Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Menyelamatkan Kerajinan Wayang Suket Purbalingga yang Nyaris Punah

Menyelamatkan Kerajinan Wayang Suket Purbalingga yang Nyaris Punah Kerajinan Wayang Suket Purbalingga. ©2019 Merdeka.com/Abdul Aziz Rasjid

Merdeka.com - Jemari lentik Nestri Liana (18), piawai menyusun helai demi helai batang rumput kering menjadi rangkaian sulaman. Jalinan rumput kering itu disusun menjadi sosok tokoh pewayangan anggota pandawa lima, Sadewa.

"Awalnya susah, tetapi akhirnya bisa juga meskipun belum terlalu rapih," ujar Nestri yang baru lulus dari SMK saat ditemui disela pelatihan di rumah Badriyanto, Desa Wlahar, Kecamatan Rembang, Purbalingga Rabu (30/10).

Nestri adalah salah satu peserta yang mengikuti pelatihan pembuatan Wayang Suket. Ia bersama 11 pemuda lainnya mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Purbalingga dalam rangka melestarikan kerajinan langka itu.

Selain Nestri, ada Harmanto, yang juga dengan tekun mengikuti pelatihan. Butuh waktu seminggu bagi Harmanto menyelesaikan satu wayang suket. Ia memilih tokoh Wisanggeni yang dibuatnya.

"Sulit, anyamannya rumit," ujarnya.

Badriyanto, adalah pengrajin wayang suket yang mewarisi keahlian langsung itu dari kakeknya, Mbah Gepuk. Ia didapuk sebagai instruktur dalam pelatihan tersebut.

"Selama ini saya kesulitan untuk menemukan orang yang mau membuat wayang suket, dengan adanya pelatihan ini saya optimis kerajinan wayang suket akan lestari dan berkembang," ujarnya.

Wayang suket memang kerajinan khas dari Purbalingga yang langka, unik dan otentik. Kerajinan ini selalu menarik perhatian dan diburu saat dipamerkan di berbagai event. Banyak permintaan baik dari dalam maupun luar negeri atas kerajinan itu.

Namun, tak adanya regenerasi berpotensi membuat kerajinan wayang suket punah. Apalagi, rumput kasuran yang menjadi bahan bakunya tak selalu ada atau hanya bisa dipanen saat Bulan Sura.

"Kita ingin wayang suket menjadi ikon Purbalingga. Kerajinan ini sangat unik dan hanya kita yang punya sehingga berbagai program akan dijalankan untuk mengembangkan Wayang Suket," ujar Ketua Dekranasda Rizal Diansyah saat menghadiri Pelatihan Pembuatan Wayang Suket.

Persoalan dalam rangka pengembangan wayang suket sudah diinventarisir, seperti kurangnya pengrajin dan kesulitan bahan baku. Program-program yang dijalankan akan dibuat holistik dan mensinergikan berbagai stakeholder yang ada.

"Misalnya untuk persoalan bahan baku, kita sudah meminta Dinas Pertanian untuk melakukan uji coba penanaman rumput kasuran," ujar Suami Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi itu.

Keunikan Wayang Suket Purbalingga sudah diakui oleh berbagai kalangan. Salah satunya antropolog dari Universitas Indonesia Notty J Mahdi yang bertandang ke Purbalingga dalam rangka menjadi narasumber dalam pengembangan batik sepekan lalu. Ia mengagumi wayang suket yang menurutnya dibuat dengan sangat detail.

"Wayang Suket Purbalingga sangat detail dan anyamanya rumit, di Jawa saya menjumpai wayang suket, salah satunya dari Wonogiri hanya saja tidak sedetail ini," kata Notty yang juga kolektor batik klasik dari seluruh nusantara.

Notty pun menyarankan agar pengembangan wayang suket dilakukan dengan serius dan berkelanjutan. Menurutnya, wayang suket sangat bisa menjadi kerajinan khas Purbalingga yang mendunia.

(mdk/lia)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP