Menengok Kampung Ikan Banyuwangi, Warga Pelihara Koi di Sungai
Merdeka.com - Memelihara ikan koi di tempat khusus seperti kolam atau aquarium mungkin sudah jadi hal biasa karena harganya yang cukup mahal mencapai ratusan hingga jutaan rupiah. Hal berbeda coba dilakukan warga Desa Kluncing, Kecamatan Licin, Kabupaten Banyuwangi yang memelihara ikan koi dan tombro di sungai kecil di tengah pemukiman penduduk.
Sungai yang dulunya banyak sampah, jadi tempat buang air besar, kini menjadi destinsai wisata yang menarik. Pengunjung bisa melihat ratusan hingga ribuan ikan hias jenis koi dan tombro yang dilepas-liarkan di sungai. Desa Kluncing, kini dikenal sebagai Kampung Ikan, lengkap dengan sajian kuliner yang dinikmati di pinggir sawah.
Rusady Awanto (33), pemuda asal Desa Kluncing menjadi penggagas terbentuknya Kampung Ikan. Ide Kampung Ikan bermula saat Rusady sebagai peternak ikan ingin menciptakan peluang pasar bagi para peternak ikan di sana. Warga Desa Kluncing, kata Rusady, sudah puluhan tahun menjadi peternak ikan.
"Niat awal untuk menciptakan pasar agar peternak ikan hias di sini semakin berdaya. Sekarang setelah berhasil budidaya ikan di sungai, jadi daya tarik wisatawan, akhirnya sekarang kuwalahan memenuhi permintaan pasar. Banyak wisatawan datang dari luar kota beli ikan ke sini," ujar Rusady saat ditemui di lokasi, Senin (9/11).
©2020 Merdeka.com
Rusady mengatakan, tidak butuh lama bagi dia dan para pemuda untuk meyakinkan warga agar tidak membuang sampah dan buang air besar ke sungai. Lebih penting lagi, membuat warga saling percaya dan menjaga agar ikan-ikan mahal seperti koi dan tombro yang dilepas-liarkan di sungai aman.
"Tidak butuh waktu lama, hanya sehari saja. Dulu awalnya ikan saya sendiri yang tak lepas ke sungai. Warga kemudian mendukung, 'kok bagus ya' katanya. Itu di awal Tahun 2018," jelasnya.
Saat ini, sudah ada 60-an kepala keluarga yang memiliki ikan di satu aliran sungai yang sama. Agar tidak tercampur, ikan-ikan tersebut dipisah dengan sekat-sekat teralis besi, rata-rata berjarak 10 meter panjang sungai.
"Jadi ini di sepanjang sungai 600 meter, ikannya milik banyak orang. Jadi akhirnya semua saling menjaga, tidak ada yang bakal berbuat jelek, karena setiap warga juga punya ikan di sungai itu," jelasnya.
Rusady paham, karakter masyarakat di desa tidak bisa mudah diajak hanya dengan perencanaan tanpa ada contoh langsung. Sebelum mengajak warga agar tidak buang sampah di sungai dan buang air besar di sungai, dia dan beberapa warga membangun toilet di samping sungai.
"Bangun toilet itu habis Rp 4 jutaan, jadi memang harus memberi solusi, jangan hanya melarang," katanya.
©2020 Merdeka.com
Sungai di Desa Kluncing yang menjadi tempat pembesaran ikan memang memiliki air yang jernih dari sumber pegunungan Kaki Gunung Ijen. Menuju ke Kampung Ikan, Desa Kluncing, pengunjung harus menempuh jarak sekitar 15 kilometer dari pusat kota Banyuwangi. Melewati jalur menuju Kawah Ijen, pengunjung akan melihat hamparan sawah terasering dan pegunungan dengan udara sejuk.
"Ini airnya dari dulu memang jernih, tidak pernah habis. Jadi cocok untuk ikan koi dan tombro. Ada juga jenis silangannya juga," ujarnya.
Warga kini tidak lagi membuang sampah ke sungai, apalagi buang air besar di sana. Konsep pasar atau konsumen datang ke Kampung Ikan kini juga sudah terbentuk. Tidak ada tiket masuk bagi siapapun yang ingin berkunjung ke sana. Namun, sebagian besar tertarik belanja ikan hias yang dibesarkan secara alami.
"Kalau harganya variatif, antara Rp 3000 sampai Rp 2 juta. Jadi meski pandemi, pendapatan warga di sini tidak terlalu berpengaruh khususnya untuk jual-beli ikan, kemarin saja selama 10 hari ada 2000 ekor ikan yang habis terjual. Masing-masing orang yang datang beli 2 ekor sampai 10 ekor ikan," katanya.
Tidak hanya menikmati pemandangan ikan-ikan hias di sungai. Warga juga memanfaatkan sawahnya untuk tempat berternak ikan, ada yang membuat mina sawah hingga mina padi. Sepanjang sungai, pengunjung juga bakal menemukan pondok-pondok dari rumbai-rumbai untuk tempat bersantai. Warga menyediakan paket makan ikan yang bisa dinikmati di pinggir sawah.
"Ada paket makan ikan, mulai dari yang porsi kecil sampai untuk 6 orang. Kami juga pakai wadah besek anyaman bambu dan dedaunan agar lebih ramah lingkungan," ujarnya.
Reporter:Mohammad Ulil Albab (mdk/hhw)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya