Mengungkap Keunikan: Panggung Seni Budaya Nusantara Hadirkan 23 Wilayah dalam Rangkaian Hari Kebudayaan 2025
Kementerian Kebudayaan sukses menggelar Panggung Seni Budaya Nusantara di Yogyakarta, menampilkan ragam seni tradisi dari 23 BPK wilayah dalam rangka Hari Kebudayaan 2025. Penasaran dengan keunikan budayanya?
Kementerian Kebudayaan sukses menggelar Panggung Seni Budaya Nusantara sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Kebudayaan 2025. Acara megah ini bertujuan untuk mementaskan kekayaan seni budaya tradisi daerah, mulai dari tari hingga musik. Kegiatan ini menjadi magnet bagi para pecinta seni dan budaya di seluruh Indonesia.
Pagelaran seni tersebut diselenggarakan di Museum Serangan Umum 1 Maret, Kota Yogyakarta, pada Minggu (19/10). Acara ini merupakan inisiatif dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) dan melibatkan perwakilan dari 23 BPK wilayah di seluruh Indonesia. Kehadiran berbagai perwakilan ini menunjukkan komitmen kuat dalam melestarikan warisan budaya bangsa.
Dengan mengusung tema “Keberagaman Budaya Nusantara”, panggung ini menjadi wadah bagi berbagai sanggar dan komunitas binaan untuk menunjukkan kebolehan mereka. Melalui acara ini, diharapkan masyarakat semakin mengenal dan mencintai kebudayaan Indonesia yang sangat beragam. Ini juga menjadi langkah strategis untuk memperkuat jati diri bangsa.
Pesona Ragam Seni Tradisi dari Penjuru Nusantara
Panggung Seni Budaya Nusantara menyuguhkan panorama seni yang memukau, diawali dengan penampilan Musik Keruncong Stambul Fajar Pengekar Campo Pulau Mendanau dari BPK Wilayah V (Jambi dan Bangka). Keindahan musik keroncong berpadu dengan nuansa lokal menciptakan suasana yang syahdu. Penampilan ini berhasil memikat perhatian para pengunjung yang hadir.
Selanjutnya, BPK Wilayah XI (Jawa Timur) mempersembahkan Tarian Jaranan Tril “Ananda Warih” yang energik dan penuh semangat. Tidak kalah menarik, BPK Wilayah XVI (Nusa Tenggara Timur) menampilkan Tarian Wua Ta'a, sebuah tarian simbolik tentang perjumpaan tiga perempuan dari Flores. Tarian ini merepresentasikan keragaman budaya di Lembata, Maumere, dan Manggarai.
Keberagaman terus berlanjut dengan Tari Tidayu dari BPK Wilayah XII (Kalimantan Barat), yang menggambarkan harmonisasi tiga etnis besar: Tionghoa, Dayak, dan Melayu. Berbagai tarian lain seperti Tari E’mambo Simbo dari Papua, Lenggok Tradisi Negeri dari Sumatera Utara, hingga Tari Balada Cendrawasih dari Papua Barat turut memeriahkan acara. Setiap tarian membawa cerita dan filosofi unik dari daerah asalnya.
Tidak hanya tari, panggung ini juga menampilkan seni bela diri dan musik daerah yang kaya. Pencak Silat Maung Bodas dari Jawa Barat dan Seni Debus Banten dari Banten & DKI Jakarta menunjukkan kekuatan dan kelincahan. Sementara itu, Musik & Syair Batanghari 9 dari Sumatera Selatan dan Musik Dhol Tabut dari Bengkulu dan Lampung memamerkan kekayaan musikal Nusantara. Bahkan, seni musik Kolintang dari Sulawesi Utara turut menghibur penonton.
Memperkuat Jati Diri Bangsa Melalui Warisan Budaya
Panggung Seni Budaya Nusantara bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah platform penting untuk memperkuat identitas bangsa. Kegiatan ini melibatkan perwakilan dari 23 Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) di seluruh Indonesia. Setiap BPK membawa kekayaan lokalnya untuk diperkenalkan kepada publik yang lebih luas.
Tema “Keberagaman Budaya Nusantara” secara jelas menggambarkan misi utama acara ini. Berbagai sanggar dan komunitas, termasuk pemerintah daerah dan Tim 9 Garuda, turut berpartisipasi aktif. Kolaborasi ini menunjukkan semangat kebersamaan dalam melestarikan dan mengembangkan kebudayaan Indonesia.
Salah satu sorotan penting adalah pementasan Drama Peraduan Pantun dari BPK Wilayah IV (Riau & Kepulauan Riau). Pantun, sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia yang telah diakui UNESCO, menunjukkan betapa berharganya setiap elemen budaya kita. Pengakuan internasional ini semakin menegaskan pentingnya pelestarian.
Sebagai penutup, BPK Wilayah X (Jawa Tengah & DIY) mempersembahkan Tari Ramayana & Fire Dance. Penampilan pamungkas ini mengisahkan kembali cerita epik Rama dan Shinta, memadukan keindahan gerak tari dengan atraksi api yang memukau. Ini menjadi puncak perayaan kekayaan budaya yang tak ternilai.
Hari Kebudayaan 2025: Pilar Pembangunan Bangsa
Panggung Seni Budaya Nusantara merupakan salah satu mata rantai dalam rangkaian besar peringatan Hari Kebudayaan 2025. Selain pagelaran seni, terdapat pula berbagai kegiatan budaya lainnya yang tak kalah menarik. Ini termasuk Ruwat Nusantara, Karnaval Ragam Budaya Nusantara, dan Gastronomi Mustika Rasa Nusantara.
Seluruh rangkaian kegiatan ini dipusatkan di Kota Yogyakarta, memanfaatkan berbagai lokasi ikonik seperti Museum Benteng Vredeburg, Kawasan Malioboro, Titik 0 Km Yogyakarta, Monumen Serangan Umum 1 Maret, dan Hotel Tasneem Mandira Baruga Ballroom. Pemilihan lokasi ini menambah nuansa historis dan budaya pada setiap acara.
Hari Kebudayaan 2025, yang jatuh pada tanggal 17 Oktober 2025, memiliki makna yang sangat mendalam. Penetapan tanggal ini merupakan bentuk apresiasi terhadap peran strategis kebudayaan. “Hari Kebudayaan 2025 menjadi momentum untuk memperkuat posisi kebudayaan sebagai pilar pembangunan bangsa dan menegaskan jati diri bangsa melalui penguatan warisan budaya,” demikian pernyataan dari Kementerian Kebudayaan.
Melalui momentum ini, diharapkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kebudayaan semakin meningkat. Penguatan warisan budaya tidak hanya menjaga identitas, tetapi juga berkontribusi pada pembangunan nasional. Ini adalah investasi jangka panjang untuk masa depan Indonesia yang berbudaya.
Sumber: AntaraNews