Novel Baswedan Ungkap Firli Ngotot TWK karena Anggap Ada Pegawai KPK Taliban

Minggu, 20 Juni 2021 23:56 Reporter : Yunita Amalia
Novel Baswedan Ungkap Firli Ngotot TWK karena Anggap Ada Pegawai KPK Taliban Novel Baswedan di Komnas HAM. ©2021 Merdeka.com

Merdeka.com - Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan menyebut Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) yang diusulkan Ketua KPK Firli Bahuri karena meyakini adanya kelompok taliban di antara pegawai lembaga anti rasuah. Usulan itu diajukan Firli secara terselubung saat pembahasan Peraturan Komisi tentang peralihan status pegawai KPK telah rampung pada November 2020.

Dalam perbincangannya bersama Anita Wahid sebagai Deputi Direktur Public Virtue Research Institute (PVRI) yang disiarkan melalui kanal YouTube Public Virtue Institute, Novel menyampaikan dalam satu rapat pimpinan, Firli secara tiba-tiba meminta adanya assessment atau penilaian dari psikologi TNI-AD.

"Pak Firli mengatakan karena di KPK banyak taliban, jadi pertanyaannya kenapa Pak Firli ngomong begitu nih?" ujar Novel, Minggu (20/6).

Empat pimpinan KPK saat itu tidak merespons atas usulan Firli membuat tes psikologi yang akhirnya disebut dengan nama TWK. Novel meyakini, sikap tak bergeming 4 Wakil Ketua KPK atas usulan Firli karena tidak logis dan terkesan mengada-ada.

Namun, usulan TWK terus dilancarkan dan diserahkan ke Kementerian Hukum dan HAM untuk dilakukan harmonisasi Perkom KPK.

Kendati 4 Wakil Ketua KPK, saat rapat pimpinan tidak menunjukkan respons apapun terhadap usulan Firli. TWK tetap berjalan. Hal ini kemudian mencuatkan pertanyaan. Sebab keputusan pimpinan bersifat collective collegial. Artinya tidak bisa keputusan harus dijalani berdasarkan kesepakatan bersama.

Kondisi itu, kata Novel, bahkan diakui Wakil Ketua KPK. Tanpa menyebutkan nama wakil tersebut, Novel bercerita banyak keluhan wakil ketua tentang dominasi seseorang dalam kepemimpinan lembaga anti rasuah tersebut.

"Bahkan dalam beberapa keadaan, empat pimpinan ingin melakukan sesuatu dan yang satu ini tidak mau, itu enggak bisa terjadi," ungkapnya.

Kondisi seperti itu dinilai Novel sangat mengganggu kinerja dan roda organisasi KPK sebagai lembaga eksekutif saat ini.

Dominasi satu orang itu pula yang menyebabkan Sekjen KPK atau Biro SDM KPK tidak mengetahui apapun terkait adanya TWK kontroversial tersebut.

"Mereka tidak dilibatkan pertemuan terakhir," kata dia. [gil]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini