Megawati ke Fadli Zon soal Penulisan Sejarah: Saya Sedang Mengumpulkan Ahli-Ahli Sejarah
Megawati menyinggung bagaimana sejarah Indonesia seperti sengaja dipotong saat memasuki era Orde Baru.
Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri menegaskan, membentuk dan menyatukan Indonesia bukan perkara mudah, serta menyindir sebagian masyarakat yang seolah lupa sejarah bangsanya sendiri. Hal itu ia sampaikan dalam sambutannya saat membuka pameran foto Guntur Soekarnoputra di Galeri Nasional, Sabtu (7/6).
"Ketika Bung Karno itu dijatuhkan TAP, namanya TAP-nya itu MPRS Nomor 33 Tahun 1967, itu tidak pernah orang mencoba bertanya, kenapa sih TAP itu dijatuhkan? Sepertinya, saya suka bilang, kalau ada nyanyian sunyi sepi sendiri, itu saya pikir ini orang Indonesia lupa bahwa mereka orang Indonesia," ujar Megawati.
Megawati menyinggung bagaimana sejarah Indonesia seperti sengaja dipotong saat memasuki era Orde Baru. Ia menyayangkan generasi kini kurang memahami atau bahkan melupakan perjuangan bangsa dalam membentuk negara.
"Menjadi Indonesia bukannya gampang, tapi sekarang sepertinya sejarah itu hanya dipotong diturunkan TAP ini sejarah itu ketika zaman Orba," ungkapnya.
Boleh Beda, Tapi Jangan Saling Membeda-bedakan
Megawati juga menyampaikan pesannya kepada Menteri Kebudayaan Fadli Zon yang hadir dalam acara. Ia menegaskan pentingnya menjaga semangat Bhinneka Tunggal Ika, seperti yang pernah ditekankan oleh Bung Karno.
"Saya sedang mengumpulkan ahli-ahli sejarah, ini kebetulan ada Pak Menteri Kebudayaan. Kita boleh berbeda, Bung Karno juga bilang begitu, malah dibuatnya Bhinneka Tunggal Ika. Bermacam-macam tapi satu juga. Tapi jangan sepertinya terus ada bagian yang manusianya Indonesia dibedakan," ujar Mega.
Ketua Umum PDI Perjuangan itu juga menyindir pihak-pihak yang sering mengaku sebagai Pancasilais, namun hanya sebatas ucapan tanpa tindakan nyata.
"Jadi padahal kita katanya, katanya, kalau saya pasti pancasilais, yang hadir saya tidak tahu, apakah hanya verbal Pancasila, atau memang pancasilais," tutupnya.