Mitos Sepatu Penyebab Kaki Datar Bayi Terbantahkan, Dokter Ungkap Fakta Sebenarnya

Banyak orang tua khawatir soal Kaki Datar Bayi, namun dokter spesialis ortopedi anak membantah mitos bahwa sepatu menjadi penyebab utamanya. Simak penjelasan lengkapnya!

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Mitos Sepatu Penyebab Kaki Datar Bayi Terbantahkan, Dokter Ungkap Fakta Sebenarnya
Banyak orang tua khawatir soal telapak kaki bayi datar dan pilihan sepatu yang tepat. Dokter ortopedi anak membongkar mitos, menjelaskan mengapa telapak kaki bayi datar itu normal dan kapan perlu penanganan khusus. (AntaraNews)

Dokter spesialis ortopedi subspesialis ortopedi anak, dr. Mohammad Aulia Herdiyana, Sp.OT, Subsp. A. (K), menegaskan bahwa jenis sepatu tidak menyebabkan Kaki Datar Bayi. Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah temu media di Jakarta pada hari Rabu. Ia menyoroti banyaknya mitos seputar kondisi flat foot yang kerap membuat orang tua khawatir.

Menurut dr. Mohammad Aulia, mayoritas bayi baru lahir memang memiliki telapak kaki datar. Kondisi ini umumnya membaik seiring bertambahnya usia anak tanpa intervensi khusus. Kecuali jika ada faktor keturunan yang kuat yang menyebabkan kondisi tersebut persisten hingga dewasa.

Dengan demikian, dr. Aulia menekankan bahwa selama anak dapat berjalan dengan nyaman dan tidak memiliki keluhan apapun, sepatu apapun yang dikenakan tidak akan memberikan dampak pada kakinya. Ia juga menambahkan bahwa tidak ada sepatu khusus yang diperlukan untuk kondisi Kaki Datar Bayi yang normal.

dr. Mohammad Aulia Herdiyana menjelaskan bahwa kekhawatiran orang tua mengenai Kaki Datar Bayi seringkali didasari oleh informasi yang kurang tepat. Ia menekankan bahwa secara alamiah, sebagian besar bayi yang baru lahir memang memiliki telapak kaki yang terlihat datar. Hal ini disebabkan oleh fleksibilitas tulang dan sendi serta lapisan lemak tebal di bawah kulitnya.

Berdasarkan penelitian terbaru, kondisi telapak kaki datar pada bayi bukanlah suatu kelainan yang perlu dikhawatirkan. Kaki bayi akan mengalami perkembangan dan penguatan otot seiring waktu. Umumnya, lengkungan telapak kaki akan mulai terbentuk dan membaik secara alami saat anak mencapai usia 2 hingga 4 tahun.

Namun, Aulia menambahkan bahwa terdapat pengecualian jika kondisi kaki datar tersebut berkaitan dengan faktor keturunan. Jika ada riwayat keluarga dengan kondisi flat foot yang persisten, kemungkinan besar kondisi tersebut akan tetap ada hingga anak dewasa. Ia menganalogikan hal ini seperti bentuk hidung yang mancung karena faktor genetik yang kuat.

Meskipun Kaki Datar Bayi seringkali normal, dr. Aulia menegaskan bahwa intervensi medis hanya diperlukan dalam kasus tertentu. Dokter tidak akan memberikan tindakan khusus kecuali anak menunjukkan adanya kelainan struktural atau mengalami keluhan yang mengganggu. Hal ini penting untuk dipahami agar orang tua tidak panik berlebihan.

Beberapa indikasi yang memerlukan penanganan medis antara lain adalah jika kaki anak terlalu berbentuk X atau valgus. Kondisi ini dapat menyebabkan anak kesulitan berjalan atau merasakan sakit pada bagian dalam kaki. Rasa sakit ini timbul karena tekanan berlebihan akibat fleksibilitas kaki yang berlebihan.

Untuk kasus-kasus yang memerlukan intervensi, penanganan bisa bervariasi. Pemasangan insole khusus dapat membantu menahan kaki agar tidak terlalu menekan bagian dalam. Dalam beberapa situasi yang lebih parah, teknik operasi mungkin diperlukan untuk koreksi bentuk kaki.

Aulia kembali menekankan bahwa selama anak dapat berjalan dengan nyaman dan tidak menunjukkan keluhan apapun, jenis sepatu yang dikenakan tidak akan memberikan dampak negatif. Kenyamanan anak adalah prioritas utama dalam memilih alas kaki. Tidak ada sepatu khusus yang wajib digunakan untuk kondisi Kaki Datar Bayi yang normal.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi