Misteri Pembelian Pesawat Jet J-10 Chengdu: Kemenhan China Hati-hati, Anggaran Indonesia Belum Jelas
Kementerian Pertahanan China bersikap hati-hati soal ekspor Pesawat Jet J-10 Chengdu, sementara rencana pembelian oleh Indonesia masih dikaji dan anggaran belum pasti. Akankah jet tempur ini segera terbang di langit Jakarta?
Kementerian Pertahanan China secara terbuka menyatakan sikap kehati-hatian terkait rencana ekspor Pesawat Jet J-10 Chengdu buatan Tiongkok kepada negara lain. Pernyataan ini disampaikan di Beijing, menyoroti pendekatan serius China dalam perdagangan produk militer.
Juru Bicara Kementerian Pertahanan China, Zhang Xiaogang, menegaskan bahwa, "China selalu mengambil sikap yang berhati-hati dan bertanggung jawab dalam ekspor produk militer." Hal ini mencerminkan komitmen Beijing untuk menjaga stabilitas regional dan internasional melalui kebijakan ekspor pertahanan yang ketat.
Di sisi lain, Indonesia melalui Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, pada 15 Oktober 2025, sempat mengisyaratkan bahwa Pesawat Jet J-10 Chengdu akan segera terbang di Jakarta. Namun, detail mengenai waktu pasti dan proses akuisisi Pesawat Jet J-10 Chengdu ini belum diungkapkan secara spesifik.
Sikap Hati-hati Beijing dalam Ekspor Pertahanan
Kementerian Pertahanan China menekankan pentingnya kehati-hatian dalam setiap transaksi ekspor produk militer mereka. Zhang Xiaogang menambahkan bahwa China siap bekerja sama dengan negara-negara yang memiliki komitmen serupa terhadap perdamaian dunia.
Pernyataan ini menggarisbawahi filosofi China untuk berbagi kemajuan dalam pembangunan peralatan pertahanan. Tujuannya adalah untuk bersama-sama menjaga perdamaian dan stabilitas, baik di tingkat regional maupun internasional.
Sikap ini juga menunjukkan bahwa keputusan ekspor Pesawat Jet J-10 Chengdu atau produk militer lainnya tidak hanya didasarkan pada pertimbangan komersial. Namun juga mempertimbangkan implikasi geopolitik dan keamanan yang lebih luas.
Rencana Akuisisi Pesawat Jet J-10 Chengdu oleh Indonesia
Rencana pembelian Pesawat Jet J-10 Chengdu oleh Kementerian Pertahanan Indonesia saat ini masih dalam tahap pengkajian mendalam. Kepala Biro Informasi Pertahanan Setjen Kementerian Pertahanan, Brigjen TNI Frega Wenas Inkiriwang, mengungkapkan bahwa TNI AU sedang meninjau pesawat tempur tersebut.
Proses pengkajian ini krusial untuk memastikan bahwa Pesawat Jet J-10 Chengdu merupakan pilihan yang tepat. Tujuannya adalah untuk memperkuat kemampuan pertahanan udara Indonesia sesuai dengan kebutuhan strategis negara.
Sementara itu, Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Mabes TNI Mayjen TNI (Mar) Freddy Ardianzah meyakinkan bahwa akuisisi Pesawat Jet J-10 Chengdu tidak akan mengganggu hubungan militer Indonesia dengan negara lain. Termasuk Amerika Serikat, menunjukkan bahwa keputusan ini diambil dengan pertimbangan diplomatik yang matang.
Polemik Anggaran dan Verifikasi Keuangan
Aspek anggaran menjadi salah satu sorotan utama dalam rencana pembelian Pesawat Jet J-10 Chengdu ini. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku belum menerima detail spesifik mengenai alokasi anggaran untuk akuisisi pesawat tempur tersebut.
Meskipun Purbaya telah menyetujui permintaan anggaran senilai 9 miliar dolar Amerika Serikat (AS) dari Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin untuk tahun depan, ia tidak dapat memastikan apakah dana tersebut akan digunakan untuk Pesawat Jet J-10 Chengdu. "Saya nggak tahu ini baru lagi atau nggak. Harusnya sih yang disebutkan sudah masuk yang dianggarkan. Tapi saya harus double check lagi, apa dia mau impor tahun depannya lagi atau kapan. Tapi yang dia (Menhan) minta selama ini sudah kami penuhi," ujarnya.
Purbaya menyatakan komitmennya untuk memverifikasi ulang rencana pembelian Pesawat Jet J-10 Chengdu, termasuk skema impor pesawat buatan China itu. Informasi dari media Prancis juga menyebutkan bahwa kontrak pembelian J-10 sempat tertunda karena masalah pendanaan, namun kini disebut akan dilanjutkan melalui skema pembayaran dari China, menambah kompleksitas dalam proses akuisisi ini.
Sumber: AntaraNews