Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Padepokan Taat Pribadi di Samarinda, dipimpin bekas tukang reparasi

Padepokan Taat Pribadi di Samarinda, dipimpin bekas tukang reparasi Padepokan Kanjeng Dimas di Samarinda. ©2016 Merdeka.com/Nur Aditya

Merdeka.com - Sebaran ajaran Kanjeng Dimas Taat Pribadi juga ditemukan di Samarinda, Kalimantan Timur. Padepokan di sana dipimpin Sultan Agung Sumaryono (44), bekas tukang reparasi barang elektronik.

Penelusuran merdeka.com, gelar Sultan Agung, diberikan Dimas Kanjeng kepada Sumaryono pada November 2015 lalu. Keberadaan padepokan itu di Jalan Ir Sutami, Gang Pusaka, Blok C, Kelurahan Karang Asam Ulu, Kecamatan Sungai Kunjang, Samarinda, Kalimantan Timur.

Pantauan di lokasi, Rabu (5/10), sebuah mobil X-Trail silver bernomor polisi KT 999 NU dan motor Honda Beat, terparkir di halaman padepokan. Tiga orang pria dan seorang wanita, terlihat tengah berada di teras padepokan.

sultan agung sumaryono

Pada gapura padepokan, tertulis Majelis Talim Daarul Ukhuwah. Namun belakangan, pascamaraknya pemberitaan tentang sepak terjang Dimas Kanjeng Taat Pribadi di berbagai media, pengelola padepokan melepas nama YPDK sebagai singkatan dari Yayasan Padepokan Dimas Kanjeng.

"Di gapura itu awalnya tertulis YPDK Majelis Ta'lim Daarul Ukhuwah. Iya, setelah ramai-ramai, tulisan YPDK dilepas," kata tetangga seberang padepokan, Suyamto, dalam perbincangan bersama merdeka.com.

Suyamto menjelaskan histori padepokan. Menurut dia, pemimpin padepokan tercatat sebagai warga RT 22. Sebelum memimpin padepokan, Sumayono dikenal sebagai tukang reparasi barang elektronik.

Padepokan di seberang rumahnya sudah ada sejak 2011 lalu. Namun, saat itu hanya menjadi lokasi pengajian biasa hingga akhirnya bernama YPDK Majelis Talim Daarul Ukhuwah, dua tahun kemudian.

padepokan kanjeng dimas di samarinda

Di padepokan, selain tulisan YPDK, sebelumnya terpasang wajah Dimas Kanjeng Taat Pribadi pada dinding padepokan. "Setelah Dimas Kanjeng ditangkap, gambarnya dan atributnya diturunkan, dilepas," ujar Suyamto.

Sumaryono, kata tetangganya itu, bukan orang baru bagi warga di RT 22. Dia dikenal sudah lama tinggal di lingkungan itu. Di rumah sekaligus padepokannya, Sumaryono tinggal bersama istri keempatnya, dan anak-anak dari istri sebelumnya. Bahkan pengikut dalam padepokan itu terus bertambah.

"Hingga akhirnya, November 2015 lalu, Sumaryono dilantik Dimas Kanjeng itu sebagai Sultan Agung. Sekarang dia (Sumaryono) pergi ke Jawa Timur, dengan istri dan anak-anaknya, setelah Dimas Kanjeng ditangkap," terang Suyamto.

"Dia memang sebagai pemimpin padepokan, sepertinya untuk Kalimantan Timur. Karena waktu dilantik itu, yang datang dari Tarakan, Balikpapan, Tanah Grogot. Tapi tidak ada warga sekitar padepokan yang jadi pengikutnya," sebut Suyamto.

Di lokasi padepokan, merdeka.com mencoba untuk menemui penjaga rumah padepokan milik Sumaryono itu. Namun tiga pria dan seorang wanita berada di teras rumah itu enggan berkomentar saat ditemui.

(mdk/ang)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP