Mengenang saat Amien Rais kerahkan massa paksa Soeharto mundur

Selasa, 20 September 2016 07:25 Reporter : Ramadhian Fadillah
Mengenang saat Amien Rais kerahkan massa paksa Soeharto mundur Amien Rais. ©istimewa

Merdeka.com - Politikus senior Amien Rais tengah garang menantang Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Amien menggalang kekuatan bersama sejumlah tokoh agar Ahok tak terpilih lagi di Pilgub DKI.

Apa yang dilakukan Amien ini mengingatkan pada saat reformasi Mei 1998. Saat itu Amien Rais menjadi salah satu motor utama reformasi. Dia juga mengumpulkan sejumlah tokoh dan mendesak agar Presiden Soeharto mundur.

Amien Rais berencana menggelar aksi massa dengan long march di Monas tanggal 20 Mei 1998. Puluhan ribu orang dari berbagai elemen diperkirakan akan menghadiri konsolidasi nasional tersebut.

Sejarah mencatat suasana politik di Jakarta pada Bulan Mei 1998 sangat panas. Belum hilang dari ingatan masyarakat bagaimana kerusuhan menghancurkan Jakarta beberapa hari sebelumnya. Gelombang unjuk rasa terjadi di mana-mana. Mahasiswa berhasil menduduki gedung DPR/MPR.

Presiden Soeharto masih enggan turun. Dia berjanji akan turun dalam Pemilu yang digelar tahun 2000. Namun Amien Rais Dkk merasa waktu 2 tahun terlalu lama. Dalam waktu 6 bulan, Soeharto harus lengser!

Rencana Amien Rais menggelar long march mendapat tantangan dari Orde Baru. Panglima ABRI (saat ini TNI), Jenderal Wiranto meminta Amien Rais membatalkan rencana long march. Pada tanggal 18 Mei 1998, Wiranto juga mengimbau agar masyarakat tak berkumpul di Monas.

Wiranto meminta masyarakat mengingat kerusuhan yang membumihanguskan Jakarta. Jangan sampai karena terprovokasi sekelompok orang, peristiwa itu terjadi kembali. Banyaknya massa yang berkumpul di satu titik sangat potensial memicu kerusuhan dan jatuh korban jiwa.

TNI menutup seluruh akses jalan menuju Monas. Tentara bersenjata lengkap, panser dan pagar berduri terlihat di mana-mana.

"... Dengan tidak terpengaruh dan terhasut untuk melakukan berbagai tindakan yang nyata-nyata hanya akan mengeruhkan suasana bahkan tergiring untuk berhadapan dengan aparat keamanan," kata Jenderal Wiranto. Demikian dikutip dari buku Hari-Hari Terpanjang Menjelang Mundurnya Presiden Soeharto yang ditulis James Luluhima dan diterbitkan Kompas tahun 2005.

Tanggal 19 Mei, jelang tengah malam, Amien Rais melihat situasi di Monas. Rupanya Amien sadar jika aksi long march tetap digelar, akan jatuh banyak korban.

"Berat ini," kata Amien Rais saat melihat ketatnya barikade aparat di Monas.

Dengan alasan keamanan, Amien Rais kemudian membatalkan rencana long march itu.

Peringatan Hari Kebangkitan Nasional digeser ke Gedung DPR/MPR yang dikuasai ribuan mahasiswa. Amien Rais saat itu jadi bintang. Dia dielu-elukan mahasiswa yang menuntut Presiden Soeharto segera mundur. Amien lah satu-satunya tokoh nasional yang diizinkan mahasiswa masuk dari gerbang utama DPR.

"Presiden Soeharto sudah kehilangan legitimasinya karena rakyat sudah tidak percaya lagi kepadanya, sehingga hari-harinya sudah bisa dihitung. Karena itu, tetap jaga terus persatuan dan kesatuan. Jangan mau dipecah-pecah," kata Amien disambut teriakan gegap gempita mahasiswa.

Keesokan harinya, tepat pukul 09.00 WIB, Presiden Soeharto berpidato mengumumkan pengunduran dirinya. Amien Rais digelari Bapak Reformasi.

Kini akan berhasilkan dia menumbangkan Ahok di Pilgub DKI tahun depan?

[ian]

Topik berita Terkait:
  1. Amien Rais
  2. Soeharto
  3. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini