Warga Lampung dan Banten dihebohkan dengan penampakan benda langit misterius pada Sabtu malam. Objek terang yang meluncur dan terpecah di langit tersebut memicu berbagai spekulasi di media sosial. Profesor Astronomi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, segera memberikan penjelasan mengenai fenomena ini.
Thomas Djamaluddin memastikan bahwa benda langit yang viral tersebut merupakan sampah antariksa. Ia menjelaskan bahwa objek tersebut adalah pecahan dari bekas roket China CZ-3B. Penjelasan ini meredakan kekhawatiran masyarakat akan kemungkinan benda asing lainnya.
Menurut analisis terbaru, sampah antariksa ini meluncur dari arah India menuju Samudera Hindia. Objek tersebut terlihat jelas oleh warga sekitar pukul 19:56 WIB. Saat itu, ketinggiannya sudah turun signifikan hingga di bawah 120 km.
Advertisement
Advertisement
Profesor Thomas Djamaluddin secara rinci mengidentifikasi benda langit yang terlihat di Lampung sebagai bekas roket China CZ-3B. Roket ini sebelumnya telah meluncur dan kini serpihannya kembali memasuki atmosfer Bumi. Identifikasi ini didasarkan pada data dan analisis orbit terkini yang sangat presisi.
Informasi terbaru dari Space-Track, sebuah sistem pelacakan objek antariksa, mendukung pernyataan Thomas. Analisis orbit menunjukkan bahwa pecahan roket tersebut meluncur dari arah India. Perjalanan objek ini berlanjut menuju Samudera Hindia, tepatnya di pantai barat Sumatera.
Fenomena re-entry atau masuk kembali ke atmosfer Bumi ini bukanlah hal yang aneh dalam dunia antariksa. Banyak objek buatan manusia di orbit Bumi pada akhirnya akan jatuh kembali karena tarikan gravitasi dan gesekan atmosfer. Namun, tidak semua re-entry dapat terlihat jelas seperti kasus di Lampung ini, tergantung pada ukuran dan komposisi objek.
Advertisement
Keberadaan sampah antariksa ini menjadi perhatian global karena potensi risikonya. Meskipun sebagian besar akan terbakar habis di atmosfer, pecahan yang lebih besar dapat mencapai permukaan Bumi. Oleh karena itu, pemantauan ketat terhadap objek-objek ini sangatlah penting.
Advertisement
Ketika objek sampah antariksa mencapai ketinggian di bawah 120 km, ia mulai berinteraksi dengan atmosfer padat Bumi. Gesekan yang sangat kuat dengan molekul udara menyebabkan objek tersebut memanas dengan cepat hingga mencapai suhu ribuan derajat Celsius. Proses ini menghasilkan pijaran cahaya yang sangat terang dan seringkali dramatis.
Pijaran cahaya inilah yang disaksikan oleh warga di Lampung dan Banten pada malam hari, menciptakan pemandangan yang memukau sekaligus membingungkan. Objek tersebut tidak hanya bersinar terang, tetapi juga terus meluncur dan terbakar hebat. Panas ekstrem menyebabkan material objek tidak mampu bertahan dari tekanan aerodinamis dan suhu tinggi.
Akibatnya, sampah antariksa tersebut pecah menjadi beberapa bagian saat masih di udara, seringkali terlihat seperti kembang api raksasa. Pecahan-pecahan ini kemudian terlihat berpencar, menciptakan pemandangan yang spektakuler namun juga sempat menimbulkan kekhawatiran. Peristiwa ini merupakan bagian alami dari siklus hidup objek buatan manusia di luar angkasa yang tidak lagi berfungsi.
Advertisement
Kejadian seperti ini mengingatkan kita akan banyaknya objek buatan manusia yang mengorbit Bumi. Diperkirakan ada jutaan fragmen sampah antariksa yang berukuran bervariasi. Para ilmuwan terus berupaya mencari solusi untuk mengurangi jumlah sampah antariksa demi keberlanjutan eksplorasi luar angkasa.
Sumber: AntaraNews