Mengapa dr Piprim Tak Terima Dimutasi Menkes ke RS Fatmawati? Ternyata Ini Alasannya

Namun, dr Piprim tak terima atas keputusan tersebut hingga dirinya disebut 'ribut' oleh Kemenkes.

Henni Rachma Sari
Oleh Henni Rachma Sari - Reporter
Mengapa dr Piprim Tak Terima Dimutasi Menkes ke RS Fatmawati? Ternyata Ini Alasannya
Kementerian Kesehatan mengusulkan sanksi administratif bagi peserta JKN mampu yang menunggak iuran, untuk mengatasi tingginya angka peserta non-aktif dan tunggakan mencapai Rp20,59 triliun. (Planet Merdeka)

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengeluarkan SE mutasi sejumlah dokter anak. Salah satunya Ketum IDAI dr Piprim Basarah Yanuarso dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) ke RS Fatmawati.

Namun, dr Piprim tak terima atas keputusan tersebut hingga dirinya disebut 'ribut' oleh Kemenkes.

Staf Khusus Menteri Kesehatan Bidang Dukungan Strategis Organisasi Kemenkes, Rendi Witular mengatakan, Piprim tak sendirian saat dimutasi. Masih ada belasan dokter lain yang ikut dimutasi. Namun, mereka tidak memprotes.

"Sejak awal tahun sudah belasan (dokter) yang dirotasi, enggak ada yang ribut. Cuma dia (Piprim Basarah Yanuarso) yang ribut," kata Rendi kepada merdeka.com, Rabu (7/5).

Menanggapi itu, dr Piprim menjawab. Saat audiensi dengan Komisi IX, dr Piprim membeberkan alasannya menolak keras surat edaran Kemenkes tersebut.

Ia mempermasalahkan prosedur yang dipakai Kemenkes yang dinilai melanggar aturan. Terlebih, alasan Kemenkes yang menyebut mutasi itu untuk pengembangan.

"Mohon maaf, saya sudah ditugaskan di pedalaman Pulau Nias, pernah di Ambon situasi konflik, pernah di Lampung Utara yang harus pakai speedboat. Enggak masalah buat saya apalagi sekedar tugas di RS Fatmawati, di sana labnya bagus," kata Piprim.

"Tapi yang saya permasalahkan prosedurnya yang memang melanggar semua aturan mutasi," katanya.

Kemudian, dr Piprim mengungkapkan di RSCM terdapat 8 dokter fellow atau calon dokter spesialis konsultan jantung anak yang tengah ia bimbing.

"Nantinya ditempatkan di RS vertikal juga supaya mereka bisa melayani pasien jantung anak di daerah-daerah. Nah, mendidik konsultan jantung anak itu enggak bisa seperti ngasih kuliah anak biasa. Harus ada pendampingan untuk intervensinya," jelas Piprim.

"Kita kan kerjaannya nutup jantung bocor, pasang cincin itu butuh jam terbang tinggi. Jadi butuh skill yang memang butuh pengalaman panjang. Lah kerjaan saya mendidik Mahasiwa S1 calon spesialis anak dan calon konsultan anak, kalau saya dipindahkan ke fatmawati yang di sana kerjaannya cuma mendidik dokter umum, maka anak didik saya di RSCM ini bisa banyak berkurang kapasitasnya kami, gitu," bebernya.

Ia mengungkap ketersediaan dokter spesialis dan konsultan jantung anak nasional bisa tak terpenuhi. "Bagaimana produksi konsultan jantung anak yang sekarang cuma 70 (persen) se-Indonesia, perhitungan kami butuh 500 konsultan jantung anak," tegasnya.

Sebelumnya, Staf Khusus Menteri Kesehatan Bidang Dukungan Strategis Organisasi Kemenkes, Rendi Witular mengakui Kemenkes belum memanggil Piprim untuk menyampaikan keputusan mutasi. Dia menyebut, proses mutasi Piprim masih berjalan sehingga pemanggilan belum dilakukan.

"Ya belum (panggil), itu lewat proses saja. Nggak mungkin kita langgar hukum. Kita sudah mutasi banyak, cuma ini yang ribut. Masalah prosedural itu kan yah, kan masih berlangsung," jelas dia.

Rendi kemudian mengingatkan Piprim soal statusnya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN). Dia mengatakan, ASN seharusnya bersedia ditempatkan di mana saja.

Dia juga meminta Piprim tidak menjelek-jelekkan Kemenkes yang menjadi sumber penghasilannya.

"Jangan mengencengi sumur sendiri. Dia kan teknisnya Kemenkes, tempat dia cari rezeki, karir, tapi dia kencingi. Kecuali dia swasta enggak masalah," ucap Rendi.

Rekomendasi