Penantian Kokom Berharap Suami Segera Pulang dari Papua

Selasa, 8 Oktober 2019 00:47 Reporter : Mochammad Iqbal
Penantian Kokom Berharap Suami Segera Pulang dari Papua Kokom warga Garut. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Kesedihan Kokom Komariah (25), warga Kampung Cimanggah, RT 3 RW 7, Desa Banjarsari, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut tetap terlihat meski berusaha tenang sata ditemui merdeka.com, Senin (7/10). Bagaimana tidak, ia harus menantikan suaminya yang saat ini tengah mengungsi di Papua akibat kerusuhan.

Rasa sedih Kokom bukan tanpa alasan, berbagai informasi yang dia dapatkan tentang kondisi Papua membuatnya tidak nyaman saat tidur dan beraktivitas sehari-hari karena memikirkan suaminya, Sarif (30). Apalagi saat ini dia tengah mengandung anak keduanya yang sudah berusia lima bulan.

Kokom bercerita Sarif sudah berada di Papua sejak beberapa bulan lalu. Sarif berangkat ke Papua dengan modal meminjam uang untuk biaya perjalanan Rp 5 juta. "Suami saya juga banyak bawa bekal dari sini karena kalau beli bahan makanan di sana kan mahal-mahal," ujarnya.

Utang untuk modal suaminya berangkat ke Papua, diakui Kokom baru dibayar beberapa hari kemarin setelah dia mengumpulkan uang dari usahanya. Meski lega utangnya terbayar, dia tetap waswas karena suaminya masih berada di Papua dengan kondisi masih mengungsi di kantor Dinas Sosial Jayapura.

Kokom bercerita bahwa suaminya diajak bekerja di Papua oleh kakaknya yang bernama Dede. Tidak hanya bersama kakaknya, Sari, di Papua juga bersama adiknya Kokom yang bernama Sambas. "Alasan diajak bekerja di sana karena agar ada peningkatan ekonomi. Walau kerjanya ngerol wallpaper dan cat rumah, tapi penghasilannya lumayan katanya," ungkapnya.

Dia menyebut bahwa suaminya sudah cukup lama mengais rezeki di tanah Cendrawasih bersama kakak dan adiknya. Suaminya kerap pulang ke Garut delapan bulan sekali dan tinggal di rumah selama empat hingga lima bulan lalu kembali ke Papua.

"Kalau a Dede sudah sejak bujangan bekerja di Papua. Sejak umur belasan tahun sudah di sana karena memang a Dede tulang punggung keluarga. Karena sudah lama ya jadi tahu penghasilannya bagaimana sehingga mengajak suami saya dan adik saya," katanya.

10 hari lalu ia menerima informasi tentang kondisi suaminya di Papua dan mendapatkan cerita yang cukup membuat Kokom sedih. Kepada Kokom, Sarif bercerita bahwa ada bengkel motor milik temannya yang dibakar massa. Meski demikian, suaminya menyebut bahwa rumah kontrakannya aman dan tidak didatangi massa.

Suaminya sendiri bisa menginfokan kondisinya saat tengah mengungsi di Kodim Wamena setelah sempat berkumpul bersama ribuan warga di bandara.

"Sempat seminggu saya menunggu kabar dari suami saya tapi tidak kunjung ada kabar. Jadinya saya cuma bisa mendoakan suami saya agar diselamatkan karena kan kaget juga banyak korban," ungkapnya.

Kokom sendiri akhirnya bisa menerima informasi terkini dari suaminya yang sudah berada di Jayapura. Rasa khawatirnya pun perlahan memudar, namun tetap saja ia mengaku masih waswas selama suaminya belum ada di hadapannya.

"Tadi sempat kontakan juga katanya mau berangkat ke Bandung bareng dengan 17 temannya. Suami saya bilang kalau setelah pulang ke Garut tidak akan balik lagi ke Papua," ceritanya.

Sarif (30), saat dihubungi Selasa (7/10) melalui sambungan telepon mengatakan bahwa ia memang sempat bertahan di bandara agar bisa pulang ke kampung halamannya di Garut. Ia pun sempat berebut tiket dengan ribuan orang lainnya yang juga ingin pulang kampung.

"Kondisi Wamena sudah tidak kondusif. Padahal saat sebelum kerusuhan saya mau bekerja keliling bersama teman-teman saya untuk mencari konsumen yang mau pasang wallpaper atau ngecat rumah," ujarnya.

Saat ini, Sarif bersama 17 warga Garut lainnya dan sejumlah warga Jawa Barat tengah menunggu kepastian untuk bisa pulang ke tanah Pasundan. Ia mengaku tidak ingin tinggal di bumi Cendrawasih selama kondisinya belum normal.

Ia menyebut bahwa situasi di sana tidak terkendali dan banyak warga pendatang yang menjadi korban akibat kerusuhan. "Ada teman saya asal Sukabumi yang dibacok. Tapi Alhamdulillah masih selamat," katanya.

Sarip menyebut bahwa rencananya ia bersama warga Jawa Barat lainnya akan diangkut ke Jawa Barat, Selasa (8/10). Namun menurutnya hal tersebut pun belum pasti karena ia belum mendapatkan tiket pesawat. "Kalau untuk makan mah Alhamdulillah ada, tinggal nunggu tiket saja. ini ada orang paguyuban dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang bantu di sini," ucapnya. [cob]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini