Para pejuang Tionghoa dalam pertempuran 10 November 1945

Kamis, 19 Februari 2015 05:07 Reporter : Yulistyo Pratomo
Para pejuang Tionghoa dalam pertempuran 10 November 1945 Pejuang Tionghoa dalam pertempuran 10 November. ©buku Tionghoa Dalam Sejarah Kemiliteran

Merdeka.com - Hari ini, masyarakat Tionghoa di Indonesia dan dunia merayakan Gong Xi Fa Cai, atau biasa dikenal dengan sebutan Imlek. Eksistensi masyarakat Tionghoa sudah berlangsung sejak berlangsungnya ekpedisi Dinasti Yuan ke Indonesia untuk menyerbu Kerajaan Kediri yang dianggap menghina Raja Mongol Kubilai Khan.

Menyambut Imlek, merdeka.com mencoba menggali keterlibatan masyarakat Tionghoa dalam perang kemerdekaan Indonesia yang berlangsung pada 1945-1949. Peran masyarakat Tionghoa dalam sejarah kemerdekaan tak bisa dikesampingkan begitu saja.

Salah satunya adalah perang 10 November 1945 di Surabaya. Tanpa dipenuhi rasa takut, dan keinginan untuk merdeka membuat mereka bahu membahu mengangkat senjata dan bertempur melawan pasukan NICA, yang saat itu diboncengi pasukan sekutu untuk menguasai kembali Indonesia.

Kisah ini ditulis dalam buku Tionghoa Dalam Sejarah Kemiliteran: Sejak Nusantara Sampai Indonesia yang ditulis Iwan Sentosa dan diterbitkan Yayasan Nabil dan Kompas Gramedia terbitan 2014. Keterlibatan warga Tionghoa ini direkam oleh Harian Merdeka edisi 17 Februari 1946. Lewat laporan khususnya, harian memuji peran mereka dalam pertempuran besar yang diberi judul Pendoedoek Tionghoa Membantoe Kita.

Dalam pertempuran itu, warga Tionghoa menyebut diri sebagai TKR Chungking dan membawa bendera Kuo Min Tang sebagai identitasnya. Perlengkapan temput yang digunakan juga sedikit berbeda dengan pejuang lainnya, mereka menggunakan Fritz Helmet yang digunakan pasukan Wehrmacht (Jerman), lengkap dengan senapan Karaben (Kar) 98-K yang didapatkan dari Nazi Jerman pada 1930-an.

Tak hanya ikut dalam pertempuran, warga Tionghoa juga terlibat dalam pengobatan terhadap pejuang yang terluka. Korps medis ini diberi nama Barisan Palang Merah Tionghoa. Satuan ini diberangkatkan dari RS Militer di Malang dan mendapat tugas untuk memasok tansum bagi para pejuang yang berasa di garis depan,

Para pemuda Tionghoa dari Malang juga bergabung dengan Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) yang dipimpin langsung oleh Bung Tomo. Mereka adalah Giam Hian Tjong dan Auwyang Tjoe Tek, Auwyang berperan sebagai ahli amunisi dan peledak yang didapat dari pertempuran antara China dengan Jepang.

Selama berlangsungnya pertempuran mempertahankan Surabaya dari serangan pasukan sekutu, warga Tionghoa telah mendirikan 10 pos dengan 10 dokter ditambah tenaga medis lainnya. Seluruh biaya ditanggung sepenuhnya oleh organisasi Chung Hua Chung Hui. Tak hanya sebagai tenaga medis, beberapa di antaranya ikut terlibat dalam serbuan 'berani mati' saat penyerbuan ke sarang serdadu sekutu dan Gurkha.

Guna memperoleh kemenangan besar, pasukan sekutu banyak menjatuhkan bom dan menembaki beberapa lokasi yang diduga menjadi tempat persembunyian para pejuang. Tindakan itu membuat banyak korban berjatuhan, termasuk warga sipil yang tak ikut mengangkat senjata.

Serangan demi serangan yang sebagian besar diarahkan ke warga membuat rakyat Indonesia marah, tak terkecuali warga Tionghoa, mengingat sebagian besar korban merupakan orang Tionghoa. Apalagi, pos kesehatan yang didirikan juga ikut diserang sekutu.

Dari pertempuran ini, diperkirakan 1.000 penduduk Tionghoa tewas dan melukai 5.000 orang lainnya. Secara keseluruhan, jumlah korban tewas mencapai 20.000 orang Indonesia sementara sekutu hanya 1.500 orang. [tyo]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini