Manado, 7 Februari 2026 – Sebulan berlalu sejak bencana Banjir Bandang Sitaro melanda, menyisakan duka dan kerusakan di Kabupaten Kepulauan Siau-Tagulandang-Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara. Hingga Sabtu (7/2), sebelas kepala keluarga (KK) atau empat belas jiwa masih bertahan di tempat pengungsian. Mereka belum dapat kembali ke rumah masing-masing karena kerusakan parah yang dialami hunian mereka.
Kepala Bidang Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kepulauan Siau-Tagulandang-Biaro, Sonny Belseran, menyatakan bahwa pihaknya terus memantau kondisi para pengungsi. Sonny menegaskan bahwa pemerintah daerah berkomitmen penuh untuk menjamin kebutuhan hidup warga yang terdampak bencana. Upaya ini dilakukan agar para pengungsi tetap mendapatkan fasilitas dan logistik yang memadai selama berada di tempat penampungan.
Para pengungsi tersebut saat ini tersebar di dua lokasi, yaitu Museum Sitaro di Kelurahan Tarorane dan Gereja Advent Bahu di Kecamatan Siau Timur Utara. Meskipun sebagian besar warga yang terdampak telah kembali ke rumah mereka, kelompok 11 KK ini masih memerlukan bantuan dan dukungan karena kondisi rumah yang tidak memungkinkan untuk dihuni kembali.
Advertisement
Advertisement
Sebelas kepala keluarga yang terdiri dari empat belas jiwa saat ini masih menempati fasilitas pengungsian yang disediakan oleh pemerintah daerah. Mereka adalah bagian dari ratusan warga yang terpaksa mengungsi akibat dahsyatnya Banjir Bandang Sitaro pada awal Januari lalu. Kerusakan rumah yang signifikan menjadi alasan utama mengapa mereka belum bisa kembali ke kehidupan normal.
Pemerintah Kabupaten Kepulauan Siau-Tagulandang-Biaro (Pemkab Sitaro) terus memastikan ketersediaan kebutuhan pokok bagi para pengungsi. Sonny Belseran menegaskan bahwa logistik dan fasilitas dasar seperti makanan, pakaian, serta kebutuhan sanitasi tetap terjamin. Komitmen ini menunjukkan upaya serius pemerintah dalam meringankan beban masyarakat yang terdampak bencana.
Lokasi pengungsian di Museum Sitaro dan Gereja Advent Bahu dipilih untuk memberikan tempat yang aman dan layak bagi para korban. Kedua tempat ini dilengkapi dengan fasilitas dasar untuk menunjang kehidupan sehari-hari para pengungsi. Koordinasi antara BPBD dan pihak terkait terus dilakukan untuk memastikan bantuan tersalurkan secara efektif.
Advertisement
Advertisement
Banjir Bandang Sitaro yang terjadi pada Senin dini hari, 5 Januari 2026, menyebabkan dampak yang luas di Pulau Siau. Awalnya, sebanyak 693 warga dari berbagai kampung, desa, dan kelurahan harus mengungsi ke beberapa posko darurat. Posko-posko tersebut meliputi Museum Sitaro, Gereja GMIST Bethabara Paseng, Kantor Lurah Bahu, dan Gereja Advent Bahu.
Bencana ini tidak hanya menyebabkan kerusakan infrastruktur, tetapi juga menimbulkan korban jiwa. Tujuh belas warga dilaporkan meninggal dunia, sementara dua korban lainnya masih dinyatakan hilang. Kerusakan material sangat parah, banyak rumah penduduk hancur, termasuk Markas Komando (Mako) Polres Sitaro yang juga terdampak.
Respons cepat dari pemerintah daerah dan tim penanggulangan bencana menjadi krusial dalam masa-masa awal pasca-bencana. Upaya pencarian dan penyelamatan korban dilakukan secara intensif, diikuti dengan penyediaan tempat pengungsian dan bantuan darurat. Fokus saat ini adalah rehabilitasi dan rekonstruksi, sambil tetap memastikan kebutuhan dasar para pengungsi terpenuhi.
Advertisement
Sumber: AntaraNews