Manusia Bertanggungjawab atas Rusaknya Habitat Harimau Sumatera

Minggu, 2 Agustus 2020 00:26 Reporter : Dedi Rahmadi
Manusia Bertanggungjawab atas Rusaknya Habitat Harimau Sumatera harimau sumatera. ©REUTERS/Mike Blake

Merdeka.com - Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) HarimauKita merayakan Hari Harimau Sedunia atau Global Tiger Day yang jatuh pada tanggal 29 Juli 2020 dengan menggelar Webinar Global Tiger Day (GTD): Sinergitas dan Koeksistensi Industri dengan Konservasi Harimau Sumatera.

Sejumlah figur turut hadir dalam seminar virtual ini seperti Dirjen KSDAE Kementerian LHK Wiratno, Kepala BBKSDA Riau Suharyono, Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Iman Santoso, Direktur Yayasan Sintas Indonesia Hariyo TW, Head of Conservation Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas Dolly Priatna dan Direktur Yayasan Arsari Djojohadikusumo Catrini P.

Dirjen KSDAE Kementerian LHK Wiratno mengatakan, perlindungan habitat Harimau Sumatera memang menjadi tantangan, karena banyak berada di luar kawasan konservasi. Bahkan kasus di Riau, 99 persen Harimau Sumatera berada di luar area system.

"Upaya insitu dan eksitu harus dikombinasikan, bagaimana cara mereka membangun, merehabilitasi dan pemanfaatan berkelanjutan," ujarnya.

Dia mengungkapkan, masalah terbesar kerusakan lingkungan dan kematian Harimau Sumatera ada di faktor manusia yang paling bertanggung jawab. Ada dua hal yang mendorong hal tersebut, yaitu kemiskinan dan keserakahan.

Bahkan timnya pernah membersihkan jerat Harimau Sumatera lebih dari 3.000 unit jerat yang ditemukan di luar kawasan konsesi, seperti di Leuser, Bukit barisan dan Kerinci Jambi.

"Di tahun 2020 ini, tim di lapangan menemukan ada 700 jerat yang dipasang oleh warga di sekitar kawasan konsesi," ungkap dia.

Sementara itu, Head of Conservation APP Sinar Mas Dolly Priatna mengatakan, pihaknya mengawali program Hutan Tanaman Industri (HTI) ramah konsesi Harimau Sumatera dengan komitmen Sustainability Roadmap Vision (SRV) 2020 dan Forest Conservation Policy (FCP), termasuk rantai pasoknya dari konsesi HTI. Tujuannya, lanjut dia, agar membuat satu sinergitas dan hidup berdampingan dalam HTI dan konservasi satwa liar.

Bahkan ada lima langkah strategis yang dilakukan APP Sinar Mas, untuk mewujudkan hal tersebut. Yaitu Sharing Space, Provide Connectivity dan Minimize HEC with Fatalies, Best Management Pratices (BMP) dan Landscape Scale.

"Karena Harimau Sumatera punya wilayah jelajah yang luas. Harus ada koordinasi dan kerjasama di semua sektor," jelas Dolly.

Untuk mewujudkan hal itu, Dolly mengaku APP Sinar Mas melakukan upaya pelestarian Harimau Sumatera dan Gajah Sumatera yang berada di luar kawasan konservasi.

"Dari pantauan kamera trap tahun 2019 lalu, Harimau Sumatera yang menggunakan areal konsesi pemasok kayu APP di Sumatera mencapai 69 individu. Mereka bukan tinggal di dalam, tapi menggunakan areal konsesi sebagai habitatnya," ungkapnya.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau Suharyono juga turut menceritakan, hampir 99 persen Harimau Sumatera berada di luar kawasan konservasi, terlebih banyaknya konflik Harimau Sumatera dan manusia.

"Ini harus jadi perhatian, tidak mungkin kami bekerja sendirian menangani konflik ini. Karena hampir semuanya berada di luar wilayah konsesi. Kita harus bersama-sama menangani konflik," jelas dia.

BBKSDA Riau, kata dia, juga melakukan berbagai langkah untuk mencegah kepunahan habitat Harimau Sumatera. Yaitu dengan menggelar Operasi Satu Jerat, yang sudah dimulai beberapa waktu lalu.

Bahkan tim BBKSDA Riau menemukan ada sekitar 170 jerat yang ditemukan di 8 lokasi, saat melaksanakan Operasi Satu Jerat dalam beberapa bulan terakhir. Langkah strategis BBKSDA Riau dalam penanganan konflik Harimau Sumatera yaitu adanya dukungan dari media massa.

"Kami melakukan upaya edukasi secara positif. Karena apa pun dilakukan teman-teman di lapangan, pada saat tidak merangkul media untuk menyampaikan, maka tidak ada efek langsung ke masyarakat," ucapnya.

Selain itu, mereka juga berharap mendapat dukungan dari pemerintah untuk menyediakan Pusat Konservasi Harimau Sumatera di Riau. Bahkan BBKSDA Riau sudah melakukan penandatanganan kerjasama dengan Yayasan Atsari Djojohadikusumo.

Di Pusat Konservasi Harimau Sumatera di Kabupaten Siak Riau ini, nantinya akan menjadi tempat belajar Harimau Sumatera, edukasi pendidikan bagi peneliti dan lainnya dengan tingkat keamanan yang maksimal. [ded]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Harimau Sumatera
  3. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini