Orang Tua Korban Bom Gereja di Samarinda Tolak Wacana Pemulangan WNI Eks ISIS

Senin, 10 Februari 2020 21:08 Reporter : Saud Rosadi
Orang Tua Korban Bom Gereja di Samarinda Tolak Wacana Pemulangan WNI Eks ISIS Novita Sagala, orang tua korban bom gereja di Samarinda. ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Wacana pemulangan ratusan WNI eks Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), menuai pro kontra. Bagi orang tua anak korban bom Gereja Oikumene di Samarinda, menegaskan penolakan kepulangan itu.

Bom molotov di Gereja Oikumene, yang terjadi 13 November 2016 lalu itu masih teringat jelas dan menyisakan trauma bagi Novita Sagala (43), orang tua dari Alvaro Sinaga. Saat itu, Alvaro menjelang usia 4 tahun.

Dia menjadi korban ledakan bom saat itu, dengan luka parah di kepala. Beragam upaya dilakukan, untuk menyelamatkan nyawa bocah itu. Upaya pun berhasil, dan kini Alvaro berusia 7 tahun, duduk di bangku kelas I SD.

"Saya sangat menolak," kata Novita yang juga seorang PNS Polresta Samarinda saat ditemui merdeka.com di kantornya, Senin (10/2).

Novita punya alasan penolakan terhadap wacana pemulangan 600 WNI eks ISIS itu ke Tanah Air. "Karena apa yang mereka lakukan itu, kita sudah alami. Mungkin beda dengan orang yang belum mengalami. Jadi sangat sangat menentang kepulangan mereka," ujar Novita.

Novita berharap, 600 WNI eks kombatan ISIS itu tidak dipulangkan. "Karena mereka kan sudah menyatakan bukan WNI lagi," sebut Novita.

Terlebih lagi lanjut Novita, memulangkan mereka dinilai memerlukan dana tidak sedikit. "Mau kembalikan mereka ke Indonesia, kan perlu biaya. Sementara, anak saya saja, belum ada biaya dari pemerintah (untuk kelangsungan masa depan). Hanya sebatas perawatan di rumah sakit," demikian Novita. [cob]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini