUT ke-75 PGI di makam Ds. WJ Rumambi yang terletak di pekuburan Kecamatan Kakas, Kabupaten Minahasa.
WJ Rumambi adalah seorang pendeta dari Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) yang melayani dari tahun 1940 hingga 1984. Dia juga menjabat sebagai Sekretaris Pertama Dewan Gereja-Gereja di Indonesia pada tahun 1950-1954, Sekretaris Umum Lembaga Alkitab Indonesia dari tahun 1974 hingga 1984, serta Menteri Penerangan RI pada tahun 1959-1966 di pekuburan Kakas. Dalam acara ini, hadir juga panitia lokal HUT ke-75 PGI di Sulut, keluarga Tuty Angganietje Sinsuw-Gundong (alm), MPH SAG, MPH PGI, serta para pendeta GMIM di Bitung, GMKI, Senior GMKI, PIKI, Panji Yosua GMIM, dan anggota PGI lainnya seperti GMPU, GMIM, dan GPI.
Dalam sambutannya, Wakil Sekretaris Umum PGI, Pdt Lenta Enni Simbolon, mengucapkan terima kasih kepada keluarga dan anak-anak yang telah mendukung Ibu Sinsuw dalam melayani gereja GMIM selama 25 tahun sebagai Ketua Wanita Kaum Ibu (WKI) GMIM dan sebagai salah satu Ketua PGI. "Kiranya teladan beliau bisa menjadi warisan yang akan dilanjutkan oleh MPH yang sekarang, serta dihidupi oleh gereja-gereja dan keluarga," ujarnya. Mewakili keluarga, putri kedua, Alice, juga menyampaikan rasa terima kasih atas penghargaan yang diberikan kepada orangtuanya. "Beliau sibuk melayani, kadang-kadang waktu untuk keluarga dikorbankan. Namun sekarang kami paham bahwa mama sudah melakukan hal-hal hebat sehingga anak-anak juga bisa seperti sekarang ini," ujarnya.
Kegiatan ziarah ini bertujuan untuk mengenang dan merefleksikan jejak historis pekabaran Injil di Indonesia. Sedikit menelusuri sejarahnya, Prof Dra Tuty Angganietje Sinsuw-Gundong lahir di Likupang pada 15 April 1938 dan dikenal sebagai sosok yang mendedikasikan diri dalam dunia pendidikan sebagai Guru Besar di bidang Sosiologi Pendidikan, dengan keahlian khusus di bidang Pendidikan Keluarga. Selain karier akademiknya, dia juga aktif dalam berbagai organisasi sosial dan gerejawi. Selama lima periode berturut-turut, atau sekitar 25 tahun, dia dipercaya sebagai Ketua WKI Sinode GMIM, menjadikannya salah satu figur perempuan pelayan yang paling berpengaruh dalam sejarah GMIM.
Sifat dan panggilan oikumenis dalam dirinya juga terbukti saat mewakili PGI dalam sidang WCC di Nairobi, Afrika pada tahun 1975, di mana dia bersama Pdt Agustina Lumentut mewakili GMIM. Keduanya adalah tokoh-tokoh sinode Am di tahun 1980-an. Sebagai pengakuan atas ketokohan dan pelayanannya yang luas, Prof Dra Tuty Angganietje Sinsuw-Gundong juga dipercayakan menjabat sebagai salah satu Ketua Majelis Pekerja Harian (MPH) PGI pada periode 1994-1999. Dalam perannya ini, dia berkontribusi dalam pelayanan lintas denominasi, memperjuangkan suara perempuan dan pendidikan dalam ruang-ruang strategis gereja nasional.
Pdt Prof Dr Wilhelmus Absalom Roeroe, yang lahir di Tomohon pada 16 September 1933, adalah tokoh gereja yang berperan penting dalam gerakan oikoumene di Indonesia. Sebagai seorang cendekiawan, dia memiliki pengetahuan yang luas dalam teologi, budaya, dan masyarakat. Pengetahuannya menjadi bekal untuk mendapatkan kepercayaan sebagai Ketua Sinode GMIM selama dua periode, yaitu pada 1979-1990 dan 1995-2000. Roeroe juga aktif di dunia internasional sebagai anggota Komite Eksekutif Dewan Gereja-gereja Dunia (WCC) dan Dewan Gereja Asia (CCA). Dalam lingkup nasional, dia turut berperan sebagai salah satu Ketua MPH-PGI selama dua periode dan anggota Majelis Pertimbangan PGI selama satu periode.
Pdt Agustina Lumentut MTh (1937-2002) merupakan pendeta perempuan yang melayani di Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) dan tercatat sebagai salah satu pendeta perempuan yang pernah menjabat sebagai Ketua Sinode GKST. Dia berasal dari keluarga misionaris dan menerapkan model kerja pelayanan melalui transformasi sosial yang mencakup pendidikan, kesehatan, dan pembangunan infrastruktur serta sistem politik. Dalam perjalanan pelayanannya, Pdt Agustina Lumentut berhasil memperkuat peran perempuan melalui prestasi kerja layanannya, hingga terpilih sebagai Ketua Sinode pada tahun 1989. Dia juga terpilih sebagai Wakil Sekretaris Umum PGI, yang membuatnya aktif dalam berbagai kegiatan internasional dan menjadi salah satu tokoh perempuan penting dalam sejarah GKST.
Sementara itu, Johann Friedrich Riedel (8 Juni 1798-12 Oktober 1860) dan Johann Gotlieb Schwarz adalah penginjil yang berkontribusi besar di Tanah Minahasa. Riedel, yang berasal dari Erfurt, kekaisaran Romawi Suci (sekarang Jerman), bersama Schwarz yang lahir di Kaliningrad pada 21 April 1800 dari keluarga tukang sepatu yang taat beragama, dikenal sebagai tokoh penting dalam sejarah dan perkembangan kekristenan di Minahasa. Setelah kehilangan guru mereka, Ds Johannes Jaenicks, pada tahun 1827, Riedel dan Schwarz pergi ke Belanda dan bergabung dengan Nederlandsch Zendeling Genootschap (NZG). Mereka diutus untuk mengembangkan pendidikan dan taraf hidup di Minahasa dan tiba pada 12 Juni 1831 di Kema. Riedel kemudian menetapkan pos pelayanan di Tondano, sementara Schwarz di Langowan.