Mengintip sisa Observatorium Mohr di Petak Sembilan
Merdeka.com - Dari tampak depan, tidak ada yang berbeda dengan bangunan sekolah milik Yayasan Pendidikan Katolik Ricci. Sama seperti layaknya sekolah lain di Jakarta, jam pelajaran dimulai pukul 6.45 WIB dan bel pulang berbunyi pukul 13.25 WIB. Jam pulang sekolah pun, para siswa berhamburan keluar kelas.
Ada yang pulang dijemput orang tuanya, ada yang pulang dengan menggunakan mobil jemputan dan ada juga yang menghabiskan waktu dengan bermain basket.
Namun kalau melihat mundur balik ke era penjajahan kolonial Belanda, banyak yang tidak tahu di bekas bangunan sekolah yang beralamat di Jl Kemenangan III No 47, Rt 003, RW 02 Kelurahan Glodok, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat pernah berdiri sebuah obsevatorium yang dibangun oleh Pastor Johan Maurits Mohr.
Dahulu, bangunan Observatorium Mohr ini berdiri dengan megahnya. Mulai dibangun pada 1765, observatorium itu tingginya sekitar 24 meter. Selesai dibangun pada 1768 dengan ongkos diperkirakan 200.000 florins Belanda.
Oleh pemerintah kolonial, bangunan itu digunakan para astronom Eropa dari Prancis, Inggris dan Belanda untuk mengamati Transit Venus yang terjadi pada tanggal 7 Juni 1761 dan 1769. Bangunan itu rusak parah karena gempa pada 1780.
Saat merdeka.com menyambangi alamat yang dulu diperkirakan menjadi lokasi obsevatorium Mohr, tidak tampak tanda yang menggambarkan kalau di lokasi ini pernah berdiri bangunan yang masuk dalam catatan sejarah astronomi di Indonesia. Bahkan tidak banyak warga yang mengetahui, jika di lahan yang berada di wilayah Petak Sembilan pernah menjadi lokasi favorit para astronom Eropa.
Ketidaktahuan itu diungkapkan oleh pembantu Sekretariat Pastoran Gereja Katolik St. Maria De Fatima, Idris. Ditemui di ruangannya, Idris mengaku, sejak bekerja selama 25 tahun, dirinya tidak pernah mendengar adanya bangunan observatorium di lahan Yayasan Pendidikan Katolik Ricci.
"Selama 25 tahun saya bekerja di Gereja, saya belum pernah mendengar adanya bangunan observatorium di sini," kata Idris kepada merdeka.com, Selasa (5/6) sore.
Idris juga mengatakan, sebelum dibangun jadi gedung sekolah, lahan yayasan sekolah dulunya adalah perumahan warga. "Sebagian lahan bantuan dari Gubernur Ali Sadikin," ujar pria yang rambutnya sudah memutih itu.
Kepada merdeka.com, Idris berpesan, seharusnya dinas yang terkait di DKI Jakarta menulis catatan sejarah tentang Observatorium Mohr. Itu penting agar masyarakat Jakarta tahu, di sinilah ilmuwan dunia pernah merekomendasikan sebagai tempat terbaik menyaksikan transit Venus. (mdk/hhw)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya