Letusan Merapi diprediksi bentuk kubah lava baru
Merdeka.com - Aktivitas kegunungapian Gunung Merapi mengalami peningkatan belakangan ini. Beberapa kali letusan terjadi sejak 11 Mei hingga 24 Mei.
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) memprediksi letusan Gunung Merapi yang terjadi pada 21 hingga 24 Mei akan membentuk kubah lava. Prediksi ini dilihat dari adanya indikasi pergerakan magma yang sangat lamban menuju ke permukaan.
"Ada kemungkinan akan membentuk kubah lava. Letusan Gunung Merapi dari tanggal 21-24 Mei cenderung berkarakter efusif (lelehan magma)," ujar Kepala BPPTKG, Hanik Humaida, Jumat (25/5).

Kepala BPPTKG Yogyakarta Hanik Humaida ©2018 Merdeka.com
Hanik menjelaskan karakter letusan efusif ini dilihat dari sejumlah indikasinya. Diantara hampir tidak ada deformasi. Seandainya ada deformasinya sangatlah sedikit.
"Hampir tidak ada deformasi. Artinya apa? si magma ini menuju ke permukaan pelan sekali. Artinya itu (magma) encer nanti akan menuju ke permukaan dengan (kondisi) meleleh," urai Hanik.
Meskipun letusan Gunung Merapi menuju ke magmatik, Hanik meminta masyarakat tidak panik. Hanik menyimpulkan letusan Gunung Merapi yang terjadi belakangan ini tak berbahaya.
"Saya sudah bilang, jangan dibayangkan kalau kita menyebut magmatik itu seperti erupsi Gunung Merapi tahun 2010. Saya kemarin sudah menyampaikan bahwa tahun 2007 di Kelud yang hanya membentuk kubah lava itupun juga (erupsi) magmatik, artinya apa? Magma yang dari dalam menuju ke permukaan," jelas Hanik.
Hanik menambahkan pihaknya terus melakukan pemantauan terhadap Gunung Merapi. Bahkan pemantauan dilakukan secara intensif selama 24 jam.
"Kami (BPPTKG) terus memantau perkembang kondisi Gunung Merapi. Jika ada perkembangan lebih lanjut akan kami sampaikan ke publik," tutup Hanik.
(mdk/noe)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya