PAM Jaya Ungkap Penyebab Air Kotor dan Bau di Cengkareng Akibat Suplai Air Baku Berkurang

PAM Jaya menjelaskan keluhan air kotor dan bau di Cengkareng, Jakarta Barat, disebabkan menipisnya suplai air baku dari Tangerang. Masalah PAM Jaya Air Kotor Cengkareng ini berdampak pada kualitas air yang diterima warga.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
PAM Jaya Ungkap Penyebab Air Kotor dan Bau di Cengkareng Akibat Suplai Air Baku Berkurang
PAM Jaya menjelaskan keluhan air kotor dan bau di Cengkareng, Jakarta Barat, disebabkan menipisnya suplai air baku dari Tangerang. Masalah PAM Jaya Air Kotor Cengkareng ini berdampak pada kualitas air yang diterima warga. (AntaraNews)

Warga di RT 05/RW 02 Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat, kembali mengeluhkan kondisi air bersih yang kotor dan berbau. Keluhan ini telah dirasakan oleh sebagian warga selama bertahun-tahun, bahkan sejak pertama kali berlangganan air PAM. Kondisi air yang kadang berwarna seperti susu atau kopi serta bau tak sedap menjadi permasalahan utama yang dihadapi.

Perumda Air Minum (PAM) Jaya akhirnya angkat bicara mengenai masalah ini, menjelaskan bahwa fenomena air kotor dan bau tersebut disebabkan oleh menipisnya suplai air baku. Suplai air baku yang berkurang ini berasal dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Kerta Raharja (TKR) di Tangerang. Gangguan suplai ini merupakan imbas dari adanya sampah di sumber air baku mereka yang berlokasi di Bogor.

Gatra Vaganza, Senior Manager Corporate & Customer Communication PAM Jaya, menegaskan bahwa masalah ini bukan terjadi selama bertahun-tahun seperti keluhan warga. Menurutnya, kondisi air kotor dan bau tersebut baru terjadi selama beberapa waktu terakhir akibat kekurangan pasokan air baku yang signifikan. Penjelasan ini memberikan gambaran lebih jelas mengenai akar permasalahan yang ada.

Penyebab Air Kotor dan Upaya Penanganan PAM Jaya

Menipisnya pasokan air baku dari PDAM TKR berdampak langsung pada volume air di dalam Distribution Service Reservoir (DSR) 4 milik PAM Jaya yang berlokasi di kawasan Permata Hijau. Penurunan volume air secara drastis ini menyebabkan endapan lumpur di dasar reservoir ikut tersedot ke dalam jaringan pipa distribusi warga. Hal inilah yang menjadi penyebab utama air menjadi kotor dan berbau saat sampai ke rumah-rumah pelanggan.

Untuk mengatasi masalah air kotor tersebut, PAM Jaya telah melakukan tindakan flushing atau pengurasan jaringan pipa di wilayah Rawa Buaya. Proses ini bertujuan untuk membuang endapan lumpur yang menumpuk di dalam pipa distribusi. Gatra menjelaskan bahwa langkah ini merupakan salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk membersihkan sisa-sisa kotoran yang terbawa aliran air.

PAM Jaya juga telah mengambil sampel air di beberapa rumah pelanggan di RT 05/RW 02 dan memastikan bahwa air sudah kembali jernih. Meskipun demikian, PAM Jaya menyarankan agar warga membiarkan keran terbuka sejenak jika masih ada sisa kotoran yang keluar dari keran. Hal ini untuk memastikan endapan terakhir di jaringan pipa pelanggan dapat terbuang sepenuhnya.

Tantangan Distribusi Air dan Ketergantungan Pasokan

Terkait keluhan warga bahwa air PAM sering mati pada siang hari dan baru mengalir deras pada dini hari, Gatra Vaganza membenarkan fenomena tersebut. Hal ini terjadi karena kawasan Rawa Buaya dan sekitarnya berada di titik paling ujung dari jaringan distribusi pipa PAM Jaya di wilayah barat. Pada waktu sibuk seperti pagi dan sore hari, air sudah banyak digunakan oleh pelanggan yang rumahnya berada di area dekat penampungan air.

PAM Jaya juga mengakui masih tingginya tingkat kebocoran pipa atau Non-Revenue Water (NRW) di jaringan mereka, yang semakin memperburuk distribusi air menjadi tidak optimal. Gatra menjelaskan bahwa ketika air dipakai bersamaan, pelanggan di ujung jaringan pasti hanya akan mendapatkan sisa pasokan. Namun, saat jam-jam tidak sibuk, pasokan air akan lebih lancar karena penggunaan oleh pelanggan lain berkurang.

Oleh karena itu, wilayah permukiman yang berada di paling ujung jaringan baru bisa tersuplai dengan maksimal saat sebagian besar warga Jakarta sedang terlelap pada malam hari. Kondisi ini menunjukkan adanya tantangan signifikan dalam pemerataan distribusi air bersih di seluruh wilayah layanan PAM Jaya.

Proyek SPAM Karian-Serpong dan Target Layanan 100 Persen

Pasokan air untuk kawasan Jakarta Barat sebetulnya sangat bergantung pada proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Karian-Serpong yang dikerjakan pemerintah pusat. Namun, proyek yang awalnya ditargetkan beroperasi pada tahun 2023 tersebut mengalami penundaan dan belum juga selesai hingga saat ini. Penundaan ini menjadi salah satu faktor yang membuat PAM Jaya masih sangat mengandalkan pasokan dari PDAM TKR dan Tirta Benteng di Tangerang.

PAM Jaya juga terus melakukan perluasan jaringan perpipaan dan menambah jumlah pelanggan. Namun, peningkatan jumlah pelanggan ini belum diimbangi dengan penambahan jumlah produksi air baku. Asumsi Gatra, dengan produksi air yang stagnan sementara jumlah pelanggan terus bertambah, suplai air per pelanggan menjadi tidak seimbang.

Meskipun proyek SPAM Karian-Serpong tertunda, PAM Jaya memastikan target layanan air perpipaan 100 persen untuk seluruh warga Jakarta pada tahun 2029 akan tetap dikejar. Target ini dicanangkan oleh pemerintah provinsi DKI Jakarta. PAM Jaya berinisiatif membangun empat Instalasi Pengolahan Air (IPA) baru untuk mengimbangi suplai produksi dan mencapai target tersebut, tanpa menjadikan penundaan proyek sebagai alasan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi