Mentan sebut pengolahan lahan tadah hujan bisa beri untung berlipat

Jumat, 17 Maret 2017 21:00 Reporter : Salviah Ika Padmasari
Mentan sebut pengolahan lahan tadah hujan bisa beri untung berlipat Menristek Dikti Muhammad Nasir dan Mentan Amran Sulaiman. ©2017 merdeka.com/salviah ika padmasari

Merdeka.com - Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman mencatat ada lahan tadah hujan seluas 4 juta hektare yang tersebar di Indonesia. Separuh dari angka tersebut, berada di Indonesia bagian timur. Menurutnya jika tanah tadah hujan ini digerakkan, misalnya yang tadinya hanya satu kali tanam dalam setahun menjadi dua atau tiga kali tanam, maka hasil produksinya sebesar Rp 2 triliun.

"Empat juta hektare lahan tadah hujan ini jika tanamnya atau panennya hanya satu kali dalam setahun, harus digenjot menjadi dua atau tiga kali dalam setahun. Caranya adalah dengan membangun embung (cekungan penampungan air) sebagaimana arahan bapak Presiden Joko Widodo. Maka akan terjadi peningkatan pendapatan petani sampai Rp 100 triliun hingga Rp 200 triliun," kata Amran.

Pernyataan tersebut diungkapkan saat Amran menjadi pembicara di depan ratusan peneliti bidang pertanian, tim dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) se-Indonesia Timur, dosen-dosen pertanian dan para rektor Perguruan Tinggi (PT) kawasan Timur Indonesia pada kegiatan temu informasi inovasi teknologi pertanian di aula Al Jibra Kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI), Makassar, Jumat (17/3).

Sebagaimana kebiasaan Amran Sulaiman dalam kunjungan kerjanya di daerah yang selalu berusaha memotivasi tamu undangan, dalam kegiatan tersebut Amran juga melakukan hal serupa. Dia mencontohkan negara lain yang sudah berhasil dalam pengelolaan pertanian.

"Kami lihat di Taiwan, Korea Selatan, Jerman. Air yang mengalir di sungainya itu sudah 40 kali di-recycle baru ke laut. Sementara kita di Indonesia, air dibiarkan mengalir saja langsung ke laut," ujarnya.

Amran menambahkan, upaya mengelola lahan tadah hujan ini bekerja sama dengan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi serta Kementerian Ristek dan Dikti. [cob]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini