Merajut Asa di Balik Tragedi Wamena

Kamis, 3 Oktober 2019 04:01 Reporter : Merdeka
Merajut Asa di Balik Tragedi Wamena Ilustrasi. ©2019 Merdeka.com/Darmadi Sasongko

Merdeka.com - Tiada yang menyangka jika hari Senin tanggal 23 September 2019 menjadi catatan sejarah berdarah di Wamena. Data Kementerian Kesehatan menyebutkan 31 orang menjadi korban jiwa. Aksi anarkistis menyebabkan Wamena bak kota mati untuk sementara waktu dikarenakan eksodus yang dilakukan oleh hampir seluruh warga. Data kepolisian menyebut, angkanya mencapai 4.000an orang yang meninggalkan Wamena.

Namun tetap ada asa di balik dampak tragedi tersebut. Mereka yang telah bertahun-tahun mencari penghidupan di sana, mengaku masih ingin kembali guna melanjutkan roda perekonomian.

Chandra Kei contohnya. Pemuda asal Maluku ini mengaku telah menghidupi keluarga kecilnya dengan bekerja secara serabutan di Wamena. "Apa saja yang penting halal," kata dia saat berbincang di Posko Pengungsian Wamenda di Jayapura, Rabu (2/10/2019).

Namun keinginannya tersebut ternyata tidak lebih besar dari trauma yang dia dan sang istri rasakan saat tragedi kelam tersebut terjadi.

"Saya akan kembali jika sudah kondusif, pasti," yakin dia.

Senada dengan itu, Ruslan, perantau asal Makassar, juga berharap demikian. Namun satu syarat utamanya adalah bagaimana meyakini dirinya dan juga keluarganya aman dan terjamin tidak akan ada kerusuhan seperti sebelumnya.

"Ya saya ingin kembali lagi, tapi paling penting pengawalan keamanannya, agar kami terlindungi," ujar dia.

Polri Jamin Jaga Keamanan

Kapolda Papua Irjen Pol Paulus Waterpaw menjanjikan bahwa keamanan telah dikondisikan agar Wamena segera kembali normal. Penambahan pasukan dikerahkan, lewat tim gabungan TNI-Polri.

"Pengamanan pasti kita optimalkan, kami menjamin keamanan dan kekuatan kami akan kami pertebal pemerintah dalam hal ini pak gubernur, beliau data dengan pak Pangdam beliau menjamin," kata Paulus di Sentani, Jayapura, Selasa 1 Oktober 2019.

Meski telah menjamin, Irjen Paulus mengamini jika rasa trauma mendalam masih dirasakan para warga yang saat ini tengah mengungsi, khususnya di Kota Jayapura lebih memilih pulang kampung sejenak ketimbang segera kembali ke Wamena. Namun dia berharap hal itu tidak terlalu lama dan bisa segera beraktivitas kembali seperti sediakala di Wamena.

"Jadi mudah-mudahan dalam waktu cepat mereka yang mungkin kembali ke kampung halaman kita berharap sesegera mungkin, jadi sebentar saja dan kembali usaha lagi dan bekerja dan anak-anaknya sekolah bisa dilanjut lagi di Wamena ini," tandas Paulus membuka harap.

Petuah Dari Tokoh Agama

Salah satu pemuka agama di Papua, Ketua Majelis Ulama Papua KH Syaiful Alpayage mengatakan, keharmonisan hidup berdampingan antara siapa pun yang tinggal di Bumi Cendrawasih sudah terpupuk dari dulu hingga sekarang.

Karenanya, adanya hoaks dan isu rasisme sangat disayangkan bisa membelah antar sesama makhluk sosial dengan aksi anarkistis yang terjadi di Papua. Dia pun mengimbau kepada siapa pun untuk saling bertabayun jika ada hal-hil yang memunculkan disintegrasi.

"Masyarakat Papua punya kewajiban menjaga keamanan ketertiban tanah yang kita cintai, mari kita menyambut dan betul menjaga keamanan dan ketertiban baik itu dari WhatsApp, Facebook, dimanapun kita harus tabayun klarifikasi apakah berita ini benar atau tidak sehingga kita tak termakan hoaks agar persatuan keamanan bisa terjaga," Syaiful menyudahi. [ded]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini