Menteri P2MI Dorong Vokasi Penempatan ke Jepang: Target 300 Pekerja Migran Indonesia Terampil, Bahasa Jepang Kunci Utama!
Menteri P2MI Abdul Kadir Karding membahas penguatan pelatihan vokasi untuk penempatan Pekerja Migran Indonesia ke Jepang, menargetkan peningkatan signifikan dan menekankan pentingnya penguasaan bahasa.
Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Abdul Kadir Karding secara aktif membahas peluang kerja sama untuk memperkuat pelatihan vokasi. Pembahasan ini juga mencakup penempatan tenaga kerja terampil Indonesia ke luar negeri, dengan fokus utama pada Jepang.
Delegasi Kementerian P2MI telah melakukan kunjungan kerja penting ke Jepang yang berlangsung dari tanggal 19 hingga 26 Agustus. Kunjungan ini bertujuan untuk mengoptimalkan tata kelola penempatan serta memperkuat manajemen pelindungan dan pemberdayaan pekerja migran Indonesia (PMI).
Dalam pertemuan dengan jajaran PT Bisa Ruang Nuswantara (BIRU) di Jepang, Karding menyoroti salah satu tantangan utama. Menurutnya, problem utama dalam penyiapan Pekerja Migran Indonesia ke Jepang adalah penguasaan bahasa.
Penguasaan Bahasa dan Peran Vokasi
Menteri Karding menekankan bahwa penguasaan bahasa Jepang merupakan kunci utama bagi Pekerja Migran Indonesia yang ingin bekerja di Jepang. Ia menanyakan berbagai hal terkait program vokasi, mulai dari kesiapan melatih tenaga kerja sesuai kebutuhan pasar internasional hingga penyaluran tenaga kerja bersertifikat.
CEO PT BIRU, Kanya, menjelaskan bahwa program vokasi yang mereka jalankan sudah berjalan di berbagai wilayah. Program ini tersebar di Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi, menunjukkan jangkauan yang luas.
Sejak tahun 2018, PT BIRU telah mengembangkan pelatihan mekanik dan operator alat berat. Pelatihan ini dilaksanakan di 47 sekolah mitra, membuktikan komitmen mereka dalam menyiapkan tenaga kerja terampil.
Kanya menambahkan bahwa pada tahun ini, pihaknya juga sedang menyiapkan pusat pelatihan dan sertifikasi untuk building cleaner. Program ini telah diakui oleh Japan Association for Building Maintenance, menandakan standar kualitas yang tinggi.
Program Pelatihan dan Potensi Penyerapan Tenaga Kerja
Pelatihan yang dikelola oleh PT BIRU berlangsung selama 10 hari dengan biaya sekitar Rp5 juta per peserta. Biaya ini sudah termasuk ujian dan sertifikasi, memberikan nilai tambah bagi para peserta.
Kanya juga mengungkapkan bahwa permintaan tenaga kerja terampil asal Indonesia dari perusahaan Jepang cukup tinggi. Hal ini menunjukkan adanya peluang besar bagi Pekerja Migran Indonesia.
Pada awal tahun ini, permintaan untuk posisi building cleaner mencapai 100 orang. Diperkirakan, jumlah ini akan meningkat menjadi sekitar 300 orang pada tahun depan, menandakan tren positif.
Setelah pelatihan, sekitar 34 persen tenaga kerja diserap langsung oleh grup PT BIRU. Sementara itu, sisanya disalurkan ke perusahaan lain, memastikan penempatan yang luas bagi para lulusan.
Dukungan Pemerintah dan Standar Global
Di akhir diskusi, Menteri Karding menyarankan agar pelatihan building cleaning sebaiknya langsung dipadukan dengan pembelajaran bahasa Jepang. Integrasi ini diharapkan dapat mempercepat kesiapan Pekerja Migran Indonesia.
Menteri P2MI juga menegaskan bahwa pemerintah siap mendukung pengembangan vokasi yang sesuai dengan kebutuhan pasar global. Dukungan ini penting untuk memastikan relevansi dan kualitas pelatihan.
“Kami siapkan kurikulum, kami bantu sepenuhnya,” tegas Karding. Ia berharap program vokasi tidak hanya memenuhi kebutuhan industri dalam negeri, tetapi juga membuka jalur penempatan tenaga kerja Indonesia yang terukur, bersertifikat, dan sesuai standar global.
Selama berada di Jepang, delegasi Kemen-P2MI juga bertemu sejumlah otoritas strategis. Pertemuan ini bertujuan untuk membahas isu-isu fundamental terkait pekerja Indonesia, baik yang sudah bekerja maupun yang masih dalam proses penempatan.
Selain berkunjung ke Prefektur Miyagi, delegasi Kemen-P2MI juga menggelar pertemuan penting. Mereka bertemu dengan KBRI Tokyo, Menteri Kehakiman Keisuke Suzuki, Menteri Agrikultur, Kehutanan dan Perikanan Jepang, serta para pelaku usaha di negara Matahari Terbit itu.
Sumber: AntaraNews