Lebih dari 70 Negara Bergabung dalam Pusat Komando Sipil-Militer AS untuk Gaza

Pusat Komando Sipil-Militer AS di Gaza berhasil menarik partisipasi lebih dari 70 negara, menunjukkan peningkatan signifikan dalam penyaluran bantuan kemanusiaan dan perbaikan kondisi warga.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Lebih dari 70 Negara Bergabung dalam Pusat Komando Sipil-Militer AS untuk Gaza
Pusat Komando Sipil-Militer AS di Gaza berhasil menarik partisipasi lebih dari 70 negara, menunjukkan peningkatan signifikan dalam penyaluran bantuan kemanusiaan dan perbaikan kondisi warga. (AntaraNews)

Washington, D.C. – Lebih dari 70 negara telah menyatakan partisipasi aktif dalam Pusat Komando Sipil-Militer Amerika Serikat (AS) untuk Jalur Gaza. Pengumuman penting ini disampaikan oleh Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Mike Waltz, pada Kamis lalu, dalam pertemuan perdana Board of Peace (Dewan Perdamaian) di United States Institute of Peace di Washington.

Keterlibatan internasional yang luas ini bertujuan untuk mengoordinasikan dan meningkatkan upaya penyaluran bantuan kemanusiaan ke wilayah Palestina yang sangat membutuhkan. Inisiatif ini menandai komitmen global dalam mengatasi krisis kemanusiaan yang berkepanjangan di Gaza.

Waltz menyoroti hasil konkret dari kolaborasi ini, termasuk peningkatan drastis dalam jumlah bantuan yang berhasil masuk ke Gaza. Keberhasilan ini menunjukkan efektivitas pendekatan sipil-militer dalam situasi konflik.

Duta Besar AS Mike Waltz mengonfirmasi bahwa lebih dari 70 negara kini menjadi bagian dari Pusat Komando Sipil-Militer AS, sebuah langkah strategis untuk mengoptimalkan distribusi bantuan. Pernyataan ini disampaikan dalam forum Dewan Perdamaian yang baru dibentuk, menekankan pentingnya kerja sama lintas negara.

Dewan Perdamaian sendiri diumumkan pembentukannya pada Januari oleh Presiden AS Donald Trump, yang kala itu mengundang sekitar 50 negara untuk bergabung. Kehadiran lebih dari 70 negara menunjukkan respons positif dan dukungan luas terhadap upaya stabilisasi di Gaza.

Partisipasi beragam negara ini mencerminkan konsensus internasional mengenai urgensi penanganan krisis kemanusiaan di Jalur Gaza. Ini juga menjadi platform penting untuk koordinasi global dalam menghadapi tantangan yang kompleks.

Waltz melaporkan adanya peningkatan signifikan dalam penyaluran bantuan kemanusiaan ke Gaza, dengan rata-rata 4.200 truk bantuan berhasil masuk setiap pekan selama 13 pekan berturut-turut. Periode ini merupakan rentang terpanjang penyaluran bantuan skala besar ke Jalur Gaza dalam beberapa tahun terakhir.

Selain itu, pengalihan bantuan telah menurun drastis hingga kurang dari satu persen pada bulan ini, menandakan efisiensi dan keamanan yang lebih baik dalam proses distribusi. Hal ini memastikan bantuan mencapai tangan mereka yang paling membutuhkan.

Secara keseluruhan, upaya bantuan ini telah berhasil menjangkau seluruh 2,1 juta warga Gaza, sebuah peningkatan lima kali lipat dibandingkan tingkat pengiriman sebelum gencatan senjata. Ini menunjukkan skala operasi yang masif dan dampaknya yang luas.

Hingga Februari, data menunjukkan adanya perbaikan nyata dalam kondisi hidup warga Gaza. Persentase rumah tangga yang mengalami kelaparan parah telah menurun signifikan dari sekitar 30 persen menjadi hanya satu persen.

Ketersediaan air minum juga meningkat dua kali lipat, sebuah pencapaian krusial mengingat kebutuhan dasar air bersih. Peningkatan ini berkontribusi besar terhadap kesehatan dan kebersihan masyarakat.

Lebih lanjut, angka malnutrisi anak di wilayah tersebut telah berkurang hingga setengahnya, menunjukkan dampak positif dari bantuan nutrisi yang disalurkan. Ini adalah indikator penting keberhasilan program kemanusiaan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi