Misteri 36 Piring Panjang dan 38 Lilin Pengiring dalam Sakralnya Prosesi Panjang Jimat Keraton Kasepuhan Cirebon

Saksikan langsung sakralnya Prosesi Panjang Jimat di Keraton Kasepuhan Cirebon, tradisi warisan Sunan Gunung Jati yang penuh makna filosofis dan pesan persatuan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Misteri 36 Piring Panjang dan 38 Lilin Pengiring dalam Sakralnya Prosesi Panjang Jimat Keraton Kasepuhan Cirebon
Saksikan langsung sakralnya Prosesi Panjang Jimat di Keraton Kasepuhan Cirebon, tradisi warisan Sunan Gunung Jati yang penuh makna filosofis dan pesan persatuan. (Merdeka.com)

Keraton Kasepuhan di Kota Cirebon, Jawa Barat, selalu menjadi pusat perhatian, terutama saat bulan Maulid tiba. Halaman keraton yang biasanya lengang, pada Jumat (5/9) malam dipenuhi ribuan pengunjung. Mereka datang berbondong-bondong untuk menyaksikan tradisi sakral yang telah berlangsung ratusan tahun, yaitu upacara Prosesi Panjang Jimat.

Prosesi Panjang Jimat merupakan puncak peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW, sekaligus warisan berharga dari Sunan Gunung Jati. Tradisi ini terus dirawat dengan penuh khidmat, sembari meneguhkan nilai-nilai kebersamaan dan spiritualitas mendalam. Setiap tahun, keraton di Cirebon ini menjadi magnet kuat bagi siapa saja yang ingin merasakan khidmatnya malam panjang penuh doa.

Upacara ini bukan sekadar ritual tahunan; ia adalah cerminan sejarah panjang dan kekayaan budaya Cirebon. Melalui setiap tahapan Prosesi Panjang Jimat, masyarakat diajak untuk merenungkan kembali ajaran Islam dan meneladani kehidupan Nabi Muhammad SAW. Kehadiran ribuan orang menunjukkan betapa kuatnya ikatan masyarakat dengan tradisi leluhur mereka.

Makna Simbolis di Balik Setiap Langkah Prosesi

Prosesi Panjang Jimat dimulai dari Bangsal Panembahan dengan iring-iringan para kiai penghulu dan kaum Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Mereka diikuti oleh abdi dalem yang mengenakan busana adat lengkap. Pimpinan Keraton Kasepuhan kemudian menempati singgasana, sementara abdi penata upacara mempersilakan penataan nasi rosul pada tabsi Panjang Jimat.

Setiap gerakan dalam prosesi ini tampak terukur dan dilakukan tanpa tergesa-gesa, memastikan setiap detik dapat dirasakan secara mendalam. Tradisi ini melibatkan 36 piring panjang dan 38 lilin pengiring, yang setiap jumlah serta susunannya memiliki arti filosofis. Filosofi tersebut diambil dari ajaran Islam, yang kemudian dikaitkan dengan perjalanan kehidupan manusia.

"Semua yang dibawa dalam iring-iringan punya makna. Itu menggambarkan kelahiran manusia, sekaligus mengingatkan kelahiran Nabi Muhammad SAW," tutur Pangeran Patih Anom Raja Muhammad Nusantara, juru bicara keraton. Setelah penataan, suara qori’ melantunkan ayat-ayat Al-Quran, menciptakan suasana semakin khusyuk dan membuat semua orang tertegun.

Puncak malam dimulai ketika iring-iringan Prosesi Panjang Jimat bergerak menuju Langgar Agung. Barisan depan membawa cahaya lilin yang menandakan kelahiran Nabi pada malam hari, diikuti perangkat upacara seperti manggaran, nagan, dan jantungan yang melambangkan kebesaran. Selanjutnya, kelompok pembawa air mawar, pasatan, dan kembang goyang melangkah, menggambarkan proses kelahiran bayi serta rasa syukur.

Pesan Persatuan dan Kesejahteraan dari Keraton

Prosesi Panjang Jimat telah bertahan ratusan tahun sejak Keraton Kasepuhan didirikan pada tahun 1530, menjadi bukti kuatnya warisan budaya ini. "Filosofinya jelas, semuanya diambil dari ajaran Islam dan kehidupan manusia, serta meneladani kisah Nabi Muhammad SAW," kata Pangeran Patih Anom. Tradisi ini selalu dinanti sebagai pesta budaya sekaligus momen napak tilas sejarah panjang Cirebon.

Di tengah situasi politik saat ini, keraton juga menitipkan pesan penting bagi bangsa. Doa yang dipanjatkan dalam Prosesi Panjang Jimat ditujukan untuk persatuan dan agar situasi sulit dapat dilewati dengan kedewasaan politik. Demokrasi diharapkan berjalan sehat, terbuka, serta menjadi ruang menumbuhkan kebersamaan, bukan perpecahan.

Selain isu politik, perhatian juga diarahkan pada kesejahteraan rakyat. Pihak keraton menegaskan bahwa keadilan sosial dan pemerataan kesejahteraan adalah hak yang harus dirasakan oleh semua lapisan masyarakat. Keraton Kasepuhan mengingatkan bahwa kesetaraan adalah fondasi penting dalam kehidupan bernegara, dan kesenjangan sosial perlu diatasi.

Dalam setiap doa yang dilantunkan, tersirat harapan agar bangsa Indonesia tetap berjalan di jalur persaudaraan. Kebersamaan dinilai sebagai kunci untuk menghadapi segala tantangan, baik dari dalam negeri maupun dinamika global yang kompleks. Momentum Prosesi Panjang Jimat diposisikan sebagai pengingat bahwa perjalanan bangsa memerlukan landasan spiritual yang kuat.

Komitmen Damai di Tengah Dinamika Sosial

Pesan kebersamaan yang disampaikan keraton selaras dengan langkah nyata pemerintah daerah. Beberapa hari sebelum Prosesi Panjang Jimat, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Cirebon bersama berbagai elemen masyarakat telah melaksanakan deklarasi damai. Deklarasi ini merupakan komitmen untuk menjaga ketertiban dan keamanan kota.

Langkah ini diambil menyusul aksi kerusuhan yang berujung pada perusakan fasilitas umum pada 30 Agustus 2025. Wali Kota Cirebon Effendi Edo menyatakan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk mencegah kerawanan sosial. Hal ini penting untuk menghindarkan masyarakat dari provokasi yang dapat memicu kerusuhan.

Seluruh jajaran, mulai dari RT, RW, lurah, camat, hingga tokoh agama, diarahkan untuk aktif berperan menjaga keamanan di wilayah masing-masing. Forkopimda juga sepakat memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga suasana damai. Generasi muda mendapat perhatian khusus agar tidak mudah terpengaruh isu yang tidak jelas sumber kebenarannya.

Pemerintah daerah menegaskan, keberlanjutan pembangunan akan terganggu apabila muncul tindakan anarkis dari pihak tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu, masyarakat harus menolak segala bentuk provokasi demi terciptanya kondisi yang kondusif. Prosesi Panjang Jimat menjadi simbol harapan akan persatuan dan kedamaian di Cirebon.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi