Mendorong Gen Z Kuasai Literasi Digital untuk Tangkal Narasi Kebencian

Mendorong masyarakat yang berpandangan moderat agar lebih aktif menyuarakan pandangan di ruang digital

Merdeka.com
Oleh Merdeka.com - Reporter
Mendorong Gen Z Kuasai Literasi Digital untuk Tangkal Narasi Kebencian
Bukan Generasi Penggerutu, Gen-Z Buktikan Punya Pemikiran dan Solusi untuk Isu Kesehatan.Foto dibuat oleh AI. (@ 2025 merdeka.com)

Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Zuly Qodir mendorong Generasi Z memperkuat literasi dan penguasaan teknologi sebagai benteng menghadapi radikalisme, ekstremisme, dan intoleransi di era digital.

Zuly menjelaskan Generasi Z yang lahir antara 1997-2012 memiliki karakter kritis dan cepat beradaptasi dengan teknologi, namun juga rentan terhadap tekanan serta provokasi akibat derasnya arus informasi.

"Generasi Z memiliki daya jelajah luar biasa, tetapi rapuh menghadapi tantangan serius sehingga membutuhkan pendampingan yang tepat," ujar Zuly dalam keterangan, Selasa (17/9).

Ia menekankan bahwa ancaman yang dihadapi Indonesia saat ini bukan lagi perang fisik, melainkan pertarungan asimetris yang terjadi di ruang digital.

Kelompok ekstremis, kata dia, semakin militan dan terstruktur dalam menyebarkan propaganda maupun konten kekerasan sehingga diperlukan strategi pencegahan yang komprehensif.

"Literasi digital yang kuat dan penguasaan teknologi akan membantu generasi muda memilah informasi, menangkal narasi kebencian, sekaligus memperkuat daya tahan psikologis mereka," jelasnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya kehadiran pendamping, baik dari orangtua maupun lingkungan sebaya, yang dapat menjadi teladan positif bagi anak muda.

Pendampingan ini, lanjut dia, tidak dapat hanya dibebankan kepada orang tua yang sibuk, melainkan memerlukan kolaborasi seluruh elemen masyarakat, termasuk pemerintah, organisasi kemasyarakatan, lembaga pendidikan, dan organisasi keagamaan.

"Tanpa kolaborasi solid, anak-anak berisiko tereksploitasi atau mengidolakan tokoh yang menyimpang," ungkap Zuly.

Ia pun mendorong masyarakat yang berpandangan moderat agar lebih aktif menyuarakan pandangan di ruang digital sehingga narasi positif tidak kalah oleh kelompok yang lebih militan menyebarkan gagasan kekerasan. Menurutnya, ruang digital yang sehat akan memberi efek domino pada penguatan karakter kebangsaan generasi muda.

Penulis buku Citizen Conservatism and Post Islamism itu menilai pemerintah memiliki peran strategis dalam memitigasi ideologi transnasional maupun konten provokatif di dunia maya, misalnya melalui pengawasan ketat dan pemblokiran akun yang memecah belah bangsa.

Upaya itu juga perlu diimbangi dengan edukasi agar tidak menimbulkan persepsi pembungkaman kebebasan berpendapat.

"Dengan literasi, teknologi, dan kolaborasi semua pihak, mereka dapat menjadi benteng pertama menangkal radikalisme," tandasnya.

Rekomendasi