Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Lawan adegan hot dan vulgar dengan film berkualitas

Lawan adegan hot dan vulgar dengan film berkualitas suzana sundel bolong. merdeka.com/wordpress.com

Merdeka.com - Perfilman Indonesia sebenarnya sudah bangkit. Hal itu terlihat dari meningkatnya jumlah film yang diproduksi serta beragamnya jenis film yang dibuat. Sayang dalam perjalanannya, film-film yang diproduksi di Tanah Air lebih banyak yang bergenre horor. Parahnya, film horor yang disugukan saat ini lebih menonjolkan daya sensualitas para pemainnya saja bukan esensi film itu sendiri.

Menurut sutradara muda berbakat Hanung Bramantyo, hanya ada satu cara untuk melawan film-film seperti itu yaitu dengan memproduksi film berkualitas. Berkualitas tidak dari hanya dari segi sinematografinya saja melainkan isinya.

"Ya mau gimana lagi. Satu-satunya cara ya dilawan dengan membuat film yang berkualitas," tegas Hanung dalam perbicangannya dengan merdeka.com, Minggu (29/4).

Hanung menambahkan, sebenarnya cukup banyak film karya anak negeri yang jauh lebih berkualitas ketimbang film-film horor tersebut. Namun, film yang mempunyai kualitas tersebut justru dipandang sebelah mata.

"Film Modus Anomali nya Joko Anwar itu kan film horor, tapi beda. Sayangnya, tidak didukung, sementara horor-horor yang berbau porno kok didukung banget sama media, khususnya infotainment," ujar sutradara yang pertama kali memproduksi film di tahun 2001 ini.

Stigma masyarakat Indonesia terhadap film di Indonesia itu sudah kadung terbentuk jelek yaitu cenderung berbau horor dan porno. Oleh karena itu, Hanung mengajak para sineas bekerja keras untuk mengubah stigma tersebut dengan melakukan perubahan.

"Harus ada angin segar seperti film The Raid, yang bisa membawa perubahan," harap Hanung.

Dari kacamata Hanung, sebenarnya tidak ada perbedaan antara film horor yang diproduksi zaman dulu dengan yang diproduksi saat ini. Yaitu sama-sama menunjukkan sisi erotisme.

"Untuk yang sekarang lebih eksploratif saja. Film horor dulu kaya Nyi Blorong kan juga menunjukkan erotisme, tapi erotisme Jawa, dan settingan nya juga settingan tahun dulu. Sekarang tuh bedanya cuma lebih berekplorasi aja, misalnya dengan mendatangkan bintang film luar. Itu aja bedanya," tambah pria pernah mengenyam pendidikan di Jurusan Film, Fakultas Film dan Televisi, Institut Kesenian Jakarta.

Terkait meledaknya antusiasme khalayak terhadap film horror yang lebih menjual sensualitas, Hanung menuturkan itu bukanlah siapa-siapa. Karena berbicara soal film tentu bicara soal selera seseorang.

"Susah kalau nyari siapa yang salah. Karena film itu soal selera. kaya musik KPop aja, kan kita nggak bisa salahkan ABG keranjingan sama KPop kan. Sebetulnya problemnya adalah, ketika ada budaya luar masuk, sementara infrastrukturnya tidak siap, maka kita akan jadi konsumer saja," jelas pria yang memiliki nama lengkap Setiawan Hanung Bramantyo. (mdk/ian)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP