Menyulap kawasan kumuh pinggir sungai Kampung Karangwaru jadi cantik
Merdeka.com - Kawasan pinggir sungai di perkotaan identik dengan kawasan kumuh dan tak teratur. Perlu kerja keras dan kolektivitas dari masyarakat untuk mengentaskan kekumuhan tersebut. Salah satu contoh pengentasan kawasan kumuh dengan berbasis partisipasi masyarakat adalah di Kelurahan Karangwaru, Kecamatan Tegalrejo, Yogyakarta, DIY.
Menurut Pimpinan Kolektif Badan Keswadayaan Masyarakat Tridaya Waru Mandiri, Subandono diperlukan proses panjang untuk mengubah daerah Karangwaru yang dulunya adalah kawasan kumuh dan langganan banjir menjadi kawasan yang layak huni. Salah satu proses yang harus dilewati dan sulit adalah memberi pemahaman kepada masyarakat dan mengubah mindset berpikir masyarakat untuk menata kawasan.
"Dulu kawasan Karangwaru itu kumuh dan endemik penyakit. Terutama karena kawasan Karangwaru dilintasi oleh Sungai Buntung yang membagi Karangwaru menjadi dua wilayah. Sungai Buntung dulunya digunakan warga untuk BAB, buang sampah dan limbah. Sungai buntung itu dulu menjadi tempat sampah terpanjang," cerita Subandono saat ditemui Merdeka.com di Karangwaru Riverside, Selasa (15/11) siang.
Subandono mengungkapkan pada 2009 menjadi awal mula penataan kawasan Karangwaru. Selama setahun dilakukan pendekatan untuk membuat masyarakat mengubah mindset berpikirnya dan mau terlibat menata kawasan kumuh menjadi kawasan sehat dan layak huni.
Setelah masyarakat mau terlibat akhirnya proses penataan pun dilakukan. Rumah-rumah masyarakat yang tadinya memunggungi sungai diubah menjadi menghadap sungai. Selain itu pinggiran sungai pun ditalud dan dibuatkan jalan di dua sisi dengan lebar satu meter.
"Dulu ada 154 rumah tidak layak huni yang ada di pinggir Sungai Buntung. Kita tata dan perbaiki dengan bantuan dana dari Kementerian PU. Pertama kita ajukan Rp 29,7 miliar untuk menata kawasan sungai sepanjang 2 kilometer. Tapi dana yang turun akhirnya hampir Rp 12 miliar. Kita baru bisa menata sepanjang 500 meter dari target 2 kilometer," ujar Subandono.
Tak hanya menata rumah dan akses jalan di Kampung Karangwaru, beberapa fasilitas publik seperti Ruang Terbuka Hijau (RTH), ruang pertemuan warga, hingga tempat belajar masyarakat yang diberi nama Omah Sinau Masyarakat (Omsimas).
Dalam kunjungan ke Karangwaru Riverside, empat menteri yaitu Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-Pera) Basuki Hadimuljono, Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Moeloek, dan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes) Eko Putro Sandjojo memberikan apresiasi kepada pembangunan infrastruktur berbasis masyarakat yang dilakukan warga Karangwaru.
"Ini lebih dari yang saya bayangkan. Saya tidak menyangka lima tahun terbangun dan kini sudah seperti ini, ujar Puan Maharani dalam kunjungannya, Selasa (15/11).
Senada dengan Puan, Menkes Nila Moeloek juga mengungkapkan apresiasi terhadap kawasan sungai yang airnya bersih dan mengalir. "Ini sudah bukan kawasan kumuh. Sudah layak huni dan sehat. Ada tanaman obat juga di pinggir-pinggir sungai," kata Nila.
Tak hanya berubah dari kawasan kumuh menjadi kawasan bersih, sehat dan layak huni, Karangwaru pun dianggap bisa dikembangkan menjadi kawasan wisata. "Ini bisa dikembangkan menjadi kawasan wisata. Tinggal diperbaiki sedikit lagi," terang Menteri Desa, Eko Putro Sandjojo. (mdk/rhm)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya