Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Paspor hilang di bandara, Nenek Sumiati tertunda kepulangannya

Paspor hilang di bandara, Nenek Sumiati tertunda kepulangannya Nenek Sumiyati. Anwar©2016 Merdeka.com

Merdeka.com - Nasib malang menimpa Sumiaati Lumoh Sarip, nenek asal Riau ini. Harusnya pulang ke Batam, Kepulauan Riau bersama rombongannya di kloter BTH 01, Sumiaati terpaksa harus berurusan dengan pihak Imigrasi Bandara King Abdul Aziz Jeddah lantaran paspornya hilang.

Dengan terus menangis, Sumiati menceritakan kronologi kehilangan paspor yang dia alami. Saat ada razia barang-barang bawaan, Sumiati yang menaruh paspornya di tas kecil mengaku lupa karena tas tersebut dia buang lantaran tak boleh dibawa naik ke pesawat.

"Saya sudah di bandara, dan makan. Saya lupa, tas kecil saya buang ke tempat sampah, padahal di situ ada paspornya," cerita Sumiyati sambil terisak di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Tas Sumiati dibuang lantaran oleh maskapai Garuda, penumpang dilarang membawa bawaan lain kecuali satu kopor dan satu tas tentengan yang dimasukkan di kabin pesawat.

Sadar tas yang berisi paspor tersebut telah dibuang ke tempat sampah, Sumiyati lalu mencari kembali tas itu namun sudah tidak ada lantaran sampah sudah dibersihkan oleh petugas. "Padahal di tas itu ada sertifikat haji juga," cerita nenek Sumiyati sambil terus menangis."Saya mau ngapain saja deh asal bisa pulang," imbuhnya.

Daker Bandara PPIH Arab Saudi pun langsung bergerak setelah menerima laporan nenek Sumiati. Kepala Daker Bandara Nurul Badruttamam meminta Konjen RI untuk menerbitkan SPLP (Surat Pengantar Laksana Paspor) sebagai pengganti sementara paspor nenek Sumiyati.

"Ibu Sumiati nanti kalau suratnya sudah jadi kalau tidak kekejar waktunya akan diikutkan di penerbangan selanjutnya, BTH 02," kata Nurul kepada Sumiyati di kantor Daker Bandara, Sabtu (17/9).

Kemudian salah satu perwakilan Daker Bandara bergerak ke Konjen Jeddah, dengan membawa berkas-berkas yang diperlukan untuk menerbitkan SPLP. Pesawat yang harusnya membawa nenek Sumiyati tersebut terbang pukul 19.00 waktu Arab Saudi. Karena surat baru jadi, akhirnya nenek Sumiati baru bisa berangkat pukul 08.00 Minggu (18/9) waktu setempat.

"Tidak apa-apa saya terlambat, asal bisa pulang. Sudah kangen sama cucu," kata Sumiati sambil terus menangis.

"Tapi tolong dibuatkan lagi sertifikat haji nya ya, buat kenang-kenangan," pinta Sumiati agak tersipu, tapi masih tetap menangis.

(mdk/idr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP