Pemerintah Kabupaten Agam, Sumatera Barat, mengambil langkah proaktif dengan menggelar imunisasi tambahan secara massal. Langkah ini bertujuan menekan laju penyebaran penyakit campak yang terjadi di beberapa wilayah di daerah tersebut. Inisiatif ini menyasar area yang mengalami wabah atau memiliki tingkat cakupan imunisasi yang masih rendah.
Kepala Dinas Kesehatan Agam, Hendri Rusdian, pada Minggu (19/4), mengungkapkan bahwa program Imunisasi Respons Wabah atau Outbreak Response Immunization (ORI) telah dilaksanakan. Beberapa kecamatan menjadi fokus utama, termasuk Palembayan, Lubuk Basung, dan Sungai Pua, sebagai bagian dari strategi penanggulangan. Upaya ini merupakan respons cepat terhadap peningkatan kasus campak yang terdeteksi.
Selain imunisasi massal, Dinas Kesehatan Agam juga memperkuat imunisasi rutin bagi bayi berusia sembilan bulan di fasilitas kesehatan setempat. Edukasi dan sosialisasi tentang pentingnya imunisasi campak juga digencarkan. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pencegahan penyakit.
Advertisement
Advertisement
Dinas Kesehatan Agam tidak hanya fokus pada imunisasi tambahan, tetapi juga memastikan cakupan imunisasi rutin tetap optimal. Program imunisasi campak rutin diberikan kepada bayi usia sembilan bulan melalui puskesmas dan posyandu di seluruh wilayah. Ini menjadi fondasi utama dalam membangun kekebalan komunitas terhadap penyakit campak.
Hendri Rusdian menjelaskan bahwa kampanye imunisasi juga menjadi prioritas. Sosialisasi dan edukasi intensif diberikan kepada masyarakat mengenai manfaat serta pentingnya imunisasi campak. Tujuannya adalah untuk menghilangkan keraguan dan meningkatkan partisipasi aktif warga dalam program kesehatan ini.
Beberapa wilayah yang menjadi fokus utama kegiatan ORI meliputi Kecamatan Palembayan, Lubuk Basung, Sungai Pua, Ampek Angkek, Ampek Koto, Matur, Tanjung Raya, dan Kamang Magek. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada data wilayah yang mengalami wabah atau memiliki tingkat cakupan imunisasi yang masih di bawah target. Dengan demikian, intervensi dapat dilakukan secara tepat sasaran untuk menekan angka penularan.
Advertisement
Advertisement
Selain program imunisasi, Dinas Kesehatan Agam juga menerapkan sistem deteksi dini yang ketat untuk memantau kasus campak. Setiap kasus yang dicurigai segera dilaporkan dan diselidiki secara cepat. Survei aktif juga dilakukan untuk mengidentifikasi potensi kasus baru di masyarakat.
Pihak dinas kesehatan juga melakukan investigasi wabah secara mendalam. Proses ini mencakup penelusuran sumber penularan dan identifikasi kelompok rentan yang berisiko tinggi terinfeksi. Pemahaman terhadap pola penularan sangat krusial untuk merumuskan langkah pencegahan yang efektif.
Penanganan kasus positif campak dilakukan dengan isolasi dan perawatan penderita. Pasien dianjurkan untuk melakukan isolasi guna mencegah penularan lebih lanjut kepada orang lain. Selain itu, perawatan suportif seperti pemberian vitamin A dan obat demam juga diberikan untuk membantu pemulihan pasien.
Advertisement
Respons cepat terhadap potensi wabah juga menjadi fokus utama, dengan pembentukan tim gerak cepat yang siap diterjunkan ke lokasi. Berbagai upaya terkoordinasi ini diharapkan mampu meminimalkan dampak penyebaran penyakit campak. Edukasi berkelanjutan tentang gejala, cara penularan, dan pentingnya imunisasi juga terus digalakkan untuk meningkatkan kesadaran publik.
Sejak Januari hingga 18 April 2026, jumlah positif campak tercatat sebanyak 59 kasus di Agam, meningkat dari 48 kasus pada tahun sebelumnya. Dinas Kesehatan Agam berharap dengan berbagai upaya yang dilakukan, kasus campak akan terus berkurang.
Sumber: AntaraNews
Advertisement