'Pancasila harmoni beragama dan berbudaya yang jadi kekuatan Indonesia'
Merdeka.com - Mantan Wakil Ketua Umum PB NU KH As'ad Said Ali menilai dalam Pancasila terdapat harmoni tentang kehidupan beragama dan berbudaya yang menjadi kekuatan bangsa Indonesia. Kekuatan ini menjadi tameng dari serangan yang ingin memecah belah Nusantara.
"Pancasila itu artinya gotong royong, serasi, selaras, baik dalam beragama maupun berbudaya. Artinya, dengan Pancasila jiwa orang Indonesia terbentuk menjadi manusia yang harmonis dan toleran. Itulah kekuatan Pancasila dan itu telah kita buktikan sejak dari zaman kemerdekaan sampai sekarang," ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (1/4).
Menurutnya, Pancasila merupakan ideologi terbaik bagi Indonesia dengan berbagai keragamannya. Kendati demikian, ia tidak menampik ada banyak kelompok yang ingin menggoyang Pancasila. Karena itu bangsa Indonesia harus terus memperkuat persatuan dan pemahaman Pancasila sebagai antisipasi dari berbagai ancaman terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
"Pancasila adalah satu kesatuan antara agama dan budaya. Artinya dengan lima sila yang ada, negara kita bukan negara sekuler atau teokrasi, tapi negara beragama," imbuh mantan Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) ini.
Ia mengungkapkan, setelah periode reformasi lalu, ada kelompok yang ingin menarik Indonesia menjadi negara sekuler. Misalnya, mereka mengatakan Pancasila ingin 'dihijaukan', kemudian juga ada yang mengatakan Pancasila anti-syariat Islam.
"Itu penafsiran yang keliru. Yang benar Islam telah diwadahi dalam Pancasila. Makanya dalam Dekrit Presiden 1959 disebutkan Piagam Jakarta menjiwai Pancasila," tuturnya.
Sekarang nilai-nilai syariat Islam yang bersifat universal sudah diterapkan dalam bentuk Undang-Undang seperti UU Haji, UU Bank Syariah, UU Perkawinan, dan lain-lain. "Pancasila sangat fleksibel dan terus relevan dengan perkembangan zaman," katanya.
As'ad memuji langkah pemerintah melarang organisasi masyarakat yang anti-Pancasila dan membentuk Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Menurutnya, langkah ini merupakan suatu kemajuan dalam rangka menstabilkan dan menjaga eksistensi NKRI.
"Silakan mau mendirikan khilafah, tapi jangan di sini. Ketika kita melangkah bernegara, maka visi dan ideologi negara yang jadi acuan yaitu Pancasila," tandasnya. (mdk/did)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya