Mengejutkan! Kualitas Udara Jakarta Peringkat Keenam Terburuk di Dunia, DLH Siapkan Strategi Baru

Kualitas Udara Jakarta kembali menjadi sorotan setelah menempati peringkat keenam terburuk di dunia. Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta akan meniru kota besar lain untuk mengatasinya.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Mengejutkan! Kualitas Udara Jakarta Peringkat Keenam Terburuk di Dunia, DLH Siapkan Strategi Baru
Kementerian Kesehatan mengungkap 6 jenis partikel berbahaya dalam polusi udara, seperti PM2.5 dan CO, yang dapat memicu masalah kesehatan serius hingga kematian. Kenali dan waspadai! (Planet Merdeka)

Kualitas udara di DKI Jakarta pada Sabtu pagi tercatat dalam kategori tidak sehat, menempatkannya di peringkat keenam terburuk di dunia. Data ini dirilis oleh situs pemantau kualitas udara IQAir pada tanggal 20 September, yang menunjukkan kondisi lingkungan yang memprihatinkan di ibu kota.

Pada pukul 06.20 WIB, Indeks Kualitas Udara (AQI) di Jakarta mencapai angka 153. Angka ini mengindikasikan bahwa konsentrasi partikel halus (particulate matter/PM) 2.5 di udara berada pada tingkat yang berbahaya bagi kesehatan masyarakat, terutama bagi kelompok sensitif.

Menanggapi situasi ini, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta berencana untuk mengadopsi strategi penanganan polusi udara dari kota-kota besar dunia. Langkah ini diharapkan dapat membawa perubahan signifikan dalam upaya memperbaiki Kualitas Udara Jakarta secara berkelanjutan.

Kualitas Udara Jakarta dalam Sorotan Dunia

Berdasarkan pantauan IQAir, Kualitas Udara Jakarta pada Sabtu pagi berada di angka 153 AQI, yang menempatkannya dalam kategori tidak sehat. Angka ini didominasi oleh tingginya konsentrasi partikel PM 2.5, sebuah polutan udara mikroskopis yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan dan menyebabkan masalah kesehatan serius.

Jakarta berada di urutan keenam terburuk secara global, di bawah kota-kota seperti Baghdad (Irak) dengan AQI 239, Kinshasa (Kongo) dengan AQI 177, dan Dhaka (Bangladesh) dengan AQI 165. Perbandingan ini menunjukkan bahwa masalah polusi udara di Jakarta merupakan isu global yang memerlukan perhatian serius dan tindakan konkret.

Status 'tidak sehat' ini berarti bahwa semua orang dapat mulai mengalami efek kesehatan. Anggota kelompok sensitif mungkin mengalami efek kesehatan yang lebih serius. Oleh karena itu, penting bagi warga Jakarta untuk membatasi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker jika diperlukan.

Strategi DLH DKI Jakarta Meniru Kota Metropolitan Lain

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta menyatakan komitmennya untuk belajar dari kota-kota besar dunia yang berhasil menangani polusi udara. Kepala DLH DKI Jakarta, Asep Kuswanto, menyebutkan Paris dan Bangkok sebagai contoh kota yang akan ditiru dalam upaya perbaikan Kualitas Udara Jakarta.

Asep menjelaskan bahwa Bangkok memiliki 1.000 Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKU), sementara Paris memiliki 400 SPKU. Sebagai perbandingan, Jakarta saat ini memiliki 111 SPKU, meningkat signifikan dari sebelumnya yang hanya 5 unit. Peningkatan jumlah SPKU ini adalah langkah awal yang penting.

DLH DKI Jakarta berencana untuk terus menambah jumlah SPKU agar dapat melakukan intervensi yang lebih cepat dan akurat. Keterbukaan data juga menjadi fokus utama, karena penyampaian data polusi udara yang transparan akan memungkinkan intervensi yang lebih efektif dan sistematis.

Langkah Konkret dan Target Penambahan Sensor Udara

Untuk mencapai pemantauan yang lebih luas dan akurat, DLH DKI Jakarta menargetkan penambahan 1.000 sensor kualitas udara berbiaya rendah (low-cost sensors). Penambahan ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai kondisi Kualitas Udara Jakarta di berbagai wilayah.

Asep Kuswanto menekankan bahwa yang dibutuhkan bukan hanya intervensi sesaat, tetapi langkah-langkah berkelanjutan dan luar biasa dalam menangani pencemaran udara. Penambahan sensor ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk memastikan data yang akurat dan respons yang cepat terhadap perubahan kualitas udara.

Dengan data yang lebih terbuka dan akurat, pemerintah dan masyarakat dapat bekerja sama untuk mengurangi dampak polusi. Upaya ini diharapkan dapat memperbaiki Kualitas Udara Jakarta sehingga lebih sehat dan layak huni bagi seluruh warganya.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi