Ombudsman Sebut Pemeriksaan Pengunggah Guyonan Gus Dur Mengarah Intimidasi

Kamis, 18 Juni 2020 17:53 Reporter : Bachtiarudin Alam
Ombudsman Sebut Pemeriksaan Pengunggah Guyonan Gus Dur Mengarah Intimidasi Ilustrasi Polisi. ©2015 merdeka.com/imam mubarok

Merdeka.com - Pemanggilan polisi terhadap warga Kepulauan Sula, Ismail Ahmad (41) lantaran mengunggah guyonan Presiden Keempat Abdurrahman Wahid alias Gus Dur soal polisi di media sosial disoroti pelbagai pihak. Guyonan Gus Dur yang diunggah Ismail pada akun Facebooknya berbunyi 'Hanya ada tiga polisi jujur di Indonesia: Patung Polisi, Polisi Tidur, dan Jenderal Hoegeng'.

Anggota Ombudsman RI Ninik Rahayu menyayangkan jika polisi melakukan pemanggilan warga bernama Ismail atas joke tersebut. Dia melihat pemanggilan itu malah mengarah kepada intimidatif dan kepolisian tidak bisa membedakan mana tingkatan joke.

"Ketika ada intimidasi atau upaya-upaya pengamanan dengan tidak mengedepankan cara edukatif, itu juga harus menjadi perhatian pihak keamanan, misal yang terjadi hari ini di Maluku, di Maluku Utara. Bagaimana seseorang menyampaikan joke, menirukan joke yang pernah disampaikan almarhum presiden Abdurrahman Wahid lalu diperlakukan dengan cara-cara yang mengarah ke intimidatif," ujar Ninik dalam konferensi pers Ombudsman RI pada Kamis (18/6).

Terlebih, Ninik menjelaskan jika tingkat literasi pemahaman masyarakat terhadap aturan keamanan cyber masih rendah, terlebih undang-undang ITE.

"Kita tahu bahwa masyarakat kita ini hanya 50 persen yang paham UU ITE, maka ada situasi bullying ada situasi kecanduan konten negatif, dan atau ketidak pahaman terhadap informasi mana yang joke atau mana yang sebetulnya tindak kriminal," ujar dia.

"Ini jadi tugas pemerintah dan aparat keamanan untuk memberikan penguatan kapasitas kepada masyarakat kita dan juga melakukan pendekatan-pendekatan yang lebih akomodatif ketimbang cara-cara kekerasan," tambahnya.

Selain itu, dia juga menyoroti sikap kepolisian terkait kebebasan berekspresi masyarakat dan perlindungan yang lambat. Salah satunya mengenai intimidasi dan ancaman yang diterima narasumber serta panitia acara diskusi mahasiswa Constitutional Law Society (CLS) Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM).

"Pihak keamanan harus respon terhadap kasus-kasus seperti ini agar dapat menangkap pihak-pihak yaang melakukan kejahatan seperti ini sehingga situasi lebih kondusif," kata dia.

Baca Selanjutnya: Alasan Polisi Panggil Ismail...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini