Melihat Ritual Cukur Rambut Gombak di Lereng Gunung Sumbing

Rabu, 11 September 2019 14:28 Reporter : Haris Kurniawan
Melihat Ritual Cukur Rambut Gombak di Lereng Gunung Sumbing Melihat ritual cukur rambut gombak di Lereng Gunung Sumbing. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Rambut Gombak dinilai merupakan anugerah tersendiri bagi sebagian warga di lereng barat maupun timur Gunung Sumbing, baik di Kecamatan Selopampang, Tlogomulyo, Bulu dan Parakan hingga Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung. Karena, tidak setiap anak dianugerahi rambut tersebut.

Menurut kepercayaan, hanya mereka yang terpilih yang akan menerima anugerah ini. Sudah turun temurun, bahwa rambut gombak terdapat beberapa jenis di antaranya gembel, gimbal, dan kucir.

Saat prosesi, sebelum rambut dicukur perlu dilakukan ruwat dan jamasan serta yang dilengkapi berbagai persembahan. Hal ini sebagai simbol seserahan agar setelah dicukur maka sang anak akan hidup normal dan mendatangkan rezeki.

Menurut cerita berkembang, gombakan lereng sumbing erat kaitannya dengan didatangi ular, baik mimpi maupun secara langsung. Sehingga, keluarga anak berambut gombak harus segera melaksanakan prosesi gombakan untuk anggota keluarga mereka.

Tujuannya, agar tidak ada hal buruk melanda mereka. Ular yang datang melalui mimpi atau langsung adalah ular penagih nazar (janji) untuk mencukur rambut gombak dalam waktu dekat.

Prosesi cukur gombakan akan disesuaikan dengan hari weton sang anak dalam penanggalan Jawa, yang terdiri dari 5 hari pasaran/weton. Sebelumya, salah satu anggota keluarga akan menyusuri lereng Gunung Sumbing untuk mengambil air yang mengalir dari mata air untuk digunakan sebagai air jamasan rambut.

Pada malam hari pencukuran akan dilaksanakan doa bersama seluruh warga desa, dan uborampe seperti jajan pasar, ingkung ayam jawa jantan dan guci tanah liat untuk menyimpan rambut setelah dicukur. Usai doa dipanjatkan, anak berambut gombak akan dicukur oleh 7 orang yaitu, sesepuh desa, orang tua, dan pihak keluarga.

Setelah dicukur anak berambut gombak akan memilih jajan pasar yang ada di depannya untuk disimpan dan santap sendirian nantinya, jika tidak habis maka akan dihabiskan bersama pihak keluarga, sedang ubo rampe laian yang tidak dipilih maka akan makan bersama-sama oleh warga desa yang hadir dalam prosesi tersebut.

Rambut yang sudah dipotong akan dimasukkan ke dalam guci tanah liat kecil (kendil) dan akan disimpan atau langsung dilarung ke Sungai Galeh yang berasal dari Gunung Sumbing tersebut. Jika disimpan maka akan dilakukan esok pada hari weton selanjutnya, dan tanpa prosesi apapun. Dipercaya, jika semua hal ini telah dilakukan maka sang anak berambut gombak akan kembali hidup normal, sehat dan berkelipahan rezeki. [hrs]

Topik berita Terkait:
  1. Berita Temanggung
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini