Perumda PAM Jaya terus mengejar target layanan air perpipaan 100 persen bagi warga Jakarta hingga tahun 2029. Upaya ini dilakukan setelah pengambilalihan pengelolaan dari swasta pada Februari 2023. Direktur Utama PAM Jaya, Arief Nasrudin, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menambah 124 ribu sambungan rumah tangga sejak saat itu.
Target ambisius yang dipatok Gubernur DKI Jakarta ini mencakup pembangunan 7.000 kilometer pipa baru di seluruh wilayah ibu kota. Proyek besar ini tidak terlepas dari berbagai tantangan signifikan yang harus dihadapi oleh PAM Jaya. Salah satunya adalah masalah pasokan air baku yang masih sangat bergantung pada wilayah luar Jakarta.
Selain itu, infrastruktur jaringan pipa air bersih yang sudah tua juga menjadi pekerjaan rumah besar bagi PAM Jaya. Meskipun demikian, Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) DKI Jakarta ini berkomitmen untuk bekerja keras. Tujuannya adalah untuk mengakhiri ketergantungan warga terhadap air galon dan gerobak air, demi ketersediaan air bersih yang merata.
Advertisement
Advertisement
Tantangan Pasokan Air Baku dan Infrastruktur Tua
Salah satu kendala utama yang dihadapi PAM Jaya adalah ketersediaan air baku yang memadai untuk memenuhi kebutuhan ibu kota. Arief Nasrudin menjelaskan bahwa Bendungan Karian yang dijanjikan oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU) belum dapat berkontribusi secara optimal. Kondisi ini membuat Jakarta masih sangat bergantung pada pasokan air dari luar wilayah.
Saat ini, sekitar 85 persen pasokan air baku untuk Jakarta masih berasal dari luar daerah, termasuk dari Waduk Jatiluhur di Jawa Barat. "Tapi pesan Pak Gubernur jelas jangan bergantung pada satu sumber. Kami cari alternatif, bahkan ke Banten," kata Arief. Hal ini menunjukkan upaya PAM Jaya untuk mendiversifikasi sumber air.
Tantangan lain yang tidak kalah berat adalah kondisi jaringan pipa air bersih yang sudah berusia tua. Tercatat, sekitar 70 persen pipa-pipa tersebut telah berusia antara 25 hingga 40 tahun. Sebagian besar pipa ini juga bukan merupakan "food grade", sehingga rawan mengalami kebocoran dan penurunan kualitas air.
Advertisement
Kebocoran pada jaringan pipa lama ini menyebabkan tingginya angka "non-revenue water" (NRW), yang diperkirakan menimbulkan kerugian hingga Rp1 triliun per tahun. Kondisi ini menuntut PAM Jaya untuk melakukan perbaikan dan penggantian secara masif. Upaya ini penting untuk memastikan efisiensi dan kualitas layanan air yang diberikan kepada masyarakat.
Advertisement
Inovasi dan Transformasi Digital PAM Jaya
Untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut, PAM Jaya mempercepat inovasi dan pengembangan infrastruktur air. Empat instalasi pengolahan air (IPA) baru sedang disiapkan di beberapa lokasi strategis. Lokasi tersebut meliputi Semanan, Muara Karang, Condet, dan Kanal Banjir Barat 2, untuk meningkatkan kapasitas produksi.
Selain pembangunan IPA baru, PAM Jaya juga meluncurkan teknologi penjernihan air (water purifier) untuk memastikan kualitas air. Teknologi ini memungkinkan air perpipaan tetap layak minum. Hal ini berlaku meskipun air tersebut melewati jaringan pipa yang sudah lama dan rentan, menjaga standar kesehatan.
PAM Jaya juga gencar melakukan transformasi digital untuk meningkatkan efisiensi dan pelayanan kepada pelanggan. Pihaknya telah meluncurkan "super apps" untuk memudahkan akses informasi dan layanan bagi pelanggan. Selain itu, mereka menerapkan "smart water" meter digital pada 49 ribu pelanggan untuk akurasi data penggunaan.
Advertisement
Guna memastikan kualitas air secara berkelanjutan, PAM Jaya membangun mobil laboratorium mikrobiologi. Laboratorium bergerak ini memungkinkan uji kualitas air dilakukan secara cepat di lapangan. Inisiatif ini menunjukkan komitmen PAM Jaya terhadap standar kesehatan dan keamanan air yang disalurkan kepada warga.
Advertisement
Komitmen PAM Jaya untuk Ketersediaan Air Bersih
Direktur Utama PAM Jaya, Arief Nasrudin, menegaskan bahwa air perpipaan dari PAM Jaya sangat terjangkau. "Air perpipaan PAM hanya Rp1 per liter, sangat murah dibanding air kemasan," ujarnya. PAM Jaya berharap masyarakat dapat beralih dari air kemasan ke air perpipaan yang lebih ekonomis dan berkelanjutan untuk kebutuhan sehari-hari.
Sebagai Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) DKI Jakarta, PAM Jaya tidak menggunakan air tanah sebagai sumber pasokan utama. Mereka hanya mengolah air permukaan untuk didistribusikan kepada warga. Pendekatan ini mendukung pelestarian lingkungan dan keberlanjutan sumber daya air tanah di Jakarta.
Arief Nasrudin menyatakan komitmen kuat PAM Jaya untuk mencapai target ambisius mereka. "Kami bekerja siang malam untuk mengakhiri ketergantungan warga kepada air galon dan gerobak," katanya. Target 100 persen layanan air perpipaan pada tahun 2029 harus tercapai demi kesejahteraan masyarakat.
Advertisement
Dengan berbagai upaya inovasi, pembangunan infrastruktur, dan transformasi digital, PAM Jaya optimistis. Mereka yakin dapat menyediakan akses air bersih yang merata dan berkualitas bagi seluruh warga Jakarta. Ini merupakan langkah penting menuju kota yang lebih sehat dan mandiri dalam pengelolaan air.
Sumber: AntaraNews