Nenek Sumirah Hidup Sebatang Kara, Jualan Sapu Lidi agar Tidak Mengemis

Selasa, 3 Desember 2019 05:08 Reporter : Muhammad Permana
Nenek Sumirah Hidup Sebatang Kara, Jualan Sapu Lidi agar Tidak Mengemis Nenek Sumirah. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Meski pemerintah terus menggencarkan berbagai program bantuan sosial selama beberapa tahun terakhir, masih kerap ditemui warga yang belum menikmati bantuan tersebut. Seperti kisah iba yang dialami Nenek Sumirah, asal Jember, Jawa Timur. Perempuan renta berusia 65 tahun ini harus hidup sebatang kara dengan kondisi fisik yang tidak sempurna.

Beberapa jari yang ada di tangan dan kakinya tidak utuh. Hal ini cukup menyulitkan aktivitas sehari-hari nenek malang yang tinggal di RT 01 RW 11, Dusun Selodakon, Desa Selodakon, Kecamatan Tanggul.

"Saya lupa, mulai kapan kondisi saya seperti ini. Saya juga tidak tahu penyebabnya apa. Rasanya sering ngilu atau perih gitu," ujar Nenek Sumirah pasrah.

Dugaan sementara, penyebab jari tersebut 'patah' karena faktor usia dan penyakit lansia. Mbah Sumirah tidak bisa memastikan, karena ia tidak tahu harus berbuat apa untuk mengatasi kondisinya yang serba terbatas.

"Saya tidak pernah periksa ke dokter atau puskesmas. Karena memang tidak punya uang. Saya tidak tahu harus gimana," ujar Nenek Sumirah dengan bahasa daerah yang kental.

Ujian hidup Nenek Sumirah kian bertambah, karena sejak beberapa tahun terakhir, dia harus hidup sebatang kara. Suami dan anak-anaknya sudah meninggal dunia. "Saya lupa kapan meninggalnya," ujar Nenek Sumirah pasrah.

Dengan kondisi keterbatasan fisik yang memilukan itu, Nenek Sumirah tidak lantas berpangku tangan. Dari gubuk reyotnya yang amat memprihatinkan, Nenek Sumirah terus berjuang bertahan hidup. Ia enggan menyerah pada keterbatasan hidup. Tidak terbersit keinginan untuk mengemis di jalanan. Mengais rejeki dengan mengundang iba.

Untuk bertahan hidup dengan mandiri, Nenek Sumirah menjalaninya dengan menjadi pembuat sapu lidi. Perjuangannya tidak mudah. Setiap harinya, dia harus berjalan sejauh 100 meter ke kebun milik tetangganya untuk mengais daun kelapa yang jatuh, sebagai bahan baku membuat sapu lidi. Penghasilannya pun tak menentu. Paling banter hanya sekitar Rp10 ribu. Jumlah yang amat minim untuk memenuhi hidup sehari-hari.

"Saya jual ke pengepul seharga Rp2 ribu. Saya paling kuat ya cuma bikin 5 biji," tutur Nenek Sumirah. Menggunakan pisau, Nenek Sumirah nampak terampil memotong-motong daun kelapa untuk diambil tulang daunnya sebagai bahan pembuat sapu lidi. Untuk membuat sebuah sapu lidi, butuh waktu yang juga tidak singkat.

Jika ia sedang tidak mampu berjalan ke kebun, ada saja tetangga yang mengiriminya bahan baku. Sehingga Nenek Sumirah bisa membuat sapu lidi dari rumah.

Dengan kondisi yang memilukan itu, beberapa tetangga kerap memberikan belas kasih seperti bahan makanan, baju atau uang. Namun sayangnya, Nenek Sumirah mengaku belum pernah mendapat bantuan dari pemerintah.

"Belum pernah dapat, tidak tahu kenapa," aku Nenek Sumirah.

Dengan keadaan yang serba terbatas, Nenek Sumirah tidak punya pilihan lain selain bekerja demi menyambung hidup. "Alhamdulillah, disyukuri saja kondisinya seperti ini," pungkas Nenek Sumirah pilu, dari gubuk reyotnya seukuran 4 x 5 meter persegi itu. [cob]

Topik berita Terkait:
  1. Kisah Inspiratif
  2. Kemiskinan
  3. Jember
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini