Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Peluncuran buku Bule Hunter: Antara uang, seks dan cinta

Peluncuran buku Bule Hunter: Antara uang, seks dan cinta Bule Hunter. ©2014 merdeka.com/istimewa

Merdeka.com - Pada hari Rabu (10/9), Elisabeth Oktofani meluncurkan buku berjudul Bule Hunter: Money, Sex and Love di Reading Room, Kemang Jakarta Selatan. Peluncuran buku tersebut dihadiri oleh lebih dari 40 orang baik dari media, pembaca maupun pelaku perkawinan campuran.

Dalam acara peluncuran buku tersebut, Fani mengatakan bahwa buku setebal 312 halaman ini ditulis karena ada kegelisahan terhadap stigma negatif terhadap perempuan yang menjalin hubungan dengan bule dan juga adanya kegelisahan hubungan antar bangsa yang dicap buruk.

002 isn?20140909124912

Winarti, salah seorang peserta peluncuran buku, mengungkapkan bahwa istilah 'bule hunter' merupakan hasil dari pebincangan yang sebenarnya telah mengalami pergeseran makna. Sekitar tahun 90an, justru orang Barat atau bule sendirilah yang membuat istilah bule hunter. Sebuah pemandangan yang umum (sampai kini) melihat bule dikejar untuk berfoto bersama.

"Seiring berjalannya waktu istilah tersebut berkembang sebagai stigma yang melekat pada perempuan Indonesia yang menjalin hubungan dengan orang Barat namun cenderung tidak memiliki posisi tawar mulai dari mitos kecantikan, status sosial dan pola pikir," tutur Winarti.

Dalam bukunya tersebut, Fani menjelaskan hubungan antara pria bule dan perempuan Indonesia tak cuma soal seks. Ada beberapa yang membuat kesepakatan bersama hingga ke pelaminan. Namun tak semua berjalan mulus.

Dia juga mengkritik konsep patriaki yang mengabaikan hal-hal egaliter. Menurutnya perempuan pun berhak sama-sama mendapatkan kepuasan seksual, tak sekadar melayani pria di atas ranjang.

Melalui bukunya, Fani mengangkat kisah Cetta, seorang juru masak dari Yogyakarta yang merasa dipermainkan oleh laki-laki bule yang dikencani hanya untuk urusan ranjang semata. Dengan dalih budaya Jawa yang mengharuskan perempuan harus menjaga keperawanannya untuk suaminya, si bule tersebut memutuskan Cetta untuk menikahi perempuan Indonesia lainnya yang masih perawan.

Ada juga lagi kisah Jovita yang menikahi pria seumuran kakeknya itu karena ingin hidup nyaman. Namun sayang, pernikahan mereka tidak berakhir seperti dalam dongeng. John, suami Jovita, kerap main tangan dan menjadi pecandu narkoba.

Atau Yanti Fatmawati, pekerja seks komersil yang ingin mencari bule yang mapan dan bisa memenuhi kebutuhan finansialnya. Ada juga kisah Teh Nurmali, seorang ibu beranak empat yang terpaksa melayani bule untuk biaya makan anak-anaknya.

Fani pun menuliskan kisah Anilla, seorang perempuan muda ibu kota yang gemar bercinta dengan bule untuk memenuhi kebutuhan seksualnya secara adil tanpa diberi embel-embel sebagai perempuan murahan.

Ada kritik untuk pria Indonesia dari para perempuan yang memilih bule sebagai pasangan hidup. Fani menilai bahwa pria Indonesia adalah korban iklan yang menganggap perempuan cantik harus bertubuh langsing, berkulit putih dan berambut panjang.

Lewat buku ini Fani menyampaikan tidak semua perempuan Indonesia yang menjalin hubungan dengan bule adalah perempuan murahan. Begitu juga dengan bule, tidak semuanya baik.

"Sebenarnya bule ataupun pribumi merupakan bungkusnya (chasing) saja karena tidak semua bule itu baik atau tidak semua pribumi itu buruk, semuanya itu kembali ke individunya masing-masing. Kalau memang tabiatnya buruk seperti predator seks alias penjahat kelamin di mana pun dan siapapun tetap saja ada," kata Fani

Hartoyo, sekjen Our Voice, menyampaikan ada beberapa hal yang ingin disampaikan Fani lewat buku Bule Hunter. Ada pola ketidakadilan dalam relasi antar pria dari Barat, yang dianggap lebih maju, dengan perempuan dari negara dunia ketiga. (mdk/ian)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP