Melawan Takut Virus Corona Demi Tugas Mulia

Minggu, 16 Februari 2020 00:29 Reporter : Wilfridus Setu Embu
Melawan Takut Virus Corona Demi Tugas Mulia Capt Destyo Usodo. ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Melakukan penerbangan komersial, tentu hal yang biasa dilakukan seorang pilot maskapai seperti Batik Air. Menerbangkan burung besi dari satu bandara ke bandara lain merupakan bagian dari rutinitas.

Karena itu, tentu merupakan pengalaman yang amat berkesan, bila seorang pilot pesawat komersial akhirnya terlibat dalam misi kemanusiaan yang dijalankan negara. Ada kebanggaan dan sensasi berbeda di situ.

Hal itulah yang dialami Capt. Destyo Usodo. Dialah yang memimpin penerbangan alias pilot in commad pesawat Batik Air jenis A330-300 CEO. Pesawat itulah yang mengevakuasi 238 WNI dari Wuhan China pasca merebaknya virus corona (Covid-19).

Destyo berkisah, saat awal menerima kabar untuk mengemban misi, dia tak banyak bertanya. Sebagai karyawan, hanya satu sikap yang harus dia tunjukkan ketika menerima perintah, yakni taat.

"Apapun tugas yang diberikan, harus kita jalankan dengan penuh tanggung jawab dan apapun risikonya," tutur Destyo saat ditemui di sela-sela acara penyambutan dirinya bersama 17 rekan awak kabin lain. Setelah menjalani masa karantina di Natuna, Sabtu (15/2).

Tak ada rasa takut sedikitpun terbersit. Apalagi cemas dan curiga. Bekal Informasi yang dia terima dari pihak perusahaan, membuatnya mantap untuk terbang.

"Karena kami semua pada saat berangkat dari sudah memiliki pikiran yang positif, kita juga fokus dengan tugas kita. Jadi kita tidak berpikir tentang hal-hal seperti takut atau khawatir," tegas Destyo.

"Tentunya sudah ada informasi. Sebelum kita berangkat sudah ada briefing dari perusahaan apa saja yang harus dimitigasi, 'do and do not do'. Kita harus membawa semua yang ke green zone atau safety zone," ujar dia.

1 dari 3 halaman

Berbagai skema mitigasi risiko sudah disiapkan. Buat pegangan, jika proses evakuasi tak berjalan baik. Jika situasi tak berpihak pada dia dan teman-teman. Bahkan memburuk.

"Contoh salah satu mitigasi, kita diberikan vaksin. Kita diberikan juga suntik imunitas. Secara teknis kami juga diberikan untuk memitigasi segala macam kemungkinan terburuk yang akan kita hadapi di Wuhan," imbuhnya.

Menurut dia, pada mulanya tim penjemput dari Indonesia diberi batas waktu untuk melakukan evakuasi. Pembatasan waktu diperlukan. Sebab bukan hanya Indonesia saja yang ingin membawa warganya pulang ke rumah.

"Di belakang saya Air India. Di depan kami Myanmar Airways. Terus ada, di belakang kami, (pesawat) dari Maroko. Itu yang kami dengar saat lagi berkomunikasi dengan otoritas udara," ungkapnya.

Indonesia sendiri diberi slot waktu evakuasi selama 9 jam. Kemudian, berkat diplomasi pemerintah, tim evakuasi asal Indonesia diberikan slot waktu yang lebih longgar.

"Akhirnya mereka memberikan slot waktu fleksibel. Ketika kamu siap, kamu bisa boarding," ujarnya.

Waktu boarding yang ditentukan bagi Indonesia yakni pukul 04.00 waktu setempat. Namun proses evakuasi memang butuh waktu sedikit lebih lama dari rencana.

2 dari 3 halaman

WNI tersebar di 7 titik kota Wuhan. Proses penjemputan, hingga prosedur perjalanan yang ketat harus diselesaikan. Tidak saja dengan tuntas dan teliti. Tapi juga dengan kesabaran. Waktu boarding bergeser lebih lama 30 menit. Apa boleh buat.

"Mereka (WNI) harus masuk ke imigrasi, harus check in, ada juga cek kesehatan, dan sebagainya akhirnya kita mundur ke pukul 4.30 waktu lokal," jelas dia.

Dia dan rekan-rekan, akhirnya berhasil mengevakuasi para WNI. Mereka tiba dengan selamat di Bandara Hang Nadim Batam. Di Hang Nadim barulah 'ketegangan' yang menyentil sisi kemanusiaannya muncul. Mereka berdelapan belas harus ikut diobservasi di fasilitas karantina, Natuna.

"Saya cukup terkejut," singkat Destyo menggambarkan perasaann,ya saat itu.

Namun, dia akhirnya sadar, itu konsekuensi tugas. Risiko tak bisa cepat kembali ke keluarga harus dia ambil. "Kita juga berpikir kenapa 14 hari. Kenapa nggak 3 hari. Kan ada banyak skema yang bisa dilakukan," jelas dia.

Ketenangan pilot yang bergabung dengan Lion Air Grup pada 2003 ini dalam menjalankan tugas kemanusiaan tidak saja patut diapresiasi, melainkan juga menimbulkan pertanyaan. Adakah misi ke Wuhan jadi yang pertama?

Destyo yang baru menjadi pilot Batik Air pada November 2019 ini pun buka suara. Membagikan sedikit 'rahasia'. Sebelumnya dia pernah terlibat dalam berbagai misi evakuasi.

Ketika masih berstatus co-pilot di maskapai pelat merah Merpati Nusantara Airlines, Destyo terlibat dalam proses evakuasi WNI ketika situasi di Timor Timur memanas.

"Tapi di perusahaan sebelumnya, saya pernah ikut tim misi kemanusiaan untuk pembebasan warga negara Indonesia di Timor Leste saat disintegrasi," kata dia.

"Juga saat masuk tim kemanusiaan saat kerusuhan tahun 1998-1999 di Banjarmasin, di Balikpapan, di Ambon. Jadi sudah beberapa kali. Saat itu masih co-pilot saya. Di Merpati," lanjut dia.

3 dari 3 halaman

Hari ini, Destyo dan 17 awak kabin lain telah kembali. Sudah dapat berkumpul dengan keluarga. Banyak pihak angkat topi memberi apresiasi untuk penuntasan misi tersebut.

Ketika ditanya lagi terkait masa observasi selama 14 hari di Natuna, dia mengaku dapat menerima. Kebaikan bersama harus jadi yang utama.

"Tapi kita akhirnya sepakat bahwa 14 hari, pertama merupakan prosedur tetap WHO. dua, untuk kita juga. Kalau kita pulang (sebelum) 14 hari tiba-tiba ada sesuatu yang tidak diinginkan tentu akan jadi bumerang buat kita semua," tandasnya. [ray]

Baca juga:
Disambut Gubernur Syamsuar, 6 Warga Riau dari Natuna Tiba di Pekanbaru
Cerita WNI Selama Dikarantina di Natuna: Happy Banget, Berat Badan Kami Naik
Kata Menkes Soal Penjualan Masker Meningkat Drastis
Guyonan Menkes Terawan Sebut Rakyat Indonesia 'Kebal' Virus Corona Berkat Doa
Keluarga Sambut Kedatangan WNI dari Wuhan di Bandara Halim Perdanakusuma

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini