Mereka yang resah ojek online mewabah hingga ke daerah

Kamis, 9 Maret 2017 07:31 Reporter : Lia Harahap
Mereka yang resah ojek online mewabah hingga ke daerah Ojek online kembali beroperasi. ©2015 merdeka.com/muhammad luthfi rahman

Merdeka.com - Bisnis angkutan online terus berkembang dalam satu tahun terakhir. Tak hanya di Jakarta, kini angkutan online merambah ke kota-kota besar lainnya.

Sebut saja seperti Bandung, Bali, Medan, Yogyakarta dan sejumlah kota lainnya. Sama seperti di Jakarta, kehadiran angkutan online ini disambut baik masyarakat karena biayanya yang relatif murah dan dapat menjemput calon penumpang di mana saja sesuai pesan yang diarahkan dalam aplikasinya.

Bagi para driver angkutan online, bisnis ini cukup menguntungkan mereka. Begitu pun bagi masyarakat yang membutuhkannya, angkutan ini dianggap mempermudah aktivitas mereka.

Namun suara berbeda datang dari kalangan angkutan lokal yang merasa tertindas dengan kehadiran angkutan online. Sama seperti di Jakarta beberapa waktu lalu, kehadiran angkutan online dianggap telah mematikan mata pencarian mereka.

Banyak pengguna angkutan umum atau ojek pangkalan beralih ke angkutan berbasis online. Hal ini membuat sopir angkutan di daerah juga menolak keras keberadaan angkutan online.

Reaksi menolak angkutan itu mereka suarakan dengan turun ke jalan. Meminta pemerintah daerah setempat mengeluarkan aturan untuk menertibkan keberadaan angkutan online.

Seperti yang terjadi di Medan beberapa waktu lalu. Ratusan pengemudi becak bermotor berunjuk rasa di depan Kantor Wali Kota Medan, Jalan Maulana Lubis, Selasa (21/2). Mereka mendesak Wali Kota Dzulmi Eldin bertindak tegas melarang operasional angkutan online.

"Kami menolak angkutan online karena menyebabkan penghasilan kami turun drastis. Sudah nggak makan kami. Mereka pun bukan angkutan umum yang legal, tidak punya izin seperti kami yang menggunakan pelat kuning," kata Sembiring, seorang penarik becak.

Pengemudi becak sweeping rekan dan pengendara go-jek

Sejak munculnya angkutan berbasis aplikasi online di Medan, pendapatan pengemudi becak di kota ini turun drastis. Mereka kehilangan penumpang, termasuk yang selama ini menjadi pelanggannya.

"Biasanya saya dapat Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu sehari, sekarang sejak ada angkutan online ini, pendapatan saya paling tinggi Rp 60 ribu sehari, padahal sewa becak saja sudah Rp 30 ribu," kata Faisal, pengemudi becak lainnya.

Pengemudi becak bermotor mengakui mereka jelas kalah bersaing dengan angkutan online. "Mereka bisa seenaknya mengambil penumpang di mana saja, sementara kami dibatasi. Kami bayar setoran dan harus mengurus perizinan angkutan umum, tapi mereka sama sekali tidak," sebut Iben, juga pengemudi becak.

Demo serupa juga terjadi di Solo. Ribuan pengendara becak menggeruduk Balai Kota Solo, pada Desember 2016 silam. Dengan mengendarai becak masing-masing, para pengendara becak yang mengenakan rompi biru bertuliskan 'SOLO' masuk dan menggelar aksi demonstrasi di halaman Pendhapi Gede.

"Tolak GO-JEK, tolak GO-JEK, tolak GO-JEK, GO-JEK tak boleh ada di Solo," teriak para peserta aksi sambil mengepalkan tangan.

Tukang becak di Solo tolak transportasi online

Ketua Forum Komunikasi Keluarga Becak Kota Surakarta, Sardi Ahmad mengatakan, semenjak kedatangan ojek online 4 bulan lalu, penghasilan para pengendara becak menurun drastis hingga 75 persen. Bahkan saat ini para pengayuh roda tiga itu tak bisa menghidupi keluarganya lagi.

"Sekarang di mal-mal, di sekolah semua dikuasai GO-JEK, kami tidak bisa narik. Dulu penghasilan kami rata-rata Rp 50 ribu per hari, sekarang sehari Rp 10 ribu aja sulit. Kami tidak bisa menyekolahkan anak, makan saja susah," keluh Sardi.

Seruan menolak angkutan online juga datang dari sopir angkutan umum di Malang. Ratusan sopir dengan membawa armada angkutannya memenuhi Alun-alun Balai Kota hingga Stasiun Kota Baru.

Sopir mendesak agar Wali Kota Malang Moch Anton serius melarang angkutan online yang dianggap merugikan angkutan konvensional. Sikap Wali Kota dianggap tidak tegas dan berpihak kepada angkutan dengan aplikasi Android itu.

"Kami menuntut keadilan agar Pemkot menegakkan undang-undang dan aturan lalu lintas angkutan umum," kata koordinator aksi Doger di Alun-alun Balai Kota, Senin (6/3).

Massa berpendapat kendaraan roda dua tidak boleh sebagai kendaraan bermotor umum. Karena tidak ada dalam trayek, serta bertentangan dengan aturan undang-undang. Karena itu mereka meminta segala bentuk angkutan berbasis online dilarang, karena nyata-nyata melanggar aturan.

Sikap keras menolak ojek online juga datang dari sopir angkutan di Samarinda. Warga Samarinda, Kalimantan Timur, menggelar aksi solidaritas mendukung keberadaan GO-JEK dalam bentuk petisi, dengan mengumpulkan 1.000 tanda tangan mendukung keberadaan jasa pengantar lewat aplikasi online itu. Aksi spontan warga ini dilakukan di sekitar Taman Cerdas, Jalan Letjend S Parman.

Tidak hanya warga, melainkan bersama driver GO-JEK, berkumpul di Taman Cerdas, sejak pukul 09.00 WITA. Mereka berkumpul, sambil membentangkan kain putih, untuk menorehkan tanda tangan. Satu per satu warga, menandatangani kain putih itu.

"Terlepas dari ramai-ramai penolakan GO-JEK dari sopir angkot, keberadaan GO-JEK ini sudah kebutuhan ya. Kalau punya uang lebih, kan silakan pakai GO-JEK, jemput dan antar sampai rumah," kata salah seorang pegawai swasta, Hendro (38), saat ditemui merdeka.com di Taman Cerdas.

"Kalau menolak, tidak perlu sampai sweeping, anarkis di jalan. Kami warga, jadi kurang respek ya. Tidak perlu sampai sweeping, mengeroyok ya," timpal Anita, salah seorang mahasiswi di kesempatan yang sama.

Meski mereka resah, nyatanya angkutan online cukup dicintai warga yang membutuhkannya. [lia]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini