Peran Perilaku dan Kebahagiaan Terhadap Kesehatan di Masa Pandemi Covid-19

Jumat, 23 Oktober 2020 19:52 Reporter : Dedi Rahmadi
Peran Perilaku dan Kebahagiaan Terhadap Kesehatan di Masa Pandemi Covid-19 Ilustrasi Mengecilkan Paha Tanpa Olahraga. Liputan6.com ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Kepala Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat FK Universitas Padjajaran, Dr. dr. Dwi Agustian, MPH, PhD mengungkapkan pentingnya peran perilaku dan kebahagiaan seseorang terhadap kesehatannya di masa pandemi COVID-19.

Melalui siaran langsung di akun Youtube BNPB Indonesia pada Jumat (23/10), Dwi menyebutkan bahwa virus penyebab COVID-19 sesungguhnya tidak lebih mematikan daripada virus ebola dan virus SARS-CoV-1. Menurutnya, hal yang membuat masyarakat rentan terhadap penyakit ini adalah perilaku masyarakat itu sendiri.

"Virus (penyebab COVID-19) ini membangkitkan justru momentum bagi kita untuk melihat bahwa perilaku kita itu sangat rentan terhadap virus yang seharusnya tidak mematikan. Ini ironis ya," kata Dwi pada Jumat (23/10).

"Determinan dari kesehatan dan kesakitan itu bahkan sekarang diyakini sampai ke 40%(nya) perilaku. Artinya, fungsi kesehatan itu tidak lagi pure biologis, tapi sudah kaitannya dengan perilaku. Artinya perilaku ini sangat mempengaruhi biologi kita," jelas dia.

Dwi juga membahas terkait imun yang berperan untuk menghadapi penyakit COVID-19. Ia menyampaikan bahwa sistem imun sangat berkaitan dengan optimalisasi keseimbangan antara tubuh seseorang dengan spiritual atau psikisnya. Keseimbangan itulah yang nantinya akan mengoptimalkan sistem imun.

Oleh karena itu, untuk menghadapi penyakit COVID-19 dengan imun yang baik, diperlukan vaksin.

"Kita berbicara vaksin, ini berbicara chemistry ya. Tapi bukan hanya chemistry of biology, tapi (juga) chemistry of happiness. Karena kalau kita lihat, virus ini uniknya masuk ke dunia modern kita, di mana happiness itu barang yang langka," tutur dia.

Rentannya imunitas seseorang juga ternyata berhubungan dengan kebahagiaannya. Kebahagiaan ini juga berkaitan dengan persoalan makanan yang dikonsumsi orang tersebut.

"Level of imunitas kita rentan karena apa? Begitu banyak penyakit-penyakit kerentanan biologis yang muncul dari ekspresi kita tidak hepi dengan makan. Kita kurang makan, kita kurang hepi, tapi kita ekspresikan dengan makan. Sehingga akhirnya obesity," ungkap dia.

Selain kebahagiaan, Dwi juga mengungkapkan bahwa meliterasi diri sendiri dengan membaca informasi-informasi yang kredibel juga merupakan salah satu cara mengatasi masalah kesehatan yang tengah dihadapi.

"Artinya ini tidak hanya terlepas pada pemerintah, tapi bagaimana kita memberdayakan individu untuk menjadi seorang yang literate terhadap dirinya dan tahu untuk berbuat sesuatu. Karena yang tahu yang terbaik untuk diri seseorang itu dirinya. Karena ada respon individual (berbeda tiap orang)," jelas dia.

Reporter magang: Maria Brigitta Jennifer [ded]

Ingat #PesanIbu

Jangan lupa Selalu Mencuci Tangan, Memakai Masker dan Menjaga Jarak Mari Bersama Cegah Penyebaran Virus Corona

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini