Masyarakat Diminta Kritis, Lawan Konten Intoleransi di Medsos
Merdeka.com - Dunia maya dengan berbagai informasinya telah menjadi ruang publik baru di mana fakta, nilai, dan opini bertebaran secara luas. Dalam konteks inilah, masyarakat diminta tidak mudah terjebak disinformasi yang dapat memecah belah keutuhan.
Guru Besar Ilmu Filsafat dari Universitas Katolik Parahyangan (Upar) Bandung, Ignatius Bambang Sugiharto mengatakan, dalam menggunakan media sosial (medsos) sebetulnya banyak peluang yang bisa dilakukan para pengguna medsos untuk tetap menjaga sikap rasional
"Saya kira kita harus belajar berpikir terbuka dalam melihat perbedaan komentar dari berbagai pihak di media sosial. Karena orang bisa belajar melihat mana komentar dangkal, mana mendalam dan mana yang nalarnya bagus," ujar Bambang dalam keterangannya, Kamis (30/1).
Bambang menyayangkan masyarakat umumnya belum bisa memfilter informasi dengan baik."Cara terbaik menghadapi medsos adalah dengan memperdalam kemampuan untuk merenung, membiasakan membaca esai atau tulisan-tulisan berbobot. Ini agar daya kritis kita bisa terus terasah," kata pria yang juga dosen di Fakultas Filsafat Unpar ini.
Lebih lanjut, Dia menyampaikan bahwa ada banyak hal yang bisa menjadi penyebab dari penyebaran intoleransi dan juga radikalisme di medsos. Pertama, krisis identitas dimana individu atau kelompok merasa tidak dihargai dalam lingkungan sosialnya kemudian dia mencari pelarian di medsos. Kedua, emosi yang labil, hal ini rentan untuk dipermainkan dan disusupi oleh kelompok tertentu yang memiliki kepentingan.
"Masyarakat bersikap kritis dalam menggunakan media sosial, membentengi diri agar tidak mudah terprovokasi yang bersumber dari satu pihak atau golongan tertentu saja," tuturnya.
Hal ini juga sekaligus sebagai upaya masyarakat untuk membentengi dirinya agar tidak mudah disusupi paham-paham radikalisme negatif dan melakukan perbuatan intoleransi terhadap pihak lain yang berbeda baik dari segi pandangan, pilihan keyakinan dan sebagainya.
"Dalam arti begini, kita harus melihat bahwa radikalisme itu jelas-jelas destruktif, dan tentunya tidak mungkin dikehendaki Tuhan. Karenanya perlu kekuatan masyarakat yang kritis untuk bersatu menolaknya, dengan cara apa pun sejauh manusiawi dan non-violent meskipun memang tidak mudah," ujarnya.
Dia mengungkapkan bahwa kaum milenial sebagai populasi terbesar di medsos harus dibiasakan untuk melihat perbedaan sebagai suatu keindahan dalam cara berpikir.
"Di mana cara-cara berpikir yang indokrtinatif perlu dihindarkan, dan diganti dengan keberanian untuk mempertanyakan dan meragukan setiap opini dan fakta yang ada. Sikap kritis itu natural, karena otak manusia itu diciptakan untuk berpikir," imbuhnya.
Selain itu, pria yang juga anggota Asosiasi Filsafat Indonesia (Asafi) ini juga menyampaikan perlunya peran serta dari pemerintah untuk menanggulangi penyebaran paham radikalisme yang menyebar melalui di media sosial agar tidak semakin masif dan menjangkiti masyarakat.
"Saya kira kontra radikalisasi itu perlu dijalankan sejak pendidikan dasar dengan memupuk sikap pluralis dan toleran terhadap yang berbeda. Sebetulnya saya lihat pemerintah sudah ke arah itu. Hanya saja hal seperti itu perlu lebih diintensifkan lagi agar masyarakat ini memiliki daya tahan terhadap pengaruh-pengaruh negatif yang bisa memecah belah bangsa kita ini," pungkasnya.
(mdk/did)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya