Pemkot Tangerang Gelar Pelatihan Khusus Pengelola Sekolah Lansia Tangerang dengan Kurikulum 7 Dimensi
Dinas terkait di Kota Tangerang mengadakan Training of Trainer bagi pengelola Sekolah Lansia Tangerang, membekali mereka dengan kurikulum 7 dimensi untuk mewujudkan lansia tangguh dan berdaya.
Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Tangerang baru saja menyelenggarakan Training of Trainer (TOT). Kegiatan ini ditujukan khusus bagi para pengelola Sekolah Lansia-Bina Keluarga Lansia di wilayah tersebut. Pelatihan ini berfokus pada penyampaian kurikulum khusus yang komprehensif.
Kegiatan TOT ini berlangsung selama tiga hari, mulai tanggal 20 hingga 22 Januari 2026, bertempat di Kantor Pemerintah Kota Tangerang. Tujuannya adalah untuk membekali para pengelola dengan pemahaman mendalam agar mampu memberikan pelayanan terbaik bagi para lansia dan keluarga lansia di Kota Tangerang.
Kepala DP3AP2KB Kota Tangerang, Tihar Sopian, menjelaskan bahwa kurikulum yang diberikan mencakup tujuh dimensi penting. Fokus utamanya tidak hanya pada edukasi lansia, tetapi juga pada penguatan dukungan keluarga. Ini menunjukkan komitmen Pemkot Tangerang dalam menciptakan lingkungan yang inklusif dan ramah lansia.
Mengembangkan Lansia Tangguh Melalui Kurikulum Tujuh Dimensi
Kurikulum khusus yang diterapkan dalam pelatihan ini dirancang untuk membentuk lansia tangguh secara menyeluruh. Tujuh dimensi tersebut meliputi aspek spiritual, fisik, emosional, dan intelektual, memastikan setiap aspek kehidupan lansia diperhatikan. Pendekatan holistik ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup para lansia secara signifikan.
Selain empat dimensi tersebut, kurikulum juga mencakup dimensi sosial, profesional vokasional, dan lingkungan, yang sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari lansia. Tihar Sopian menegaskan bahwa penguatan dukungan keluarga menjadi fokus utama pelatihan ini. Hal ini penting untuk memastikan lansia mendapatkan pendampingan serta dukungan sosial yang optimal dari lingkungan terdekat mereka.
Melalui pendidikan non-formal ini, para kader yang telah terlatih diharapkan dapat membantu lansia di Kota Tangerang. Mereka akan mampu menjaga kesehatan fisik dan mental secara mandiri, mengurangi ketergantungan pada pihak lain. Inisiatif ini merupakan langkah proaktif Pemkot dalam meningkatkan kemandirian dan kesejahteraan lansia.
Adapun tujuh dimensi kurikulum yang diberikan dalam pelatihan ini meliputi:
- Lansia tangguh secara spiritual
- Lansia tangguh secara fisik
- Lansia tangguh secara emosional
- Lansia tangguh secara intelektual
- Lansia tangguh secara sosial
- Lansia tangguh secara profesional vokasional
- Lansia tangguh secara lingkungan
Sekolah Lansia: Fondasi Pembangunan Inklusif Kota Tangerang
Sekolah Lansia dipandang bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan instrumen penting dalam pembangunan kota yang berkelanjutan. Pemkot Tangerang optimis bahwa pertumbuhan jumlah penduduk lansia tidak lagi menjadi beban bagi daerah. Sebaliknya, lansia justru akan menjadi potensi luar biasa untuk pembangunan Kota Tangerang melalui pengalaman dan kebijaksanaan mereka.
Tihar Sopian menyatakan bahwa tujuan utama adalah agar lansia di Kota Tangerang tetap berdaya dan aktif dalam masyarakat. Mereka diharapkan sehat secara fisik dan mental, serta dapat menjalani masa tua dengan bahagia dan bermakna. Selain itu, lansia juga diharapkan tetap produktif di lingkungan masing-masing, memberikan kontribusi positif.
Dengan adanya kegiatan TOT ini, Pemkot Tangerang meyakini bahwa Sekolah Lansia Tangguh akan menjadi fondasi kuat bagi masa depan. Ini akan menciptakan masyarakat yang inklusif dan ramah lansia, di mana setiap individu dihargai. Upaya ini menunjukkan visi jangka panjang Pemkot dalam mewujudkan kesejahteraan seluruh warganya tanpa terkecuali.
Sumber: AntaraNews